Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Emas dan Pangan Dorong Inflasi April, Ancaman Energi Global Mengintai Kuartal II

Johan Panjaitan • Selasa, 5 Mei 2026 | 10:15 WIB
Inflasi April 2026 sebesar 2,42 persen didorong harga pangan dan emas, dengan risiko tekanan lanjutan dari kenaikan energi global.(net)
Inflasi April 2026 sebesar 2,42 persen didorong harga pangan dan emas, dengan risiko tekanan lanjutan dari kenaikan energi global.(net)

 

JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com- Laju inflasi Indonesia pada April 2026 mencerminkan dinamika yang tak sederhana. Di satu sisi, angkanya masih terkendali dalam koridor kebijakan. Di sisi lain, komposisi tekanan harga memberi sinyal kewaspadaan. Data Badan Pusat Statistik mencatat inflasi tahunan (year-on-year/YoY) sebesar 2,42 persen—naik seiring pergerakan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,47 pada April 2025 menjadi 111,09 pada April 2026.

Di balik angka tersebut, dua kekuatan utama menjadi pendorong: pangan dan emas perhiasan. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, mengungkapkan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi 3,06 persen dengan andil terbesar, yakni 0,90 persen. Komoditas seperti ikan segar, daging ayam ras, beras, minyak goreng, hingga sigaret kretek mesin menjadi kontributor utama.

Baca Juga: Bupati Batubara Dorong Sinergi Akademisi dan Alumni KPI, Dari Gagasan ke Aksi Nyata Pembangunan

Namun, tekanan tak berhenti di dapur rumah tangga. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya justru mencatat lonjakan paling tinggi—11,43 persen—dengan andil 0,77 persen, yang didorong kuat oleh kenaikan harga emas perhiasan. Fenomena ini menegaskan bahwa inflasi tidak hanya dipicu kebutuhan dasar, tetapi juga instrumen lindung nilai yang kerap diburu saat ketidakpastian meningkat.

Dari sisi komponen, inflasi inti tercatat 2,44 persen dengan kontribusi dominan 1,56 persen. Selain emas, faktor pendorongnya meliputi minyak goreng, nasi dengan lauk, serta biaya pendidikan tinggi. Sementara itu, komponen harga bergejolak mengalami inflasi 3,37 persen—dipicu komoditas pangan seperti daging ayam dan telur—dan harga yang diatur pemerintah naik 1,53 persen, terutama akibat tarif angkutan udara dan rokok.

Secara spasial, inflasi menjalar merata ke seluruh provinsi. Papua Barat mencatat tekanan tertinggi sebesar 5 persen, sedangkan Lampung menjadi yang terendah dengan 0,53 persen. Pada level bulanan, 30 provinsi mengalami inflasi, sementara delapan lainnya mencatat deflasi—indikasi bahwa tekanan harga mulai mengalami normalisasi pasca momentum Lebaran.

Baca Juga: Arsenal vs Atletico Madrid: Misi Tak Terkalahkan Menuju Final Liga Champions

Meski masih berada dalam target Bank Indonesia, struktur inflasi saat ini menyimpan dilema kebijakan. Ruang pelonggaran moneter menjadi terbatas di tengah kebutuhan menjaga pertumbuhan ekonomi. Terlebih, tekanan eksternal belum mereda.

Kenaikan harga energi global menjadi faktor yang patut diwaspadai pada kuartal II. Dampaknya tidak hanya langsung pada biaya energi, tetapi juga merambat ke ongkos distribusi dan harga barang konsumsi. Jika tren ini berlanjut, tekanan terhadap inflasi inti berpotensi semakin kuat.(jpg/han)

Editor : Johan Panjaitan
#emas #pangan #kuartal ii #inflasi