JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com – Kondisi likuiditas perekonomian nasional menunjukkan penguatan yang semakin solid. Bank Indonesia (BI) mencatat uang beredar dalam arti luas (M2) pada Mei 2026 tumbuh 10,8 persen secara tahunan (year on year/YoY), meningkat dibandingkan April yang sebesar 9,2 persen. Dengan capaian tersebut, posisi M2 tercatat mencapai Rp10.415,9 triliun.
Kenaikan ini menandai semakin longgarnya likuiditas di sistem keuangan, seiring meningkatnya aktivitas penyaluran kredit perbankan serta menguatnya posisi aktiva luar negeri bersih.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa pertumbuhan uang beredar pada periode tersebut terutama ditopang oleh dua faktor utama, yakni ekspansi kredit dan peningkatan aset luar negeri bersih.
“Perkembangan M2 pada Mei 2026 terutama dipengaruhi oleh penyaluran kredit dan aktiva luar negeri bersih,” ujarnya.
Baca Juga: Prancis, Norwegia, dan Argentina Pastikan Tiket 32 Besar Piala Dunia 2026
BI mencatat penyaluran kredit perbankan tumbuh 10,8 persen (YoY), lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang berada pada level 9,4 persen. Sementara itu, aktiva luar negeri bersih juga mengalami penguatan dengan pertumbuhan 5,2 persen (YoY), meningkat dari 3,7 persen pada bulan sebelumnya.
Dari sisi komponen, pertumbuhan M2 ditopang oleh uang beredar sempit (M1) yang melonjak 15,3 persen (YoY), serta uang kuasi yang tumbuh 6 persen (YoY). Keduanya mencerminkan meningkatnya aktivitas transaksi dan simpanan masyarakat di tengah dinamika ekonomi yang tetap terjaga.
Di sisi lain, uang primer atau base money (M0 adjusted) pada Mei 2026 tercatat sebesar Rp2.214,6 triliun. Angka ini tumbuh 14,2 persen (YoY), relatif stabil dibandingkan April yang berada di level 14,3 persen.
Pertumbuhan uang primer tersebut terutama ditopang oleh kenaikan giro bank umum di Bank Indonesia yang tumbuh 17,4 persen (YoY), serta meningkatnya uang kartal yang beredar di masyarakat sebesar 15,8 persen (YoY).
BI menegaskan bahwa perhitungan M0 adjusted telah mempertimbangkan dampak kebijakan insentif likuiditas dalam kerangka pengendalian moneter. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara stabilitas sistem keuangan dan dorongan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga: Cristiano Ronaldo Pecahkan Rekor Dunia di Enam Edisi Piala Dunia
“Berdasarkan faktor yang memengaruhinya, pertumbuhan M0 adjusted telah mempertimbangkan dampak pemberian insentif likuiditas dalam kerangka pengendalian moneter,” jelas Denny.
Dengan tren likuiditas yang semakin longgar, ruang pembiayaan di sektor riil dinilai masih cukup terbuka, sejalan dengan upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global. (jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan