Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Piutang Pinjol Terus Tumbuh, Kini Capai Rp78 Triliun

Juli Rambe • Rabu, 5 Maret 2025 | 10:00 WIB
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Keuangan Lainnya (PVML) OJK, Agusman. (Dok: OJK).
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Keuangan Lainnya (PVML) OJK, Agusman. (Dok: OJK).

 

JAKARTA, SUMUTPOS.CO- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan angka outstanding (piutang) di industri fintech P2P lending atau pinjaman online (pinjol) terus tumbuh, per Januari 2025 berada di angka Rp78 triliunan.

“Pada industri P2P lending, outstanding pembiayaan di Januari 2025 tumbuh 29,94 persen (yoy) menjadi Rp78,50 triliun,” kata Kepala Eksekutif Pengawas PVML OJK Agusman dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner (RDK) Februari 2025 yang digelar secara daring, Selasa (4/3/2025).

Berdasarkan data OJK, angka outstanding pembiayaan pada industri P2P lending terus mengalami kenaikan, setidaknya dalam dua tahun terakhir. 

Tercatat, pada Desember 2022, angka piutang pinjol sebesar Rp51,12 triliun, lalu naik pada Desember 2023 sebesar Rp59,64 triliun.

Berlanjut pada Januari 2024 menjadi Rp60,42 persen, kemudian pada Desember 2024 mengalami kenaikan 29,14 persen menjadi Rp77,02 triliun. Dan di awal 2025 ini berada di angka Rp78,50 triliun.

Sementara itu, secara umum OJK mencatat, piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan mengalami pertumbuhan 6,04 persen pada Januari 2025 menjadi Rp504,33 triliun. Angka rasio NPF bruto mencapai 2,96 persen dan angka NPF netonya 0,93 persen. Sedangkan gearing ratio perusahaan pembiayaan pada Januari 2025 turun menjadi 2,21 kali dari Desember 2024 sebanyak 2,31 kali, sehingga masih berada di bawah batas maksimum sebesar 10 kali.

Adapun, pertumbuhan pembiayan modal ventura di Januari 2025 terkontraksi 3,58 persen (yoy) menjadi Rp15,81 triliun, dari angka pada Desember 2024 sebesar 15,84 triliun.

“Risiko kredit macet TWP 90 dalam kondisi terjaga stabil di 2,52 persen. Di Desember 2024 sebesar 2,60 persen,” ujarnya.

Agusman melanjutkan, untuk pembiayaan buy now pay later (BNPL), pertumbuhan pembiayaan meningkat 41,9 persen (yoy) menjadi Rp7,12 triliun dengan angka NPF bruto 3,37 persen. (bbs/ram)

Editor : Juli Rambe