JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com – Keputusan rehat sementara dari dunia akting ternyata tak sepenuhnya mengikat Luna Maya. Aktris yang dikenal lewat berbagai film horor itu justru “turun gunung” untuk proyek yang tak biasa: film zombi Zona Merah.
Dalam proyek garapan Sidharta Tata dan Fajar Martha Santosa, Luna tak hanya tampil di layar sebagai karakter Jenny, tetapi juga memegang peran strategis sebagai produser eksekutif. Sebuah posisi yang menempatkannya di balik layar—mengawal arah kreatif hingga strategi promosi film produksi Screenplay Films tersebut.
“Aku memang suka film zombi, dan juga mengikuti serial Zona Merah. Menurutku, ini properti yang punya potensi besar untuk berkembang,” ujar Luna dalam jumpa pers di XXI Senayan City, Jakarta Pusat.
Baca Juga: Kartu Merah Bastoni Jadi Kutukan, Italia Kembali Gagal ke Piala Dunia
Awalnya, Luna hanya menerima tawaran sebagai produser eksekutif—peran yang menuntutnya mengatur ritme produksi, menjalin kerja sama sponsor, hingga merancang pendekatan pemasaran. Namun, di tengah proses, tawaran untuk tampil di depan kamera datang.
Tanpa banyak pertimbangan, ia pun menerima. Bukan karena ambisi tampil, melainkan karena daya tarik genre yang jarang ia sentuh.
“Perannya kecil, syutingnya juga cuma dua hari. Jadi aku pikir, kenapa tidak?” katanya santai.
Di film ini, Luna berperan sebagai Jenny—seorang staf pemerintahan yang terlibat dalam situasi genting ketika wabah mayit hidup mulai menyerang wilayah perkotaan. Meski porsinya terbatas dibanding karakter utama seperti Aghniny Haque (Maya) dan Andri Mashadi (Risang), kehadiran Luna tetap memberi warna tersendiri.
Menariknya, Luna menegaskan bahwa keikutsertaannya bukan hasil permintaan pribadi. Semua datang secara organik dari tim produksi—dan terutama dari ketertarikannya pada genre zombi yang selama ini ia gemari.
“Aku pengen juga ngerasain dikejar zombi, atau malah jadi zombinya sekalian,” ujarnya sambil bercanda.
Baca Juga: Tsunami Terjang Halmahera Barat, Malut, Bitung dan Sulut
Film Zona Merah sendiri merupakan pengembangan dari serial dengan judul sama yang tayang di Vidio pada 2024. Jika dalam versi serial ancaman zombi masih terbatas di wilayah desa hingga kabupaten, versi layar lebar ini memperluas skala teror hingga ke pusat kota—membawa intensitas yang lebih besar, lebih brutal, dan lebih mencekam.
Bagi Luna, proyek ini juga menjadi bentuk redefinisi dari “hiatus” yang ia canangkan. Ia menegaskan bahwa rehat bukan berarti berhenti total, melainkan selektif dalam memilih proyek.
“Hiatus itu bukan berarti nggak kerja sama sekali. Aku hanya menghindari proyek panjang atau karakter yang pernah aku mainkan. Kalau sesuatu yang baru dan menarik, tentu aku pertimbangkan,” jelasnya.
Dengan langkah ini, Luna Maya menunjukkan satu hal: bahkan di tengah jeda, kreativitas tetap menemukan jalannya.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan