JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com– Tekanan dari pasar global diperkirakan masih akan membayangi pergerakan pasar keuangan domestik sepanjang pekan ini. Pelemahan bursa saham Amerika Serikat atau Wall Street menjadi alarm bagi investor setelah lonjakan harga minyak, kekhawatiran inflasi, hingga kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS kembali memicu aksi jual di pasar global.
Kondisi tersebut turut menyeret sentimen di pasar domestik, termasuk terhadap IHSG yang masih bergerak dalam tekanan.
Praktisi pasar modal Hans Kwee menilai, ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga oleh bank sentral AS, Federal Reserve, mulai memudar. Inflasi AS yang bertahan tinggi membuat pelaku pasar kembali khawatir kebijakan suku bunga tinggi akan berlangsung lebih lama.
Situasi itu diperparah oleh lonjakan harga energi akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda mereda.
“Daya beli masyarakat juga masih kuat meski ada tekanan kenaikan harga energi,” ujar Hans, Minggu (17/5).
Baca Juga: Arsenal Dituntut Lebih Rakus, Burnley Bisa Jadi Pelampiasan The Gunners
Menurutnya, perhatian investor global pekan ini akan tertuju pada rilis notulen rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed serta data Purchasing Managers’ Index (PMI) Amerika Serikat. Kedua data tersebut dinilai bakal menjadi penentu arah kebijakan suku bunga AS ke depan.
Pasar bahkan mulai menghitung kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed pada Desember 2026 dengan probabilitas mencapai 40 persen. Jika itu terjadi, arus modal asing berpotensi semakin deras keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dari dalam negeri, tekanan terhadap ekonomi nasional juga belum sepenuhnya mereda. Sejumlah lembaga pemeringkat global dilaporkan menurunkan outlook surat utang Indonesia. Di saat bersamaan, nilai tukar rupiah sempat melemah hingga mendekati level Rp17.500 per dolar AS menjelang libur panjang.
Hans menilai penguatan rupiah belakangan ini masih terbatas dan cenderung ditopang intervensi Bank Indonesia. Karena itu, pasar memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan mendatang demi menjaga stabilitas nilai tukar dan arus modal.
Baca Juga: Bahasa Inggris Wajib di SD Mulai 2027, Pemerintah Siapkan Generasi Hadapi Persaingan Global
“IHSG berpeluang konsolidasi menguat dengan support di level 6.700 sampai 6.600 dan resistance di level 6.800 sampai 6.977,” katanya.
Sementara itu, perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia selama periode 11–13 Mei 2026 ditutup di zona merah. Tekanan jual investor asing membuat mayoritas indikator perdagangan melemah.
Sekretaris Perusahaan BEI Kautsar Primadi Nurahmad menjelaskan, IHSG terkoreksi 3,53 persen menjadi 6.723,320 dibanding posisi pekan sebelumnya di level 6.936,396.
Tak hanya itu, kapitalisasi pasar BEI juga menyusut cukup dalam.
“Kapitalisasi pasar BEI turun 4,68 persen menjadi Rp11.825 triliun dibanding Rp12.406 triliun pada pekan sebelumnya,” ujarnya.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan