Dalam cerita turun-temurun di berbagai daerah, daun kelor kerap dikaitkan dengan penangkal gangguan makhluk halus. Sebagian orang menanamnya di halaman rumah, sebagian lagi memetiknya untuk sayur, sementara tak sedikit yang menganggapnya sekadar tanaman liar yang tumbuh tanpa arti.
Tak banyak yang membayangkan, daun yang selama ini lebih akrab dengan mitos itu kini menjadi bagian dari rantai perdagangan global. Dari sebuah rumah produksi di Kota Medan, daun-daun kelor yang dahulu hanya dikenal sebagai pelengkap dapur dan cerita rakyat, kini diproses dengan standar mutu, dikemas secara higienis, lalu dikirim melintasi batas negara.
Di tangan PT Keloria Moringa Jaya, kelor tak lagi sekadar tanaman yang lekat dengan kepercayaan masyarakat. Melalui inovasi dan pemanfaatan platform digital, ia menjelma menjadi produk ekspor bernilai tinggi yang membuka pasar internasional sekaligus menghadirkan wajah baru ekonomi Indonesia dari akar yang paling sederhana.
Suara mesin pengemas terdengar bersahutan di sebuah rumah produksi sederhana di Jalan M Basir, Gang Keluarga, Kelurahan Pangkalan Masyhur, Kota Medan. Namun, sebelum berubah menjadi teh, kapsul, atau tepung, setiap helai daun kelor harus melewati serangkaian proses yang panjang dan teliti.
Daun segar terlebih dahulu dicuci hingga bersih, kemudian dikeringkan menggunakan oven bersuhu rendah, tidak lebih dari 40 derajat celsius, agar warna hijau alami dan kandungan gizinya tetap terjaga. Setelah itu, daun digiling hingga menjadi tepung halus yang siap diolah menjadi berbagai produk. Seluruh proses dilakukan berdasarkan pesanan.
Di atas meja kerja, tumpukan teh celup, kapsul, tepung, minyak biji kelor hingga aneka rempah telah tersusun rapi menunggu giliran masuk ke dalam kardus ekspor. Beberapa pekerja memeriksa satu per satu kemasan agar tak ada yang cacat. Aroma daun kelor kering bercampur jahe merah memenuhi ruangan.
Di tengah aktivitas itu, seorang perempuan berkacamata terlihat sibuk memeriksa dokumen pengiriman. Sesekali ia menghitung ulang jumlah pesanan, lalu memastikan setiap label telah sesuai dengan standar negara tujuan.
Dialah Syahrani Devi, SP, MIKom, pendiri PT Keloria Moringa Jaya. “Seluruh proses ini dilakukan berdasarkan pesanan, termasuk yang mau diekspor. Saya tidak mau menyimpan stok terlalu banyak karena ingin menjaga kesegaran produk,” ujar Syahrani Devi kepada Sumut Pos di kediamannya, Rabu (12/8/2026).
Namun, di balik kesibukannya mengurus pesanan dan menembus pasar internasional, tersimpan kisah perjuangan yang nyaris membuatnya menyerah pada hidup. Jauh sebelum nama kelor membawanya ke pasar ekspor, daun itu justru hadir dalam hidupnya ketika tubuhnya terbaring lemah.
Berawal dari Ranjang Rumah Sakit
Tahun 2013 hingga 2014 menjadi masa paling kelam dalam hidup wanita yang akrab dipanggil Devi ini. Akibat kecelakaan sepeda motor, bagian otak kirinya mengalami cedera. Bersamaan dengan itu, kadar kolesterolnya juga sangat tinggi. Kondisinya terus memburuk. Tubuhnya mudah lelah, sering kejang ketika terkena panas matahari atau kelelahan, bahkan mengalami amnesia yang membuat sebagian ingatannya menghilang. “Hampir setiap dua minggu saya dilarikan ke rumah sakit. Bahkan pernah setiap minggu saya pingsan. Saya tidak lagi bisa menjalani aktivitas seperti biasa,” kenangnya.
Obat menjadi teman sehari-hari. Namun, menurut pengakuannya, konsumsi obat dalam jangka panjang membuat kondisi ginjalnya ikut bermasalah. “Sampai ginjal saya berpasir karena terlalu banyak obat. Waktu itu saya bilang kepada suami, saya sudah tidak sanggup lagi. Saya tidak mau berobat lagi,” ujar wanita yang juga menjadi dosen di salah satu universitas swasta di Kota Medan.
Ucapan itu menjadi titik balik kehidupannya. Melihat kondisinya, sang kakak yang berprofesi sebagai dokter menyarankan agar ia mencoba pengobatan herbal. “Cobalah daun kelor,” begitu saran sederhana yang kemudian mengubah jalan hidupnya.
Awalnya, ia memakan daun kelor sebagai lalapan. Kadang direbus menjadi sayur. Namun, rasa khas kelor membuatnya eneg. Sebagai dosen pertanian, ia memilih mencari jawabannya melalui ilmu pengetahuan agar bisa mengonsumsi kelor dengan cara lain.
Ia mulai membaca berbagai jurnal ilmiah tentang Moringa oleifera atau daun kelor, mempelajari kandungan gizinya, hingga mencoba berbagai teknik pengolahan agar tetap mudah dikonsumsi tanpa kehilangan nutrisinya. Daun-daun kelor kemudian dikeringkan, dihaluskan menjadi bubuk, lalu dimasukkan ke dalam kapsul agar mudah dikonsumsi.
Selama delapan bulan, ia mengonsumsi enam kapsul setiap hari. Perubahan demi perubahan, menurut pengalamannya, mulai dirasakan. Gangguan ingatan yang selama ini dialaminya perlahan berkurang. Kejang juga semakin jarang terjadi. Begitu pula dengan insomnia yang bertahun-tahun mengganggunya.
“Dulu jam tiga pagi saya sering menangis karena ingin tidur tapi tidak bisa. Sekarang jam sembilan malam saya sudah bisa tidur nyenyak. Rasanya seperti dilahirkan kembali,” katanya dengan mata berkaca-kaca.
Dari Kapsul Rumahan Menjadi Peluang Bisnis
Perubahan kondisi fisiknya tidak berhenti sebagai cerita pribadi. Ketika kembali mengajar, kondisi Devi langsung menjadi perhatian rekan-rekannya. Mereka yang dulu menyaksikan tubuhnya lemah kini melihat sosok yang jauh lebih sehat dan bugar.
“Dulu saya lusuh, terlihat tua karena sakit. Sekarang mereka bilang saya jauh lebih muda. Mereka bertanya, ‘makan obat apa sekarang?’ Saya jawab, bukan obat. Saya hanya mengonsumsi kapsul daun kelor buatan sendiri,” kata Devi.
Jawaban itu memunculkan rasa penasaran. Satu per satu rekannya meminta dibuatkan kapsul kelor. Ada yang memesan 50 butir, ada pula yang meminta hingga 100 butir. Saat itu belum ada kemasan menarik. Kapsul hanya dimasukkan ke dalam wadah plastik putih bekas tempat es krim. Namun, dari wadah sederhana itulah lahir mimpi besar.
“Suami saya sampai sibuk membeli daun kelor untuk memenuhi permintaan pesanan dari teman-teman saya. Saya berpikir ini bisa menjadi bisnis. Selain membantu kesehatan saya, mungkin juga bisa membantu orang lain,” tuturnya.
Pesanan yang awalnya datang dari lingkungan terdekat perlahan membuat usaha rumahan itu berkembang. Dari sekadar membuat kapsul untuk konsumsi pribadi, Devi mulai melihat peluang untuk menjadikan kelor sebagai produk yang memiliki nilai ekonomi.
Agustus 2018 menjadi awal perjalanan bisnisnya. Bersama sang suami yang juga berprofesi sebagai dosen, Fachrul Rozi Lubis, ia mendaftarkan usaha ke Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) Kota Medan. Meski sama sekali tidak memiliki latar belakang sebagai pebisnis, pasangan ini memilih belajar dari nol.
Saat itu, hampir setiap bulan mereka bergantian mengikuti pelatihan mengenai desain kemasan, strategi pemasaran, pembukuan, legalitas usaha, izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM), hingga manajemen produksi. “Kami tidak malu belajar. Semua pelatihan kami ikuti,” kata Devi.
Hasilnya mulai terlihat pada akhir 2019. Produk tampil lebih profesional. Legalitas mulai lengkap. Kepercayaan konsumen perlahan tumbuh. Namun, ketika bisnis mulai menemukan bentuknya dan pelanggan semakin ramai, tantangan baru datang. Pandemi Covid-19 mengubah arah perjalanan usaha tersebut.
Pandemi yang Mengubah Arah
Harapan itu kembali diuji saat pandemi Covid-19 melanda. Ketika banyak pelaku usaha memilih bertahan dengan pasar yang ada, Devi justru memanfaatkan masa tersebut untuk belajar.
Ia mengikuti pelatihan ekspor yang diselenggarakan salah satu bank. Keputusan yang awalnya hanya didorong rasa ingin tahu itu justru membuka pintu menuju pasar internasional. Dalam pelatihan tersebut, produk kelornya dipertemukan dengan calon pembeli dari Australia.
Kesempatan itu tidak disia-siakan. Tahun 2022, sampel pertama dikirim ke Australia. Tak lama kemudian pesanan datang. Awalnya hanya sekitar 80 kilogram. Beberapa bulan berikutnya jumlah itu meningkat menjadi ratusan kilogram. Rumah produksi yang semula hanya memanfaatkan teras rumah akhirnya diperluas hingga ke bagian belakang. Pesanan terus berdatangan.
Australia menjadi pasar pertama. Kemudian menyusul Hongaria, Brunei Darussalam, Singapura, Malaysia, hingga penjajakan dengan Tiongkok dan Jerman. Bahkan, dalam komunikasi terakhir dengan mitra di Jerman, mereka meminta PT Keloria Moringa Jaya menjajaki kerja sama budidaya berbagai tanaman herbal, seperti kelor, jahe merah, andaliman, temu mangga, dan black garlic (bawang putih tunggal) yang melibatkan petani di Bukit Lawang, Kabupaten Langkat.
Dari sebuah pelatihan ekspor, pintu pasar internasional perlahan terbuka. Produk yang awalnya dibuat dari halaman rumah kini memiliki pembeli di berbagai negara. Pasar ekspor terus meluas. Kini omzet ekspor PT Keloria Moringa Jaya berkisar Rp50 juta hingga Rp75 juta setiap bulan.
Namun, semakin jauh kelor itu melangkah ke luar negeri, Devi justru menemukan ironi. Produk yang diterima di pasar internasional dengan tangan terbuka ternyata masih harus berhadapan dengan stigma di negeri sendiri.
Mengubah Stigma Menjadi Kebanggaan
Di Indonesia, daun kelor masih identik dengan berbagai cerita mistis. Devi mengaku pernah menawarkan teh kelor kepada beberapa wanita yang bekerja sebagai marketing di sebuah showroom mobil. Belum sempat menjelaskan manfaatnya, produk itu langsung ditolak. Alasannya membuatnya terdiam. Mereka takut “ilmu pemanis” atau prewangan (dalam bahasa Jawa merujuk pada ilmu gaib) yang mereka yakini akan hilang jika mengonsumsi kelor.
Pengalaman serupa juga dialaminya saat menawarkan produk kepada sejumlah orang tua. Ada yang menolak karena takut susuk hilang. Ada pula yang khawatir ilmu kebalnya lenyap. Pengalaman serupa, katanya, berulang kali ia temui.
“Itulah stigma yang kami hadapi. Di Indonesia orang masih mengaitkan kelor dengan hal-hal mistis. Padahal di luar negeri justru dianggap superfood. Daun kelor kaya nutrisi dan senyawa bioaktif yang bermanfaat bagi tubuh. Kandungan antioksidannya juga banyak,” kata Devi.
Saking beratnya menghadapi stigma itu, ia mengaku pernah berpikir menutup usahanya. Namun, ia memilih bertahan. Hari ini, perjuangan itu membuahkan hasil.
Nama Devi kini dikenal sebagai “Ibu Kelor” Sumatera Utara. Ia kerap diundang menjadi narasumber di beberapa kementerian, berbagai perbankan, hingga forum UMKM nasional untuk berbagi pengalaman membangun pasar ekspor. Produk-produknya juga telah masuk ke sejumlah jaringan ritel modern.
Bagi Devi, keberhasilan menembus pasar luar negeri bukan hanya tentang menjual produk. Ketika permintaan meningkat, rantai usaha di belakangnya ikut bergerak. Petani membutuhkan pasar, produksi membutuhkan tenaga kerja, dan lahan yang sebelumnya tidak bernilai tinggi kembali memiliki fungsi ekonomi.
Memberdayakan Petani dari Akar Rumput
Kesuksesan PT Keloria Moringa Jaya tidak hanya diukur dari nilai ekspor. Di balik setiap produk yang dikirim ke luar negeri, ada petani-petani lokal yang ikut tumbuh, ada lahan yang kembali produktif, dan ada harapan agar generasi muda mau melihat pertanian sebagai sektor yang menjanjikan.
Saat ini perusahaan membina tujuh petani inti dan puluhan petani di Sumatera Utara. Pasokan daun kelor berasal dari lahan seluas 1,5 hektare di Jalan Pancing Deli Serdang, 2,5 hektare di Tebing Tinggi, serta dua hektare di Desa Bandar Labuhan, Tanjung Morawa.
Pada 2022–2023, perusahaan bekerja sama dengan dosen Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) membagikan sekitar 10.000 bibit kelor kepada masyarakat. Hasil panen mereka kemudian dibeli kembali oleh Devi.
Tetapi perjalanan usaha tak semulus yang dibayangkan. Ketika pasar ekspor mulai sepi pesanan, Devi kembali mencari cara agar roda bisnis tetap bergerak. Kali ini, jawabannya bukan di lahan atau rumah produksi, melainkan di ruang digital.
Marketplace Membuka Pasar Baru
Devi mulai serius memasarkan produk melalui marketplace, salah satunya Shopee. Awalnya, hasilnya tidak memuaskan karena keterbatasan pengetahuan mengenai pemasaran digital. “Kami memulai jualan di marketplace saat pandemi Covid 19. Saat itu penjualan kami sangat lambat karena pada masa pandemi ekonomi melambat. Ditambah lagi saya gaptek (gagap teknologi, Red). Tidak paham bagaimana jualan di marketplace. Apalagi para pekerja saya saat itu memiliki keterbatasan dalam penguasaan teknologi,” akunya.
Perubahan terjadi setelah ia memanfaatkan program afiliasi yang membantu mempromosikan produknya melalui siaran langsung di marketplace. Perlahan, cara mereka berjualan ikut berubah. Produk tidak lagi hanya menunggu pembeli datang, tetapi dipasarkan melalui etalase digital yang dapat menjangkau konsumen dari berbagai daerah.
Dalam satu tahun terakhir, penjualan online mulai bergerak naik. Kini produk-produk PT Keloria Moringa Jaya hadir dalam berbagai bentuk, mulai dari teh celup, kapsul, tepung kelor, daun kering, minyak biji kelor, cookies hingga berbagai rempah seperti jahe merah, jahe putih, temulawak serta produk lainnya.
“Sejak 2025, penjualan melalui Shopee tumbuh pesat. Produk kapsul saja mampu terjual hampir 50 kotak setiap bulan, belum termasuk teh, tepung, maupun produk lainnya. Bahkan pesanan rutin datang dari Papua dan berbagai wilayah Indonesia timur,” kata perempuan yang memiliki dua anak ini.
Bagi Devi, transformasi digital bukan sekadar memindahkan aktivitas jual-beli dari toko fisik ke layar ponsel. Digitalisasi membuka akses pasar yang sebelumnya sulit dijangkau UMKM dari rumah produksi sederhana seperti miliknya. Namun, peluang itu juga menghadirkan tantangan baru.
Menurut Devi, masih banyak pelaku UMKM yang kesulitan beradaptasi dengan teknologi. Ia menilai kemampuan digital menjadi salah satu kunci agar UMKM tidak tertinggal, terutama ketika hampir seluruh proses pemasaran dan layanan usaha mulai bergerak ke sistem daring.
“Saya menilai, sekitar 80 persen UMKM masih gaptek mengurus aplikasi ekspor maupun sistem digital. Padahal sekarang hampir semua layanan sudah berbasis online. Kalau tidak ada pendampingan, banyak pelaku UMKM yang akhirnya menyerah sebelum produknya berhasil menembus pasar ekspor,” katanya.
Sertifikasi Menjadi Batu Sandungan
Meski pasar sudah terbuka, perjuangan belum selesai. Devi mengaku masih terkendala biaya untuk memenuhi berbagai sertifikasi internasional yang menjadi syarat utama ekspor.
Salah satunya adalah Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP), yaitu sistem manajemen keamanan pangan internasional yang bertujuan mengidentifikasi, menganalisis, dan mengendalikan titik-titik kritis dalam proses produksi agar produk aman dikonsumsi. Selain HACCP, sertifikasi organik juga membutuhkan biaya yang sangat besar.
Menurutnya, biaya memperoleh sertifikasi HACCP mencapai puluhan juta rupiah. Belum lagi sertifikasi organik yang nilainya bisa mencapai ratusan juta rupiah. Bagi UMKM, angka sebesar itu bukanlah biaya kecil. “Kalau uang sebesar itu kami keluarkan sendiri, modal usaha jadi terbenam. Padahal uang itu bisa dipakai membeli mesin produksi agar kapasitas meningkat,” tutur Devi.
Namun, Devi tak lupa mengapresiasi bantuan pemerintah kepada UMKM selama ini. Ia berharap bentuk dukungan pemerintah tidak disamaratakan karena kebutuhan setiap UMKM berbeda. Ada yang membutuhkan pelatihan pemasaran, ada yang memerlukan mesin produksi, sementara UMKM yang telah memiliki pasar ekspor justru membutuhkan dukungan sertifikasi agar mampu mempertahankan pasar yang sudah diperoleh.
"Alhamdulillah, selama ini saya dibantu Bea Cukai dan Balai Karantina untuk ekspor. Tapi kami berharap kepada Kementerian UMKM bisa mendengar keluhan kami dan membantu kami para UMKM yang punya pasar ekspor,” pinta Devi.
Di tengah berbagai tantangan tersebut, bisnis yang dibangun dari kapsul rumahan itu kini tidak hanya menghidupi keluarga Devi. Ada orang-orang lain yang menggantungkan penghasilan dari roda produksi yang terus berputar.
Saat ini Devi memiliki 10 pekerja tetap dan 15 pekerja lepasan untuk membantunya dalam proses produksi hingga pengemasan. Sebagian besar pekerjanya adalah perempuan dengan tingkat pendidikan yang relatif rendah.
Bagi Devi, memberi kesempatan bekerja sama pentingnya dengan menjual produk. “Kalau bukan saya yang mempekerjakan mereka, siapa lagi? Saya ingin bermanfaat bagi orang lain,” ujarnya sambil mempersilakan Sumut Pos mencicipi hidangan teh hangat dari daun kelor.
Dari halaman rumah di Medan hingga pasar internasional, perjalanan itu belum berhenti. PT Keloria Moringa Jaya kini telah terdaftar dalam program Ekspor Shopee dan bersiap membawa kelor Sumatera Utara terbang lebih jauh, menaklukkan pasar dunia bersama Shopee. "Saya berharap dengan masuknya ke Ekspor Shopee akan memperluas pasar ekspor nanti. Tapi saya juga bercita-cita ingin menguasai pasar di Indonesia meski stigma dan mitos menjadi kendala. Saya ingin kelor berdaulat di negeri sendiri," pungkasnya optimis.
Maman Dorong UMKM Tembus Pasar Ekspor
Jalan menuju pasar dunia memang tidak berhenti ketika sebuah produk berhasil menemukan pembeli. Bagi UMKM, tantangan berikutnya justru sering dimulai dari kemampuan memenuhi standar, mengurus sertifikasi, meningkatkan kapasitas produksi, hingga beradaptasi dengan teknologi.
Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman mendorong pelaku UMKM Indonesia agar tidak hanya berkembang dan menguasai pasar domestik, tetapi juga mampu meningkatkan daya saing hingga menembus pasar ekspor.
Di tengah besarnya jumlah UMKM yang mencapai sekitar 56.142.687 unit, peningkatan kapasitas dan kualitas produk dinilai menjadi kunci agar semakin banyak usaha lokal mampu masuk ke pasar global. “Salah satu hal yang didorong yaitu peningkatan ekspor produk UMKM serta pemenuhan kebutuhan domestik,” ujar Maman di Jakarta belum lama ini.
Menurut Maman, banyak pelaku UMKM memiliki target memasarkan produknya ke luar negeri. Namun, untuk mencapai pasar yang lebih luas, UMKM harus mampu menghasilkan produk yang inovatif, memenuhi standar pasar, serta memperkuat penguasaan teknologi, dan manajemen usaha.
Pemerintah, kata dia, terus mendorong penguatan ekosistem UMKM melalui peningkatan akses pembiayaan, legalitas, sertifikasi, hingga pemanfaatan teknologi. Hingga 30 Juni 2025, Kementerian UMKM telah membantu penerbitan 1,44 juta Nomor Induk Berusaha (NIB) dan 2,34 juta sertifikat halal, serta memfasilitasi sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) bagi pelaku UMKM.
“Percepatan pemberian sertifikasi perizinan kepada UMKM itu tujuannya untuk meningkatkan daya saing agar UMKM bisa tumbuh dan bisa berkompetisi dengan produk dari luar,” kata Maman.
Selain sertifikasi, Kementerian UMKM juga mengembangkan ekosistem digital melalui aplikasi SAPA UMKM untuk memperluas akses UMKM terhadap pelatihan, pelayanan, pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), edukasi produk, hingga akses pembiayaan.
Dukungan bagi UMKM juga diwujudkan melalui kolaborasi Kementerian UMKM, SMESCO, dan Shopee untuk memperluas pasar ke luar negeri. Kolaborasi tersebut melalui program 'Anak Muda Bisa Ekspor' diluncurkan pada Februari tahun lalu. Ini merupakan upaya pemerintah dalam mendorong UMKM dapat memasarkan produknya ke luar negeri melalui platform e-commerce Shopee Indonesia ke 10 negara jaringan Shopee.
Shopee Buka Jalan UMKM Naik Kelas
Transformasi digital membuka peluang baru bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia untuk memperluas pasar. Produk lokal kini tidak lagi terbatas pada konsumen di sekitar tempat usaha, tetapi memiliki kesempatan menjangkau pembeli di berbagai daerah hingga mancanegara melalui ekosistem digital.
Head of Corporate Affairs Shopee Indonesia Satrya Pinandita mengatakan, UMKM dan produk lokal memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Karena itu, Shopee menghadirkan berbagai program untuk membantu pelaku usaha meningkatkan daya saing dan memperluas pasar, di antaranya Kampus UMKM Shopee dan Program Ekspor Shopee.
“Kami percaya bahwa UMKM dan produk lokal memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Sejalan dengan hal tersebut, Shopee terus berupaya menghadirkan berbagai inovasi, program, dan fitur yang dapat membantu pelaku usaha mengembangkan bisnisnya secara berkelanjutan, baik di pasar lokal maupun global,” kata Satrya.
Dikatakan Satrya, salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Program Ekspor Shopee. Sejak diluncurkan pada 2019, program itu telah membantu memasarkan lebih dari 90 juta produk UMKM lokal ke berbagai negara di Asia Tenggara, Asia Timur hingga Amerika Latin, berdasarkan data per Desember 2025.
Tiga destinasi ekspor teratas melalui program tersebut adalah Malaysia, Singapura, dan Filipina. Sementara kategori produk yang paling banyak diekspor meliputi perlengkapan otomotif, fesyen, dan perlengkapan rumah.
Sedangkan Deputy Director of Government Relations Shopee Indonesia Balques Manisnya mengatakan, Shopee juga mengembangkan Program Ekspor Shopee FLEXI pada Juli 2025 untuk memberikan fleksibilitas lebih besar kepada penjual dalam mengatur strategi pemasaran toko ekspor mereka.
“Sebagai bentuk inovasi berkelanjutan dalam memberikan kendali operasional penjual di pasar global, kami juga meluncurkan Program Ekspor Shopee FLEXI pada Juli 2025. Inisiatif ini dirancang untuk memberikan fleksibilitas bagi para Penjual untuk mengatur sendiri strategi pemasaran toko ekspor mereka,” ujar Balques.
Selain membuka akses pasar, Shopee juga menyediakan pembelajaran digital melalui Kampus UMKM Shopee Kelas Online. Program tersebut memberikan kesempatan bagi pelaku UMKM untuk mengikuti berbagai pelatihan secara fleksibel dari mana saja.
“Kami percaya bahwa setiap pengusaha UMKM berhak mendapatkan akses yang sama untuk belajar dan berkembang. Karena itu, melalui Kampus UMKM Shopee Kelas Online, kami menghadirkan berbagai pelatihan yang dapat diakses secara fleksibel dari mana saja,” pungkas Balques.
Karantina Sumut Kawal Ekspor UMKM
Namun, menemukan pembeli di luar negeri bukan akhir perjalanan. Begitu pesanan datang, tantangan berikutnya adalah memastikan produk mampu melewati berbagai persyaratan sebelum meninggalkan Indonesia.
Analis Perkarantinaan Tumbuhan Madya pada Balai Besar Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Sumatera Utara (BBKHIT Sumut), Umi Kalsum Lubis, SP, MP, mengatakan, semua produk yang tergolong sebagai hewan, tumbuhan, serta produk turunannya (media pembawa), wajib melalui pemeriksaan Badan Karantina Indonesia (Baratin) sebelum diekspor ke luar negeri.
Kemudian, lanjutnya, persyaratan ekspor harus disesuaikan dengan ketentuan negara tujuan. Persyaratan tersebut mencakup seluruh proses, mulai dari produksi di tingkat on farm, penanganan di gudang, pengemasan hingga pengangkutan menuju tempat pengeluaran.
“Menjaga mutu produk sesuai spesifikasi yang telah ditentukan adalah kewajiban, termasuk memastikan produk bebas dari serangga hidup dan organisme pengganggu tumbuhan karantina,” ujarnya kepada Sumut Pos.
Menurutnya, terdapat sejumlah tahapan yang harus dilalui pelaku usaha sebelum memperoleh sertifikat ekspor. Pertama, pengguna jasa mendaftarkan akun melalui PTK Online dan SSM QC. Selanjutnya, gudang didaftarkan untuk ditetapkan sebagai Instalasi Karantina Tumbuhan (IKT) atau tempat lain sebagai tindakan karantina tumbuhan melalui aplikasi PQ Smart.
Setelah itu, pelaku usaha mengajukan permohonan melalui SSM QC. Petugas kemudian melakukan pemeriksaan administrasi, pemeriksaan fisik dan, apabila diperlukan, pemeriksaan laboratorium sebelum sertifikat ekspor diterbitkan.
Salah satu dokumen penting dalam proses tersebut adalah Phytosanitary Certificate atau sertifikat kesehatan tumbuhan. Dokumen ini menjadi bagian penting dalam memastikan komoditas tumbuhan yang dikirim memenuhi persyaratan karantina negara tujuan.
Umi mengungkapkan, dalam praktiknya masih terdapat sejumlah kendala yang selalu dihadapi UMKM. Di antaranya kesulitan mencari buyer di luar negeri, produk yang belum memenuhi persyaratan negara tujuan, serta belum lengkapnya persyaratan administrasi dan teknis untuk penilaian gudang.
Karena itu, Karantina Sumut tidak hanya berperan dalam pemeriksaan dan penerbitan sertifikat, tetapi juga melakukan pendampingan kepada pelaku UMKM yang ingin memperluas pasar ke luar negeri.
Pendampingan dilakukan melalui edukasi mengenai persyaratan ekspor negara tujuan, bimbingan teknis persiapan ekspor hingga menjadi narasumber dalam berbagai sekolah ekspor yang digelar instansi terkait. "Pendampingan juga dilakukan langsung kepada UMKM yang bersangkutan,” katanya.
Karantina Sumut bahkan menyediakan Klinik Ekspor di kantor pusat maupun kantor layanan masing-masing. Fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan UMKM untuk berkonsultasi secara langsung maupun melalui sambungan telepon mengenai berbagai persoalan yang berkaitan dengan kegiatan ekspor.
Pendampingan tersebut mulai menunjukkan hasil. Umi menyebutkan, terdapat UMKM yang sebelumnya melakukan ekspor dengan bantuan pihak ketiga, namun setelah mendapatkan pendampingan akhirnya mampu melakukan ekspor secara mandiri.
Saat ini, kata Umi, sejumlah produk UMKM Sumatera Utara yang cukup sering diekspor antara lain tepung daun kelor, tepung kunyit, tepung jahe dan bawang putih tunggal. Salah satu negara tujuan yang disebut adalah Australia.
Umi menilai, di tengah meningkatnya tren konsumsi produk alami dan berbasis rempah, komoditas seperti daun kelor memiliki peluang besar untuk dikembangkan ke pasar internasional. "Untuk ekspor daun kelor sangat berpotensi, terutama ke negara-negara maju seperti Australia karena memang di negara-negara tersebut sudah lebih memahami manfaat rempah tersebut untuk kesehatan,” pungkasnya.
Tak Cukup Sekadar Masuk Marketplace
Kisah Keloria menunjukkan digitalisasi dapat membuka pintu pasar yang lebih luas. Namun, memiliki akun marketplace saja belum cukup untuk membuat UMKM naik kelas. Di balik etalase digital, pelaku usaha tetap harus memperkuat kualitas produk, legalitas, kapasitas produksi, hingga kemampuan memenuhi permintaan pasar.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian dan Perdagangan Kota Medan Hendra Ridho Gunawan Siregar, AP, MSi mengatakan, berdasarkan data Sistem Informasi Data Tunggal (SIDT), terdapat sekitar 194 ribu pelaku UMKM di Kota Medan. Hingga Juli 2026, sebanyak 2.521 di antaranya tercatat sebagai UMKM binaan dinas.
Menurut Hendra, data mengenai UMKM binaan yang aktif berjualan melalui marketplace masih dimutakhirkan melalui aplikasi SIP Kurasi. Pendataan tersebut penting karena kanal digital yang digunakan pelaku usaha kini semakin beragam, mulai dari marketplace, media sosial, WhatsApp Business, hingga website mandiri. “Tantangan terbesar bukan sekadar membuat akun marketplace, tetapi bagaimana pelaku UMKM mampu mengelola bisnisnya agar siap bersaing di pasar digital,” ujar Hendra kepada Sumut Pos.
Menurutnya, masih banyak persoalan yang harus dibenahi, mulai dari kualitas dan konsistensi produk, kemasan, kemampuan membuat konten dan foto produk, pencatatan usaha, pengelolaan stok, pemahaman transaksi digital, hingga kemampuan memenuhi permintaan ketika pasar semakin luas.
Karena itu, pemerintah tidak hanya mendorong UMKM masuk ke ekosistem digital, tetapi juga melakukan pembinaan melalui pelatihan digital marketing, kurasi produk, peningkatan kualitas kemasan dan branding, serta perluasan akses pasar dan kemitraan. Dinas juga selalu berkolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk marketplace, untuk memberikan pelatihan kepada pelaku UMKM.
Hendra mengatakan, pola pembinaan ke depan akan disesuaikan dengan tingkat kesiapan masing-masing pelaku usaha. UMKM pemula tentu memiliki kebutuhan berbeda dengan usaha yang produknya telah matang dan siap melakukan ekspansi pasar.
“Target kami bukan hanya menciptakan UMKM yang mampu masuk marketplace, tetapi UMKM yang mampu bertahan, berkembang, meningkatkan omzet, membuka lapangan kerja, dan naik kelas,” tegasnya.
Gunawan: Afiliasi dan Keamanan Digital
Perkembangan platform digital turut melahirkan cara baru bagi UMKM untuk memasarkan produk, salah satunya melalui program afiliasi. Dalam sistem ini, kreator konten atau afiliator mempromosikan produk kepada audiens mereka dan memperoleh komisi dari penjualan.
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara Gunawan Benjamin menilai, pemanfaatan afiliator berpotensi membantu UMKM memperluas jangkauan pemasaran sekaligus meningkatkan penjualan dengan biaya yang lebih efisien.
“Penggunaan afiliator dalam pemasaran produk-produk UMKM sangat potensial mendorong peningkatan omzet pelaku UMKM itu sendiri. Dari sisi pengeluaran, pelaku UMKM cukup membayar komisi kepada afiliator berdasarkan produk yang berhasil terjual,” ujarnya kepada Sumut Pos.
Namun, menurut Gunawan, afiliasi hanyalah salah satu strategi. Tantangan yang lebih besar adalah kemampuan pelaku UMKM beradaptasi dengan ekosistem digital, memperkuat kemampuan manajerial, menjaga kualitas produk, serta terus berinovasi di tengah persaingan yang semakin ketat.
Ia menilai Sumatera Utara memiliki banyak produk lokal yang dapat menjadi kekuatan di pasar yang lebih luas, mulai dari kopi, rempah-rempah, olahan kelor hingga kerajinan tangan. Namun, potensi tersebut perlu didukung pendampingan dan peningkatan keterampilan agar transformasi digital tidak hanya dinikmati oleh usaha-usaha besar.
Waspada Kejahatan Siber
Di sisi lain, Gunawan mengingatkan bahwa transformasi digital juga harus dibarengi dengan kemampuan menjaga keamanan akun dan data. Pelaku UMKM perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai praktik kejahatan siber yang mengintai di ruang digital.
Menurutnya, di ruang digital, pelaku usaha tidak cukup hanya memiliki kemampuan menggunakan teknologi untuk berjualan. Pelaku usaha juga harus memahami cara melindungi akun, data usaha, dan transaksi dari berbagai modus penipuan.
"Pengelola usaha perlu menjaga kerahasiaan data, memperkuat keamanan akun dengan kata sandi yang aman dan tidak mudah dibagikan, serta berhati-hati dalam setiap transaksi digital," pungkas Gunawan.
OJK: Kepercayaan Jadi Kunci Ekosistem Digital
Digitalisasi telah membuka wajah baru bagi ekonomi Indonesia. Platform digital memberi peluang lebih besar bagi UMKM untuk memperluas pasar, menjangkau konsumen, dan mempermudah transaksi. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul ancaman penipuan digital yang semakin kompleks, mulai dari scam, phishing, hingga informasi palsu atau hoaks yang berpotensi menggerus kepercayaan masyarakat terhadap ekosistem digital.
Salah satu ancaman yang patut menjadi perhatian adalah penipuan transaksi belanja online atau e-commerce.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengingatkan bahwa praktik scam semakin kompleks seiring pesatnya digitalisasi. Modus penipuan dapat memanfaatkan berbagai infrastruktur digital, mulai dari rekening, merchant dan sub-merchant, hingga sistem pembayaran digital. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi ekosistem ekonomi digital yang tumbuh semakin pesat.
Berdasarkan data Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) hingga 30 Juni 2026, tercatat 608.167 laporan penipuan. Sebanyak 557.751 rekening telah diblokir, dengan dana korban senilai Rp674,1 miliar berhasil diamankan dan Rp196,93 miliar dikembalikan kepada korban.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi dalam siaran persnya belum lama ini mengatakan, penipuan tidak hanya menimbulkan kerugian finansial, tetapi juga mengancam kepercayaan masyarakat. Padahal, kepercayaan merupakan modal penting agar transformasi digital dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat. “Penipuan dapat melintasi batas negara dalam hitungan detik, memanfaatkan teknologi dalam skala besar, dan merusak sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang, yaitu kepercayaan,” katanya.
Karena itu, masyarakat dan pelaku UMKM perlu meningkatkan kewaspadaan di ruang digital. OJK mengimbau masyarakat tidak mudah percaya terhadap penawaran yang tidak wajar, memastikan legalitas melalui kanal resmi, menjaga kerahasiaan data pribadi termasuk kode OTP dan kata sandi, serta segera melaporkan dugaan penipuan.
Bagi UMKM yang mengandalkan platform digital untuk memperluas pasar, keamanan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari transformasi. Pelaku usaha perlu menjaga keamanan akun dan data, sementara konsumen harus semakin waspada terhadap berbagai modus penipuan. Sebab, di tengah pesatnya digitalisasi, memperluas pasar saja tidak cukup. Ekosistem digital juga harus dibangun di atas rasa aman dan kepercayaan.
Kepercayaan memang menjadi modal yang tidak kalah penting bagi pelaku UMKM. Bagi Devi, perjalanan membawa kelor ke pasar yang lebih luas juga mengajarkannya bahwa setiap peluang selalu menghadirkan tantangan baru. Setelah berjuang melawan mitos, belajar memenuhi standar ekspor, hingga beradaptasi dengan teknologi dan marketplace, menjaga kepercayaan konsumen menjadi bagian penting dari perjalanan usahanya.
Daun kelor memang tidak pernah benar-benar berubah. Yang berubah adalah cara manusia memandangnya. Dari tanaman yang lama hidup dalam mitos pengusir gangguan gaib, kelor kini menjelma menjadi komoditas bernilai ekonomi yang menghidupi petani, membuka lapangan kerja, dan membawa nama Indonesia hingga ke pasar dunia.
Dari sebuah halaman rumah di Kota Medan, perjalanan itu membuktikan bahwa wajah baru ekonomi Indonesia bisa tumbuh dari sesuatu yang sederhana. Berbekal keberanian untuk bangkit, kemauan untuk belajar dan berinovasi, serta kemampuan memanfaatkan peluang di era digital, daun kelor yang dahulu hanya lekat dengan mitos, kini mampu melintasi batas negara dan menaklukkan pasar dunia. (ila)
Editor : Redaksi