Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

USD Diprediksi Sentuh Rp20 Ribu Akhir Juni

Juli Rambe • Rabu, 20 Mei 2026 | 01:00 WIB
BANK INDONESIA (perumperindo)
BANK INDONESIA (perumperindo)

 

JAKARTA, SUMUT POS— Tekanan terhadap rupiah diprediksi belum mereda dalam waktu dekat. Bahkan, Center of Economics and Law Studies (Celios) memproyeksikan kurs rupiah berpotensi menyentuh level Rp20.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir Juni 2026 apabila pemerintah gagal memperbaiki fundamental ekonomi domestik.

Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira menegaskan, pelemahan nilai tukar yang terjadi saat ini tidak lagi didominasi oleh guncangan eksternal (external shock), melainkan telah bergeser ke arah persoalan struktural di dalam negeri.

Sifat pelemahan yang persisten ini menjadi indikator kuat adanya keraguan pasar terhadap manajemen fiskal dan tata kelola ekonomi nasional.

Baca Juga: Iran Siap Ambil Risiko Apapun untuk Hadapi AS dan Israel

“Akhir Juni, rupiah Rp20.000 itu tidak terelakkan. Proyeksi yang memang masih sangat moderat itu Rp20.000,” ujar Bhima di Jakarta, kemarin (17/5).

Menurut analisis Celios, salah satu pemicu utama merosotnya kepercayaan investor adalah ketidakpastian seputar arah kebijakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 yang dinilai terlalu ekspansif dan kurang realistis. Selain itu, belum dipublikasikannya laporan keuangan Badan Pengelola Investasi Danantara turut memperlebar ruang spekulasi negatif di kalangan pelaku pasar modal dan valuta asing.

Bhima mengkritik sikap otoritas yang terkesan mengabaikan realitas di lapangan melalui narasi-narasi positif yang tidak sinkron dengan kondisi riil. “Pemerintah terkesan denial, seolah-olah uangnya ada. Selalu meninabobokan dan membuat narasi positif. Padahal situasinya sekarang sebenarnya sudah penuh tekanan,” katanya secara terbuka.

Dampak Sistemik dan Desakan Reshuffle Kabinet

Tekanan terhadap mata uang nasional bukan sekadar angka di papan bursa, melainkan memiliki efek rambatan (spillover effect) yang nyata terhadap struktur sosial-ekonomi masyarakat. Depresiasi yang terlalu dalam dipastikan bakal mendongkrak biaya produksi sektor industri akibat ketergantungan pada bahan baku impor (imported inflation). Kondisi ini, jika dibiarkan, berisiko memicu gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal, kenaikan ongkos transportasi, hingga lonjakan biaya hidup masyarakat urban.

Memburuknya sentimen juga diperparah oleh berkembangnya isu mengenai potensi keluarnya Indonesia dari sejumlah indeks pasar saham global terkemuka, seperti Financial Times Stock Exchange (FTSE) dan Morgan Stanley Capital International (MSCI). Menanggapi situasi darurat ini, Celios mendesak Presiden untuk segera mengambil langkah politik-ekonomi yang radikal demi menyelamatkan stabilitas makroekonomi.

“Harus segera ada reshuffle (tim ekonomi kabinet). Arah APBN juga harus dilakukan rasionalisasi berdasarkan tingkat urgensi. Kalau itu tidak dilakukan, rupiah akan terus melemah,” tambah Bhima.

Ia juga menyanggah tesis Bank Indonesia (BI) yang menyebutkan, pelemahan rupiah pada periode April—Juni ini hanyalah fenomena musiman (seasonal) akibat pembayaran dividen ke luar negeri dan akan mereda pada kuartal ketiga. Fakta bahwa performa rupiah saat ini menjadi yang terlemah dibandingkan dengan mata uang negara-negara sejawat (peers) di kawasan membuktikan bahwa faktor internal jauh lebih dominan.

BI Rate Diprediksi Naik ke Level 5 Persen

Dari sudut pandang pasar finansial, pergerakan nilai tukar saat ini mencerminkan sikap defensif para investor terhadap aset-aset domestik. Pengamat mata uang, Lukman Leong, mencerminkan adanya anomali di mana rupiah tetap mengalami tekanan hebat meskipun dari sisi eksternal, indeks dolar AS (DXY) dan harga minyak mentah global sebenarnya tengah mengalami koreksi menyusul penundaan rencana aksi militer AS ke Iran.

Situasi tersebut menempatkan perhatian penuh pelaku pasar pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan merilis keputusan kebijakan moneter pada Rabu (20/5/2026). Instrumen suku bunga acuan dipandang menjadi senjata pamungkas yang paling realistis untuk membendung arus modal keluar (capital outflow).

Lukman memproyeksikan Bank Indonesia akan mengambil langkah agresif dengan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin (bps) guna memperlebar selisih suku bunga (interest rate differential) dengan bank sentral AS.

“Investor mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga acuan demi menjaga stabilitas rupiah. Diprediksi BI akan menaikkan BI rate sebesar 25 basis poin dari level saat ini 4,75 persen menjadi 5 persen,” urai Lukman. (jpg/ram)

Editor : Juli Rambe
#nilai rupiah #bank indonesia