Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Iuran Rp2.000 Sehari Ubah Wajah Permukiman Kumuh di Bantaran Sungai Yogyakarta

Redaksi • Senin, 22 Juni 2026 | 15:35 WIB
warga di bantaran Sungai Winongo dan Gajahwong, Yogyakarta, berhasil merenovasi 165 rumah kumuh dalam kurun waktu 20 bulan melalui gerakan iuran harian Rp2.000.(Instagram @pandemictalks)
warga di bantaran Sungai Winongo dan Gajahwong, Yogyakarta, berhasil merenovasi 165 rumah kumuh dalam kurun waktu 20 bulan melalui gerakan iuran harian Rp2.000.(Instagram @pandemictalks)

 

sumutpos.jawapos.com — Perubahan besar kerap lahir dari langkah kecil yang konsisten. Hal itu tercermin dari upaya warga di bantaran Sungai Winongo dan Gajahwong, Yogyakarta, yang berhasil merenovasi 165 rumah kumuh dalam kurun waktu 20 bulan melalui gerakan iuran harian Rp2.000.

Melansir Instagram @pandemictalks, Senin (22/6/2026), program ini dijalankan secara kolektif oleh warga di 14 kampung yang tergabung dalam Paguyuban Kalijawi. Menariknya, sebagian besar penggeraknya adalah perempuan yang berperan aktif bukan hanya sebagai peserta, tetapi juga sebagai motor penggerak perubahan di lingkungan mereka.

Salah satu inisiator, Ainun Murwani, menjadi sosok yang mendorong lahirnya kebiasaan menabung bersama setiap hari. Dari iuran kecil yang dikumpulkan secara rutin, warga kemudian membentuk dana kolektif yang digunakan untuk memperbaiki rumah-rumah yang sebelumnya tidak layak huni.

Namun, program ini tidak hanya soal pengumpulan dana. Warga juga dibekali berbagai pelatihan, mulai dari pemetaan kondisi rumah, penyusunan anggaran renovasi, hingga penataan lingkungan permukiman. Proses pendampingan ini dilakukan bersama Yayasan Arkom Indonesia, yang turut membantu warga merancang perubahan secara lebih terstruktur.

Baca Juga: Masa Pemulihan Pascabencana di Langkat Diperpanjang hingga Desember 2026

Di tingkat kampung, sistem kerja dibangun dalam kelompok-kelompok kecil agar partisipasi warga lebih merata. Setiap kelompok bertanggung jawab pada perencanaan hingga pelaksanaan perbaikan rumah, sehingga proses berjalan lebih transparan dan gotong royong.

Dampak program ini tidak berhenti pada perubahan fisik bangunan. Banyak anggota kelompok yang kini mengalami peningkatan kepercayaan diri. Mereka tidak lagi hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga mulai aktif sebagai fasilitator dan perwakilan warga dalam berbagai forum diskusi masyarakat.

Perubahan ini menunjukkan bahwa penataan kawasan permukiman tidak selalu harus bergantung pada intervensi besar. Dengan partisipasi warga, disiplin kolektif, dan pendampingan yang tepat, perubahan bertahap dapat menghasilkan dampak yang signifikan bagi kualitas hidup masyarakat.

Baca Juga: Enam Bulan Ungkap 25 Kasus Pencabulan Anak di Dairi, Kapolres Sebut Kondisi Sudah Mengkhawatirkan

Model gerakan berbasis iuran kecil ini menjadi contoh bagaimana solidaritas warga mampu menjawab persoalan permukiman kumuh, sekaligus memperkuat peran komunitas dalam membangun lingkungan yang lebih layak huni.(lin)

Editor : Redaksi
#Permukiman Kumuh #Warga Berdaya #gotong royong #renovasi rumah #yogyakarta