SUMUT POS- Umat Islam di Tanah Air terbiasa melakukan niat puasa Ramadan setiap malam. Ada pula yang bertanya apakah niat puasa Ramadan cukup dilakukan sekali untuk sebulan penuh pada hari pertama Ramadan?
Bagaimana penjelasan ulama tentang hal ini?
Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hal ini. Ada ulama yang membolehkan, namun ada juga yang mengharuskan niat setiap malam untuk pelaksanaan ibadah puasa Ramadan keesokan harinya.
Mayoritas ulama dari Mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali, berpendapat bahwa niat puasa Ramadan harus dilakukan setiap malam sejak waktu Maghrib hingga sebelum terbit fajar. Itu artinya, setiap hari puasa Ramadan memiliki niat tersendiri.
Di Indonesia, praktik niat puasa harian ini lumrah diamalkan oleh umat Islam karena mayoritas umat Islam mengikuti mazhab Syafi’i.
Niat diharuskan setiap malam sebagai pembeda antara puasa wajib dengan puasa sunnah. Tanpa niat yang jelas, ibadah puasa dikhawatirkan tidak sah.
Adapun mazhab Maliki memiliki pandangan berbeda, membolehkan niat puasa Ramadan cukup dilakukan sekali pada awal bulan Ramadan untuk mencakup satu bulan penuh.
Kita sebaiknya melakukan niat setiap malam untuk pelaksanaan ibadah puasa Ramadan keesokan harinya.
Namun berhubung malam ini adalah hari pertama puasa Ramadan, sebaiknya kita juga niat puasa Ramadan untuk satu bulan penuh.
Seandainya ada hari dimana kita lupa melakukan niat puasa Ramadan, ibadah puasa Ramadan kita tetap sah.
Imam al-Qulyubi dalam kitabnya menyatakan, sunnah hukumnya melakukan niat satu bulan penuh pada awal Ramadan selain wajib melakukan niat puasa harian.
Hal itu sebagai langkah antisipatif apabila ada hari dimana kita lupa tidak niat puasa.
Berikut kutipan pernyataannya, sebagaimana dilansir dari NU Online.
“Disunahkan pada malam pertama bulan Ramadhan untuk niat berpuasa sebulan penuh untuk mengambil manfaat dari pendapat Imam Malik pada suatu hari yang lupa untuk berniat di dalamnya. Karena beliau menganggap niat tersebut mencukupi bila lupa niat pada malam-malam berikutnya di semua malam Ramadhan.” (Hasyiyah Al-Qulyubi, II/66). (bbs/ram)
Editor : Juli Rambe