MEDAN, SUMUT POS- Perang antara Iran-Amerika Serikat (AS) serta Israel telah membawa petaka bagi industri penerbangan.
Kenaikan harga minyak mentah dunia yang sempat bertahan di atas USD100 per barel telah memicu kenaikan pada harga tiket pesawat. Dari hasil penelusuran, harga tiket pesawat Jakarta-Medan saat ini dijual berkisar Rp2,5 juta untuk satu kali penerbangan.
Demikian disampaikan Pengamat Ekonomi Sumatera Utara (Sumut), Gunawan Benjamin kepada Sumut Pos di Medan, Rabu (8/4).
Baca Juga: Sidang Dugaan Korupsi Proyek DJKA Medan, Lokot Nasution Hadir Eks Menhub Budi Karya Mangkir
Ia menjelaskan, salah satu yang menjadi pemicu kenaikan harga tiket pesawat adalah melonjaknya harga avtur berkisar 70 persen.
"Meski demikian pemerintah hanya membolehkan kenaikan tiket pesawat sebesar 13 persen. Di mana pemerintah memberikan sejumlah keringan dari sisi lainnya seperti insentif penyediaan suku cadang, keringanan pajak hingga penyeragaman biaya tambahan (fuel surcharge)," katanya.
Menurutnya, kenaikan harga tiket pesawat di tanah air, selain membebani industri penerbangan itu sendiri, juga akan memicu kenaikan laju tekanan inflasi, serta berpeluang memberikan tekanan pada daya beli masyarakat, menekan industri pariwisata, perhotelan, transportasi, pergudangan hingga kuliner.
"Untuk besaran laju inflasi yang diakibatkan oleh kenaikan harga tiket belakangan ini, saya menghitung nilainya tidak lebih dari 0.27 persen. Namun dampak ekonomi lain yang ditimbulkan dari kenaikan harga tiket ini memiliki multiplier efek yang besar dan berpeluang menekan sejumlah sektor usaha yang ada di semua wilayah tanah air," imbuhnya.
Gunawan menilai, harga tiket yang mahal berpeluang menekan jumlah penumpang pengguna jasa penerbangan. Dan kenaikan harga tiket secara global juga akan mengalami kenaikan. Sehingga tidak akan serta merta mengubah daya saing penerbangan lokal terhadap minat masyarakat untuk berkunjung ke luar negeri.
"Artinya karena kenaikan harg atiket ini bersifat serentak, maka daya saing penerbangan lokal maupun asing tidak mengalami perubahan," ujarnya.
Adapun, lanjutnya, potensi penurunan jumlah penumpang pada hampir semua maskapai juga akan relatif sama. Saat ini harga minyak mentah dunia sudah turun di bawah USD100 per barel.
Namun dampaknya belum akan dirasakan instan. Karena perubahan harga acuan avtur yang bersumber dari MOPS (mean of platts Singapore) juga tidak akan berubah secepat itu.
"Gencatan senjata selama dua pekan ke depan ini juga masih bersifat temporer. Menyisakan ketidakpastian yang bisa saja memperburuk kinerja maskapai ke depan. Sehingga belum bisa memastikan pemulihan industri penerbangan dalam jangka panjang," pungkasnya. (dwi/ram)
Editor : Juli Rambe