sumutpos.jawapos.com - Belakangan kata "grooming" marak dibincangkan setelah artis Aurelie Moeremans mengaku pernah menjadi korban.
Apa sebenarnya grooming itu? Mengapa pelakunya terkesan sangat jahat?
Melansir Saprea, Rabu (14/1/2026), grooming merupakan teknik yang dilakukan orang dewasa untuk memanipulasi pikiran anak.
Eksploitasi atau pelecehan seksual anak jadi tujuan utamanya dan grooming kerap berlangsung secara halus, bertahap, dan sulit dikenali sejak awal.
Para pelaku grooming tidak selalu tampil mengancam, justru sering terlihat sebagai sosok yang peduli dan dapat dipercaya.
Bahkan Crimes Against Children Research Center mencatat sekitar 80 persen anak korban kekerasan seksual mengenal pelakunya.
Pelaku bisa berasal dari lingkungan terdekat, seperti keluarga, guru, pelatih, pengasuh, tokoh agama, atau figur dewasa lain yang memiliki akses dan posisi dipercaya.
Berikut ciri dan pola perilaku pelaku grooming:
1. Membangun Kedekatan Emlsional
Pelaku biasanya berusaha menjalin kedekatan emosional dengan anak.
Mereka memberi perhatian berlebih, sering memuji, meluangkan waktu khusus, atau memberi hadiah agar anak merasa 'spesial'.
Hubungan ini kerap terlihat seperti bimbingan, pertemanan, atau mentor, sehingga sulit dibedakan dari relasi yang wajar.
2. Melihat reaksi korban secara bertahap
Pelaku akan mulai menguji reaksi anak terhadap hal-hal yang melanggar batas.
Misalnya lewat candaan bernuansa seksual, permainan yang tidak pantas, atau memasuki ruang privat anak tanpa izin.
Respons anak akan dijadikan tolok ukur apakah perilaku tersebut bisa ditingkatkan.
3. Kontak fisik yang meningkat
Sentuhan biasanya dimulai dari hal yang terlihat wajar, seperti menepuk bahu atau memeluk.
Namun seiring waktu, sentuhan menjadi semakin sering dan mengarah ke bagian tubuh yang tidak pantas.
Proses ini dilakukan perlahan agar anak terbiasa dan tidak langsung menolak.
4. Memanipulasi emosional dan kontrol
Pelaku biasanya menanamkan rasa bersalah, malu, atau takut pada korban.
Mereka bisa mengatakan bahwa tidak ada yang akan percaya jika korban bercerita atau menyebut korban ikut bertanggung jawab atas apa yang terjadi.
5. Menormalkan Perilaku Seksual
Dalam beberapa kasus, pelaku mulai membicarakan pengalaman seksual, menggunakan bahasa vulgar, atau memperlihatkan konten pornografi.
Tujuannya untuk menormalkan perilaku seksual dan menurunkan kewaspadaan anak. Paparan ini sering menjadi pintu masuk menuju pelecehan yang lebih jauh.(lin)
Editor : Redaksi