MEDAN, SUMUT POS- Arus kedatangan penumpang kapal laut di Pelabuhan Belawan, mulai mengalami peningkatan menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2026.
Kepala PT PELNI Cabang Medan, Harianto Sembiring, menyebutkan bahwa pada 21 Desember tercatat sekitar 3.456 penumpang tiba atau turun di Pelabuhan Belawan.
“Data penumpang ini selalu kami informasikan kepada pihak terkait seperti Pelindo, Syahbandar, dan Posko Terpadu, sebagai bagian dari koordinasi arus Natal,” ujar Harianto saat memberikan keterangannya, Senin (22/12/2025).
Sementara itu, untuk keberangkatan pada Rabu, 24 Desember mendatang, jumlah penumpang yang telah terdaftar hingga saat ini baru sekitar 1.300 orang. Meski demikian, angka tersebut masih berpotensi bertambah.
“Target kami sekitar 3.000 penumpang sudah sangat bagus, apalagi dengan kondisi saat ini yang juga dipengaruhi faktor bencana di sejumlah daerah,” jelasnya.
Kapal dijadwalkan berangkat pada hari Rabu sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Harianto mengatakan bahwa mayoritas penumpang tetap menunjukkan preferensi kuat terhadap KM Kelud, meskipun tersedia kapal bantuan lain seperti KM Ngapulu atau KM Gampul yang diklaim memiliki fasilitas lebih baik.
Pada 21 Desember, KM Kelud tercatat mengangkut sekitar 2.200 hingga 2.300 penumpang, jauh lebih banyak dibandingkan kapal lain yang berlayar dua hari sebelumnya. Fenomena ini disebut sebagai kebiasaan masyarakat Sumatera yang cenderung memilih kapal yang sudah dikenal dan dianggap nyaman.
“Penumpang merasa lebih nyaman di Kelud. Itu sudah jadi kebiasaan,” ungkap Harianto.
Upaya Pelni untuk mengarahkan penumpang ke kapal bantuan melalui sosialisasi di media massa, media sosial seperti Instagram, hingga penawaran dispensasi tambahan kuota, dinilai belum membuahkan hasil signifikan. Sistem penjualan tiket yang sepenuhnya online juga membuat PELNI tidak bisa membatasi pilihan penumpang.
“Penjualan tiket ini online, jadi hak penumpang memilih kapal tidak bisa kami larang,” jelasnya.
Penjualan tiket periode 17 Desember hingga 10 Januari sendiri ditentukan berdasarkan kuota nasional dari kementerian terkait dengan sistem “siapa cepat dia dapat”, bukan ditetapkan oleh PELNI cabang.
Menanggapi kondisi tersebut, Pelni berencana melakukan sejumlah langkah evaluasi, antara lain menganalisis lebih dalam preferensi penumpang terhadap KM Kelud, meningkatkan promosi kapal bantuan, serta berkoordinasi dengan kementerian untuk mengevaluasi pembagian kuota agar distribusi penumpang lebih merata di masa puncak.
Selain itu, Pelni juga mempertimbangkan strategi insentif untuk mendorong penumpang yang menunggu KM Kelud agar mau beralih ke kapal bantuan ketika kapasitas sudah penuh, meski diakui hal tersebut tidak mudah mengingat kuatnya kebiasaan penumpang.
Di sisi lain, Pelni juga menyoroti persoalan lalu lintas dan parkir di sekitar pelabuhan yang masih kerap menimbulkan kemacetan. Pemerintah didorong untuk segera menggelar rapat koordinasi dengan SOP yang jelas, melibatkan kepolisian dan pihak terkait.
Meskipun kawasan Pelabuhan telah diarahkan sebagai kantong parkir, kemacetan masih sering terjadi. Kondisi jalan yang sempit serta belum diterapkannya sistem satu arah (one way) dinilai memperparah situasi.
“Kita sudah lama dengar rencana one way, tapi sampai sekarang belum terealisasi,” keluh salah satu pihak.
Ke depan, pemerintah diharapkan segera mengevaluasi efektivitas kantong parkir, merealisasikan sistem satu arah, serta mencari solusi konkret untuk mengatasi keterbatasan infrastruktur jalan demi kelancaran arus penumpang di Pelabuhan Belawan. (san/ram)
Editor : Juli Rambe