Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

BI Jaga Rupiah di Kisaran Rp 16.600 – Rp 16.800 per USD Lewat Operasi Pasar

Johan Panjaitan • Sabtu, 27 September 2025 | 16:00 WIB

BANK INDONESIA (perumperindo)
BANK INDONESIA (perumperindo)

JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com-Nilai tukar rupiah kembali mendapat tekanan dalam beberapa hari terakhir. Rupiah tercatat mengalami depresiasi lebih dalam dibandingkan sejumlah mata uang negara berkembang lainnya. Hingga pukul 15.05 WIB, Jumat (26/9/2025), Bloomberg Market Spot Rate mencatat rupiah berada di level Rp 16.738 per USD. Sehari sebelumnya, Kamis (25/9), rupiah melemah 0,44 persen ke Rp 16.750 per USD.

Secara akumulasi, rupiah sudah terdepresiasi 4,02 persen sepanjang tahun ini. Untuk menjaga stabilitas, Bank Indonesia (BI) menargetkan nilai tukar tetap berada di kisaran Rp 16.600 – Rp 16.800 per USD dalam satu bulan ke depan.

Baca Juga: Ketua DPRD Dairi Ajak Semua Pihak Sukseskan Pemilihan Rektor USU 2025

Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan komitmen bank sentral dalam menggunakan seluruh instrumen stabilisasi. “Di pasar domestik melalui instrumen spot, domestic non-deliverable forward (DNDF), dan pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder. Maupun di pasar luar negeri di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat secara terus menerus melalui intervensi NDF (non-deliverable forward),” jelas Perry di Jakarta, Jumat (26/9).

Ia juga mengajak pelaku pasar menjaga iklim keuangan yang kondusif agar stabilitas nilai tukar rupiah tetap terjaga.

Kebijakan Moneter Dinilai Terlalu Agresif

Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menilai intervensi BI menggunakan cadangan devisa merupakan strategi paling cepat menahan pelemahan rupiah dalam jangka pendek. Namun, ia menyoroti kebijakan moneter BI yang dianggap terlalu agresif menurunkan suku bunga.

Sejak September 2024, BI telah memangkas suku bunga acuan sebesar 150 basis poin menjadi 4,75 persen. Sementara itu, The Federal Reserve (The Fed) baru menurunkan 25 bps dan diperkirakan hanya akan memangkas dua kali lagi ke depan.

Baca Juga: UMSU dan Muhammadiyah Anugerahi Gelar Kehormatan kepada Raja Muda Perlis

Perbedaan kebijakan ini membuat selisih antara Fed Funds Rate dan BI rate makin sempit, sehingga berpotensi menambah tekanan terhadap nilai tukar dan inflasi. “Jadi ini yang mungkin akan berdampak kepada risiko nilai tukar dan inflasi,” ujar Rully.

Risiko dari Suplai Rupiah

Selain faktor kebijakan moneter, suntikan dana Rp 200 triliun dari Kementerian Keuangan ke sistem perbankan dinilai turut meningkatkan suplai rupiah secara signifikan. Jumlah uang beredar yang terlalu besar berisiko menekan harga rupiah di pasar.

“Saya rasa memang rupiah menjadi salah satu yang mengalami depresiasi paling dalam di beberapa hari terakhir,” tambah Rully.

Editor : Johan Panjaitan
#mata uang #nilai tukar #depresiasi