MEDAN, SUMUT POS- Misi Dagang dan Investasi antara Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur dan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara (Sumut) mencatatkan nilai transaksi mencapai Rp2,58 triliun.
Capaian tersebut disampaikan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, dalam kegiatan Misi Dagang dan Investasi yang digelar Pemprov Jawa Timur di Hotel Grand Mercure Medan, Selasa (29/9/2026).
Khofifah mengatakan, capaian transaksi tersebut tidak diperoleh secara instan. Sebelum misi dagang dilaksanakan, proses penjajakan dan pencocokan kebutuhan bisnis atau business matching telah berlangsung melalui serangkaian pertemuan dan kurasi produk.
Baca Juga: Srikandi PLN UID Sumut Dukung 35 Perempuan Kembangkan Usaha Opak di Desa Suka Raya
"Business matching ini prosesnya panjang. Rata-rata bisa sampai 10 kali pertemuan dan minimal tiga kali kurasi sebelum misi dagang dilaksanakan," ujar Khofifah.
Ia menjelaskan, tahapan tersebut menjadi bagian penting untuk mempertemukan pelaku usaha yang memiliki kebutuhan dan kapasitas produksi yang sesuai.
Khofifah mengungkapkan, salah satu sektor yang mencatatkan transaksi cukup besar dalam misi dagang tersebut adalah sektor unggas dan industri hilir peternakan.
Nilai transaksi dari sektor ini mencapai sekitar Rp1,5 triliun, mencakup komoditas daging ayam, telur, serta produk-produk turunannya.
Menurut Khofifah, tingginya transaksi tersebut menunjukkan bahwa produk peternakan asal Jawa Timur semakin mendapatkan tempat di pasar Sumatera Utara.
"Untuk sektor unggas dan turunannya, termasuk daging ayam dan telur, transaksinya mencapai Rp1,5 triliun. Ini menunjukkan bahwa produk-produk Jawa Timur mendapatkan kepercayaan dan menjadi pilihan untuk memenuhi kebutuhan pasar di Sumatera Utara," katanya.
Selain sektor peternakan, Khofifah juga menyoroti besarnya peluang perdagangan komoditas arang, baik arang kayu maupun arang batok kelapa, untuk memenuhi permintaan pasar internasional.
"Pasar untuk arang, baik arang kayu maupun arang batok kelapa, ini sangat besar. Permintaan dari pasar internasional, termasuk Jeddah, masih belum sepenuhnya bisa kita penuhi," ungkapnya.
Khofifah juga mendorong pembentukan communal branding atau merek bersama bagi produk-produk sejenis. Langkah tersebut dinilai dapat membantu pelaku usaha menghimpun produksi dalam jumlah besar sehingga lebih mudah memenuhi permintaan pembeli.
Selain itu, asosiasi usaha yang bergerak dalam bidang serupa perlu dilibatkan untuk membangun koordinasi, mulai dari pengumpulan produk hingga pemenuhan kebutuhan pengiriman.
Dengan pola tersebut, pelaku usaha skala kecil dan menengah juga berpeluang mengambil bagian dalam perdagangan berskala besar, termasuk untuk memenuhi kebutuhan ekspor.
Produk hortikultura asal Sumatera Utara turut diminati dan dibeli oleh pelaku usaha dari Jawa Timur.
Khofifah menilai, keterhubungan pasar tersebut harus terus dikembangkan agar masing-masing daerah dapat memanfaatkan keunggulan komoditas yang dimiliki.
"Jawa Timur dan Sumatera Utara ini memiliki potensi yang saling melengkapi. Produk hortikultura dari Sumatera Utara juga banyak yang dibeli oleh Jawa Timur. Artinya, kedua daerah sama-sama memiliki peluang untuk memperluas pasar," ujarnya.
Ia menambahkan, kerja sama perdagangan antardaerah dapat menjadi salah satu cara untuk memperkuat jaringan distribusi produk dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pasokan dari wilayah lain. (san/ram)
Editor : Juli Rambe