JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com– Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali terasa. Dalam perdagangan Kamis (23/4), rupiah sempat menembus level psikologis Rp17.300 per dolar Amerika Serikat (AS), sebelum akhirnya ditutup sedikit menguat di posisi Rp17.286 per USD.
Situasi ini mencerminkan dinamika pasar global yang belum sepenuhnya stabil. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa pelemahan rupiah masih bergerak searah dengan tren mata uang regional. Sepanjang tahun berjalan (year to date), rupiah tercatat melemah 3,54 persen.
“Tekanan terhadap rupiah dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian global yang juga menekan mata uang regional,” ujarnya.
Baca Juga: Michael Jackson Idap Penyakit Kulit Vitiligo yang Membuatnya Jadi Putih
Menghadapi kondisi tersebut, Bank Indonesia tidak tinggal diam. Otoritas moneter meningkatkan intensitas intervensi di berbagai lini pasar keuangan. Langkah tersebut mencakup intervensi di pasar offshore non-deliverable forward (NDF), pasar spot, domestic NDF (DNDF), hingga pembelian surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder.
Tak hanya itu, BI juga memperkuat daya tarik instrumen moneter melalui pengelolaan struktur suku bunga agar tetap kompetitif di mata investor. Upaya ini menjadi sinyal bahwa bank sentral berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal.
“Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur,” tegas Destry.
Di balik tekanan tersebut, fondasi ekonomi domestik masih relatif kokoh. Cadangan devisa Indonesia hingga akhir Maret 2026 tercatat sebesar USD 148,2 miliar—angka yang dinilai cukup kuat untuk menjaga stabilitas sektor eksternal.
Sementara itu, pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi melihat pelemahan rupiah sebagai hasil dari kombinasi sentimen global dan domestik yang saling berkelindan.
Dari sisi eksternal, ketidakpastian geopolitik di kawasan Timur Tengah terus membayangi pasar. Risiko gangguan distribusi minyak di jalur vital seperti Selat Hormuz dan Laut Oman meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar. Potensi terganggunya pasokan energi global membuat investor cenderung beralih ke aset aman berbasis dolar AS.
Di sisi lain, arah kebijakan Federal Reserve yang belum sepenuhnya jelas turut memperkuat tekanan. Ketidakpastian ini mendorong arus modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Faktor domestik juga tak kalah berpengaruh. Kenaikan harga minyak dunia—dengan Brent di kisaran USD 103 per barel dan WTI sekitar USD 98 per barel—menambah beban bagi rupiah. Sebagai negara pengimpor minyak, meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk memenuhi impor energi secara otomatis memperbesar tekanan terhadap mata uang domestik.
Meski demikian, langkah intervensi Bank Indonesia dinilai cukup efektif dalam meredam gejolak yang lebih dalam. Stabilitas tetap terjaga, meski tekanan belum sepenuhnya mereda.
“Intervensi BI cukup mumpuni untuk menahan tekanan lebih lanjut,” ujar Ibrahim. (jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan