JAKARTA, Sumutpos.jawapos.com – Afgan Syahreza membawa sebagian pengalaman personalnya ke layar lebar melalui film Agensi Rumah Tangga. Dalam film garapan Naya Anindita yang dijadwalkan tayang 10 September mendatang, Afgan memerankan Kafka, seorang penyanyi terkenal yang dikenal sangat menjaga privasi.
Peran tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi Afgan. Meski sama-sama berprofesi sebagai penyanyi dan figur publik, Kafka memiliki karakter yang berbeda dengan dirinya.
Dalam cerita, Kafka merupakan klien sebuah agen penyalur asisten rumah tangga (ART) milik Katia, yang diperankan Enzy Storia. Situasi kemudian membawa Katia bekerja langsung di rumah Kafka.
Baca Juga: Bellingham Menggila! Real Madrid Siap Bikin Real Betis Ketar-ketir
Katia yang selama ini hanya mengenal Kafka melalui pemberitaan, media, dan panggung hiburan, akhirnya harus berhadapan dengan sosok sang idola dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi Afgan, Agensi Rumah Tangga menjadi pengalaman yang cukup berbeda. Film ini juga menjadi proyek dengan porsi akting terbesar yang pernah dijalaninya setelah sebelumnya tampil dalam Tunggu Aku Sukses Nanti yang tayang pada Idulfitri lalu.
Kedekatannya dengan Naya Anindita menjadi salah satu alasan Afgan menerima tawaran tersebut.
“Kalau Naya yang bikin film, saya percaya baguslah. Ya, kan, Nay?” ujar Afgan berseloroh saat jumpa pers di EPICENTRUM XXI, Jakarta, Rabu (2/9) malam.
Kafka Bukan Afgan
Kesamaan profesi antara dirinya dan Kafka justru tidak membuat Afgan bisa memerankan karakter tersebut dengan mudah. Ia harus menemukan sisi lain yang membedakan dirinya dengan karakter fiktif tersebut.
Baca Juga: Athletic Bilbao vs Atletico Madrid: Los Rojiblancos Siap Bikin San Mamés Terdiam
Menurut Afgan, Kafka memiliki kepribadian yang lebih terbuka dan mudah bergaul. Sementara dirinya cenderung lebih pemalu.
“Menurut saya, Kafka itu orangnya lebih outgoing. Kalau saya pemalu,” kata penyanyi 36 tahun tersebut.
Perbedaan juga terlihat dari penampilan. Afgan selama ini identik dengan gaya rapi dan preppy, lengkap dengan outer serta kemeja. Kafka justru tampil lebih santai dengan kaus dan aksesori tindik di telinga.
Namun, di balik perbedaan itu, Afgan menemukan satu titik yang membuatnya merasa sangat dekat dengan karakter Kafka: persoalan privasi.
“Iya, saya juga sangat menjaga privasi sehingga saya relate sama Kafka,” ungkapnya.
Curhat Kafka Jadi Curahan Hati Afgan
Kedekatan itu semakin terasa ketika Kafka mendapat adegan mencurahkan isi hati kepada Katia. Dalam adegan tersebut, sang penyanyi mengungkap kejenuhan dan kelelahan menghadapi kehidupan sebagai figur publik, termasuk ketika harus terus melayani permintaan penggemar untuk berfoto.
Bagi Afgan, dialog tersebut terasa sangat personal. Bukan sekadar bagian dari naskah, adegan itu justru seperti membuka sedikit pengalaman yang selama ini ia rasakan sepanjang menjalani karier sebagai penyanyi.
Baca Juga: New York Sediakan Malam Gratis untuk Orang Tua, Anak Tetap Aman
“Itu curhat saya selama 18 tahun berkarier. Sebagai penyanyi pasti ada jenuh dan lelah. Tapi saya jalani saja dengan bersyukur, bahwa saya masih bisa ngerjain semuanya,” tuturnya.
Menariknya, adegan tersebut bukan bagian dari rencana awal yang kaku. Naya justru menambahkannya secara spontan ketika proses syuting berlangsung.
Bagi Afgan, spontanitas itu menjadi salah satu keistimewaan bekerja bersama sahabat yang sudah mengenalnya secara personal.
“Ini asyiknya kerja sama sahabat. Dia tahu tentang saya dan itu bisa jadi bahan diskusi,” pungkas Afgan.
Lewat Kafka, Afgan akhirnya tidak hanya memainkan karakter seorang penyanyi terkenal. Ia juga menemukan ruang untuk menyuarakan sisi lain kehidupan seorang selebritas—tentang popularitas yang menyenangkan, sekaligus melelahkan ketika batas privasi mulai tergerus.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan