Sumutpos.jawpos.com-Dalam dunia yang serba cepat dan penuh distraksi, menjaga rumah tetap rapi bisa menjadi tantangan. Salah seorang kreator, membagikan padangannya tentang 10 kebiasaan buruk yang tidak disadari hingga membuat rumah tetap berantakan.
Inilah 10 kebiasaan buruk dari berbagai aspek decluttering—dari kesalahan umum hingga refleksi emosional yang mendalam, yang dibagikan creator tersebut dalam kanal YouTube A to Life, dan kisah pribadi yang menginspirasi:
1. Shiny Object Syndrome
Sering berpindah-pindah metode organizing, dari KonMari ke Swedish Death Cleaning, hanya akan membuat kita terus memulai tanpa pernah menyelesaikan. “Metode terbaik adalah yang kamu tekuni secara konsisten,” tegas Marissa.
2. Indecisiveness & Prokrastinasi
Clutter sering kali merupakan akumulasi dari keputusan yang tak kunjung dibuat. “Clutter adalah representasi fisik dari keputusan yang tidak diambil,” ungkapnya. Solusinya? Mulailah dari satu laci atau satu kategori, dan buat keputusan satu per satu.
3. Mementingkan Barang Lebih dari Ketenangan
Sebuah cerita lucu namun penuh makna dibagikan saat Marissa memutuskan untuk declutter dua gulung tisu toilet murah yang tidak pernah digunakan. Komentar netizen ramai, namun ia menegaskan, "Saya lebih menghargai kedamaian pikiran saya daripada dua gulung tisu kasar."
4. Menggunakan Belanja sebagai Pelarian Stres
Marissa menjelaskan bahwa stres bisa memicu kebiasaan menyimpan barang atau belanja impulsif sebagai pelarian emosi. Ia menyarankan untuk mencari mekanisme coping yang sehat seperti meditasi, terapi, atau journaling.
5. Berinvestasi untuk 'Diri Fantasi'
Menyimpan peralatan yoga yang tak pernah dipakai, atau alat baking dari mimpi masa lalu hanya menambah beban. “Simpan barang yang mendukung versi dirimu hari ini, bukan versi khayalanmu.”
6. Meletakkan, Bukan Menyimpan
Kebiasaan menaruh barang sembarangan ketimbang langsung menyimpannya menyebabkan permukaan rumah menjadi tempat 'parkir sementara'. Marissa menyarankan untuk hidup dengan prinsip: “Don’t put it down, put it away.”
7. Melakukan Segalanya Sendiri
Perempuan sering kali mengambil semua beban rumah tangga sendiri. “Kalau ingin bantuan, kita harus memintanya,” ujar Marissa. Membagi tugas adalah kunci rumah yang rapi dan hubungan yang sehat.
8. Tidak Memberi Rumah pada Barang
Barang-barang kecil seperti baterai, kabel misterius, atau pulpen cadangan bisa jadi sumber kekacauan jika tidak memiliki tempat tetap. Memberi setiap benda "rumah"-nya masing-masing akan membuat rumah berjalan lebih efisien.
9. Tidak Memiliki Kotak Kenangan yang Sehat
Kotak kenangan seharusnya menyimpan benda-benda sentimental yang benar-benar berarti, bukan menjadi tempat penampungan barang yang tak sempat dibereskan. "Kurasi isinya. Simpan yang menyentuh hati, lepaskan yang tidak."
10. Tidak Membuat Deadline Decluttering
Jika tidak dijadwalkan, proses decluttering bisa terus tertunda. “Jadwal dan batas waktu membantu niat berubah menjadi kemajuan,” katanya, mengacu pada hukum Parkinson—tugas akan memakan waktu sesuai waktu yang tersedia.
Sebagai mantan hoarder, sang creator berbicara dengan penuh empati dan kejujuran. Ia menekankan bahwa hidup bebas dari clutter bukan hanya tentang ruang fisik, tapi juga kesehatan mental dan emosional.(han)
Editor : Johan Panjaitan