Mbah Topo dan Becak Pustaka, 80 Tahun Mengayuh Harapan Lewat Buku

Redaksi • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 17:55 WIB
Mbah Topo mengubah becak miliknya menjadi Becak Pustaka.(Instagram @cretivox)
Mbah Topo mengubah becak miliknya menjadi Becak Pustaka.(Instagram @cretivox)

 

sumutpos.jawapos.com - Di usia yang tak lagi muda, Fransiskus Xaverius Sutopo atau yang akrab disapa Mbah Topo masih menjalani aktivitas yang bagi sebagian orang mungkin sudah ditinggalkan. 

Melansir Instagram @cretivox, Kamis (6/8/2026), alih-alih menikmati masa pensiun dengan berdiam diri di rumah, pensiunan PNS asal Yogyakarta ini tetap mengayuh becaknya, membawa misi sederhana namun bermakna: mendekatkan buku kepada masyarakat.

Sejak 2004, Mbah Topo mengubah becak miliknya menjadi Becak Pustaka, sebuah perpustakaan berjalan yang membawa berbagai koleksi bacaan ke tengah masyarakat. Di dalam becak tersebut tersusun rapi beragam buku, mulai dari novel, majalah, buku pengetahuan, hingga buku resep masakan.

Baca Juga: Jump City, Taman Bermain Harapan Anak Gaza

Buku-buku itu tidak diperjualbelikan. Siapa pun boleh meminjam dan membacanya secara gratis, bahkan tanpa batas waktu tertentu. Bagi Mbah Topo, setiap buku yang berpindah tangan adalah kesempatan untuk membuka wawasan dan menumbuhkan budaya membaca.

Perjalanan Becak Pustaka pun mendapat sambutan hangat. Anak-anak sekolah menjadi salah satu kelompok yang paling antusias. Tidak jarang, mereka begitu asyik membaca hingga enggan turun dari becak. Sementara itu, para pedagang pasar juga kerap memanfaatkan koleksi buku resep untuk mencari inspirasi menu masakan.

Bagi Mbah Topo, kebahagiaan terbesar bukanlah keuntungan materi, melainkan ketika melihat orang lain menemukan manfaat dari buku yang ia bawa.

Baca Juga: Ronny Tanuwijaya: Gelar Piala Presiden 2026 Bukti Persebaya Kembali ke Jalur Juara

Meski usianya sudah lanjut, semangatnya tidak surut. Bahkan, keputusannya tetap menarik becak sempat mendapat pertentangan dari keluarga. Anak-anaknya meminta agar ia menikmati masa pensiun dan tidak lagi bekerja keras di jalan.

Namun, Mbah Topo memiliki alasan tersendiri. Baginya, aktivitas mengayuh becak bukan sekadar mencari penumpang, tetapi juga menjadi cara untuk terus berinteraksi dengan banyak orang dan berbagi ilmu.

“Anak saya bilang kan sudah dapat pensiun, enggak perlu rekoso (susah) narik becak. Tapi justru rekoso sangat bagus punya becak hidup di jalan banyak teman, dapat penumpang,” ujar Mbah Topo.

Baca Juga: DPRD Sumut Soroti Sejumlah Kejanggalan dalam Kematian Mantan Istri Polisi di Perumahan Bumi Asri

Kini, perjuangan Mbah Topo semakin mendapat dukungan. Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta memberikan bantuan berupa becak kayuh bertenaga listrik untuk membantu aktivitasnya. Meski begitu, semangat utama Becak Pustaka tetap sama: membawa buku dan menyalakan minat baca masyarakat.

Dalam kesehariannya, Mbah Topo biasanya mangkal di sekitar depan Bank BPD DIY mulai pukul 03.00 hingga 10.00 WIB. Setelah itu, ia berpindah ke kawasan depan FISIPOL UGM hingga sekitar pukul 13.00 WIB.

Di tengah perkembangan teknologi digital yang membuat banyak orang semakin jarang menyentuh buku fisik, langkah sederhana Mbah Topo menjadi pengingat bahwa literasi tidak selalu harus dimulai dari tempat besar. Kadang, sebuah becak tua yang melaju pelan di jalanan kota mampu membawa perubahan besar bagi banyak orang.

Baca Juga: Manajemen Baru RPG Beritikad Baik, Tunggu Pemulihan Aset dari Dugaan Penggelapan Rp56 M

Bagi Mbah Topo, usia bukan alasan untuk berhenti memberi manfaat. Selama masih mampu mengayuh, selama masih ada orang yang ingin membaca, Becak Pustaka akan terus berjalan membawa harapan dari satu halaman ke halaman berikutnya.(lin)

Editor : Redaksi
Literasi Indonesia Budaya Membaca Mbah Topo Becak Pustaka Inspirasi Hari Ini