Mengenal Soft Living, Gaya Hidup Kalem dan Antiruwet

Redaksi • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 18:00 WIB
Ilustrasi, gaya hidup soft living cenderung lebih santai dan anti-ngoyo.(pexels.com)
Ilustrasi, gaya hidup soft living cenderung lebih santai dan anti-ngoyo.(pexels.com)

 

sumutpos.jawapos.com - Belakangan, khususnya kaum muda, banyak yang menjalani gaya hidup soft living. Apa itu dan apakah sama dengan slow living?

Kasarnya, soft living itu adalah gaya hidup yang lebih santai dan antingoyo serta kalem dan antiruwet.

Melansir Buzz Feed, Minggu (2/8/2026), soft living pada intinya fokus pada hal-hal yang sering dilupakan di tengah kehidupan serba cepat.

Yakni, mengutamakan kesadaran diri dan keseimbangan dengan cara memahami batasan. 

Fenomena ini muncul sebagai bentuk reaksi dari banyaknya pekerja muda yang mengalami burnout akibat ritme hidup yang terlampau cepat dan ambisius.

Baca Juga: Hadapi Gejala Menopause dengan Tiga Langkah Ini

Terbukti, berdasarkan data Gallup 2024, sebanyak 48 persen karyawan global mengalami burnout di tempat kerja. 

Sementara data lainnya menyebutkan 76 persen mengalami kelelahan kerja setidaknya sekali.

Burnout terjadi akibat konsep hustle culture yang mengharuskan seseorang untuk terus bekerja keras untuk mengejar berbagai pencapaian. 

Nah, dengan soft living, kamu tak perlu terus-menerus mengejar pencapaian, tak perlu juga merasa bersalah saat target tak berhasil tercapai. 

Baca Juga: Truk Muatan 11 Ton Sawit Terjun ke Sungai Aek Sosa, Sopir Selamat dari Maut

Lebih dari itu, di sini kamu menerima dan menikmati segala proses yang berjalan.

Dengan demikian, soft living tak melulu soal gaji besar, tapi juga soal hidup yang antiruwet.

Sekilas, gaya hidup ini mirip dengan konsep slow living yang belakangan juga digandrungi. Namun, keduanya berbeda.

Slow living mengajak kamu hidup lebih lambat dan mindful dengan mengubah gaya hidup secara drastis.

Contoh paling nyata adalah cerita soal seseorang yang memilih untuk menghindari kerja di perkotaan dan tinggal di desa yang dianggap lebih menenangkan. 

Baca Juga: Kejati Sumut Klaim Pembangunan Tahap I Gedung Baru Rampung 100 Persen

Di pedesaan, kehidupan berjalan lebih lambat, membuat seseorang bisa menikmati momen setiap detiknya tanpa harus dikejar deadline dan omelan atasan di kantor.

Sementara soft living masih memungkinkan kamu untuk menjalani hari-hari seperti biasa. 

Kamu tetap bisa jadi pekerja kantoran yang harus menghadapi target kerja setiap harinya. Hanya saja, kamu lebih tahu batasan. 

Dengan kata lain, soft living hanya mencakup aspek-aspek tertentu dalam kehidupan, tidak menyeluruh layaknya slow living. 

Baca Juga: Raker DPRD Medan 2026, Tekankan Transformasi Fungsi Dewan Melalui Inovasi dan Digitalisasi

Tren ini sebenarnya dimulai di Afrika, utamanya Nigeria. Istilah ini menjadi ekspresi keinginan anak muda Nigeria untuk hidup lebih ringan di tengah tata kelola negara yang buruk.

Seiring berjalannya waktu, tren ini mulai ramai di media sosial, utamanya saat pandemi Covid-19, kala dunia berjalan lebih lambat. 

Pada fase ini, banyak orang sadar bahwa hidup tak selalu harus ngebut.

Kala itu, orang-orang mulai belajar cara beristirahat, menentukan batasan, dan menjalankan rutinitas yang bikin hari terasa lebih adem.

Popularitasnya semakin menanjak saat banyak konten media sosial memamerkan gaya hidup soft life yang estetik. 

Konten-konten morning routine, journaling, dan lain sebagai ikut meramaikan tren soft living. (lin)

Editor : Redaksi
Hidup Seimbang Soft Living Slow Living Mindful Living gaya hidup