JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com-Totalitas dalam seni peran kerap menuntut lebih dari sekadar emosi. Hal itu dirasakan Rachel Amanda saat menjalani proses syuting film Monster Pabrik Rambut. Demi menghadirkan realisme, ia harus berhadapan langsung dengan kondisi lokasi yang keras—berdebu, pengap, dan berisiko bagi kesehatan.
Dalam film tersebut, Amanda memerankan Putri, anak seorang pekerja pabrik rambut yang terjerat dalam misteri kematian sang ibu. Untuk menghidupkan suasana, tim produksi menyulap sebuah ruangan kosong menjadi replika pabrik tua yang nyaris sempurna—lengkap dengan debu, properti usang, hingga detail ruang tinggal pekerja.
“Aku sampai merasa ini benar-benar pabrik sungguhan,” ujar Amanda saat ditemui di kantor Palari Films, Kemang, Jakarta Selatan.
Baca Juga: Tambang Batu di Pematang Siantar Ilegal, Disperindag ESDM Sumut Tekankan Legalitas dan Perizinan
Namun, realisme itu datang dengan konsekuensi. Debu yang memenuhi set sempat masuk ke mata Amanda hingga menyebabkan iritasi serius. Matanya memerah dan terasa perih, memaksanya menjalani pengobatan sebelum akhirnya pulih. Sejak itu, ia lebih berhati-hati terhadap kondisi lingkungan syuting.
Tantangan tak berhenti di situ. Sejumlah adegan malam yang diambil pada siang hari disiasati dengan menutup seluruh area syuting menggunakan kain hitam. Teknik ini memang efektif secara visual, tetapi menciptakan ruang tertutup yang panas dan pengap.
“Udara jadi terasa berat,” ungkap Amanda.
Lebih dari sekadar tantangan fisik, pengalaman ini membuka perspektif baru bagi para pemain. Dalam sesi workshop, Amanda bersama rekan-rekannya—termasuk Lutesha dan Iqbaal Ramadhan—ikut merasakan simulasi kerja di pabrik, mulai dari kondisi panas hingga proses pembuatan rambut palsu.
Baca Juga: Polsek Teluk Mengkudu Beri Bantuan untuk Korban Kebakaran di Bogak Besar
Dari sana, muncul kesadaran akan isu yang lebih besar: keselamatan dan kesejahteraan pekerja. Film ini tidak sekadar menawarkan teror, tetapi juga menyingkap sisi gelap budaya kerja yang eksploitatif.
Disutradarai oleh Edwin dan ditulis bersama Eka Kurniawan, “Monster Pabrik Rambut” mengusung horor yang tidak bertumpu pada sosok gaib. Kengerian justru lahir dari realitas—dari tekanan kerja tanpa henti yang menelan korban.
Kisah Putri dan kedua saudaranya dalam mengungkap misteri kematian sang ibu menjadi pintu masuk menuju narasi yang lebih luas: tentang manusia, sistem, dan harga yang harus dibayar.
Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia pada 4 Juni mendatang—membawa horor yang tidak hanya menghantui, tetapi juga menggugah kesadaran. (jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan