Ego Jadi Penghalang Cinta, Mario G. Klau dan Grace Kaitlin Rilis “Riuh”

Johan Panjaitan • Dipublikasikan Selasa, 1 September 2026 | 17:00 WIB
Mario G. Klau dan Grace Kaitlin. (Jawa Pos)
Mario G. Klau dan Grace Kaitlin. (Jawa Pos)

 

JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com – Mario G. Klau kembali menyapa penikmat musik melalui single terbarunya, “Riuh”. Kali ini, Mario menggandeng Grace Kaitlin untuk menghadirkan sebuah lagu yang mengangkat kisah hubungan yang perlahan berubah ketika ego, gengsi, dan perasaan yang tak pernah terucap mulai mengambil alih.

“Riuh” tidak sekadar bercerita tentang pertengkaran antara dua orang. Lagu tersebut justru membawa pendengar masuk ke ruang emosional yang lebih dalam: ketika cinta masih ada, tetapi komunikasi mulai tersumbat oleh keras kepala dan ketakutan untuk berkata jujur.

Menurut Mario, judul “Riuh” menggambarkan suara bising yang muncul dari kepala dan hati ketika seseorang memilih memendam perasaan.

Baca Juga: Djokovic Menangis, Rekor 20 Tahun Runtuh di Babak Pertama US Open

“Riuh itu suara keras kepala dari semua orang. Kadang ada banyak hal yang tidak bisa kita ungkapkan secara langsung karena ada gengsi, ego, atau rasa takut kalau hubungan itu justru berakhir ketika semuanya diucapkan,” ungkap Mario dalam rilis resmi.

Konsep tersebut menjadi kekuatan utama lagu. Alih-alih menghadirkan pertengkaran secara langsung, “Riuh” memilih menggambarkan konflik dari sisi yang lebih personal—dua orang yang sama-sama memiliki cerita, luka, dan hal-hal yang belum mampu mereka sampaikan.

Kehadiran Grace Kaitlin sebagai kolaborator pun membuat lagu ini terasa seperti percakapan emosional. Keduanya tidak sekadar berbagi bagian vokal, tetapi membawa perspektif masing-masing terhadap sebuah hubungan yang perlahan kehilangan ruang untuk saling memahami.

Menariknya, Mario dan Grace tidak memosisikan diri sebagai sepasang kekasih yang tengah bertengkar. Mereka justru hadir seperti dua orang yang sedang mengingat dan menceritakan kembali sebuah kisah hubungan.

Baca Juga: 3.048 Korban Banjir Bandang Nepal Masih Hilang, Pemerintah Kesulitan Petakan Dampak Bencana

Pilihan tersebut membuat “Riuh” terasa lebih luas. Konfliknya tidak hanya milik dua karakter dalam lagu, tetapi juga dapat menjadi cerminan bagi siapa pun yang pernah memilih diam karena ego, menahan kata-kata karena gengsi, atau takut kejujuran justru menjadi akhir dari sebuah hubungan.

Pada akhirnya, “Riuh” berbicara tentang sesuatu yang sederhana tetapi kerap sulit dilakukan: mengatakan apa yang sebenarnya dirasakan sebelum semuanya terlambat.

Mario G. Klau dan Grace Kaitlin menjadikan lagu ini bukan sekadar duet, melainkan ruang untuk mengurai perasaan yang terlalu lama disimpan—ketika cinta masih ada, tetapi suara ego justru terdengar lebih keras.(jpg/han)

Editor : Johan Panjaitan
duet grace kaitlin mario g klau merilis cinta