Israel masih galau untuk membalas serangan Iran. Senin siang (15/4) waktu setempat, Kabinet perang Israel berkumpul untuk membahas serangan Iran.
Dilansir dari Al Jazeera, dalam rapat itu, PM Israel Benjamin Netanyahu melakukan pembicaraan bersama jajarannya. Sampai pertemuan berakhir, belum ada keputusan detail yang akan diambil Israel untuk menanggapi serangan Iran.
Channel 12 News menyebut, Netanyahu dan jajarannya akan kembali mengadakan pertemuan dalam waktu dekat. Berbagai sumber menyebut, kabinet perang sepakat ingin membalas serangan Israel, namun waktu dan skala aksi masih belum disepakati.
Di tengah kebingungan Israel, proksi Islam tetap melancarkan serangan ke Negara Zionis. Kemarin, Hizbullah, Lebanon mengklaim pihaknya telah berhasil meledakkan alat peledak yang menargetkan tentara Israel yang menyeberang ke teritori Lebanon.
Militer Israel mengatakan, empat tentaranya terluka dalam sebuah ledakan di daerah perbatasan utara. Namun mereka tidak menyebutkan secara spesifik di sisi mana perbatasan tersebut. Satu tentara dilaporkan terluka parah.
Ini adalah pertama kalinya Hizbullah mengklaim serangan semacam itu dalam enam bulan bentrokan lintas batas yang hampir terjadi setiap hari. Seperti diketahui, sejak konflik di Gaza memanas enam bulan lalu, Hizbullah adalah kelompok yang terus melancarkan serangan ke Israel untuk membalas kekejaman Israel kepada rakyat Palestina. ’’Pejuang Hizbullah menanam alat peledak di daerah Tal Ismail Lebanon, lalu meledakkannya setelah tentara Israel melintasi perbatasan,’’ kata Hizbullah dalam sebuah pernyataan.
Serangan balasan Iran ke Israel membuat negara-negara Barat berang. Menanggapi itu, Iran justru meminta agar Barat dapat membuka mata pada kejahatan perang yang dilakukan Israel selama ini. ’’Daripada melontarkan tuduhan terhadap Iran, negara-negara (Barat) harus menyalahkan diri mereka sendiri dan menjawab opini publik atas tindakan yang mereka ambil terhadap kejahatan perang yang dilakukan oleh Israel,’’ tegas Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Nasser Kanani.
Barat Minta Israel Menahan Diri
Meski Israel sangat ingin membalas serangan Iran, negara-negara Barat terus meminta agar Israel tidak membalas serangan Iran. Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut, serangan Iran terhadap Israel tidak proporsional.
Oleh karena itu, Macron meminta Israel menahan diri. ’’Kami akan melakukan segala yang kami bisa untuk menghindari eskalasi dan meyakinkan Israel bahwa mereka tidak boleh membalas serangan Iran dengan eskalasi lebih lanjut,’’ ujar Macron.
Menteri Luar Negeri Inggris David Cameron juga mendesak Israel untuk tidak membalas. Dameron menyebut, fokus harus kembali pada gencatan senjata di Gaza. ’’Jika Anda duduk di Israel pagi ini, Anda berpikir dengan benar bahwa kami mempunyai hak untuk menanggapi hal ini dan mereka memang berhak melakukannya. Namun kami mendesak agar konflik tidak meluas,’’ jelas dia.
Di Washington, Presiden AS Joe Biden telah berbicara dengan Raja Abdullah II dari Yordania melalui telepon, terkait situasi di Timur Tengah. Biden juga menekankan bahwa AS tidak akan mengambil bagian jika Israel akan membalas Iran.
Saat Serangan Iran,
Netanyahu Sembunyi di Villa
Banyak yang bertanya-tanya di mana posisi PM Israel Benjamin Netanyahu saat serangan Iran meluncur ke Israel. Dilansir dari Times of Israel, puluhan ribu warga Israel menghadiri protes terhadap pemerintah di berbagai lokasi di seluruh negeri pada Sabtu.
Sejumlah demontran berunjuk rasa di dekat rumah mewah dengan keamanan tinggi di Jalan Caspi Yerusalem, milik miliarder AS keturunan Yahudi, Simon Falic. Ia merupakan teman Netanyahu.
Sang perdana menteri dan istrinya dilaporkan berlindung di dalam bunker di kediaman tersebut pada akhir pekan lalu untuk menghindari serangan rudal Iran. ’’Anda adalah kepala [pemerintahan], Anda bertanggung jawab,’’ seru para pengunjuk rasa, yang berdiri di luar pagar rumah besar tersebut.
Mereka juga berkumpul di Kaisarea dan Haifa, di mana para pengunjuk rasa berbaris dengan genderang dan spanduk serta meneriakkan, “Pemerintah Israel menentang bangsa Israel” dan “Pemerintahan tanpa keterampilan, Anda harus mundur sekarang.”
Sejak awal serangan Israel ke Gaza Oktober 2023 lalu, Netanyahu dan istrinya Sara tinggal di vila mewah Simon Falic. Namun, dalam beberapa bulan terakhir, mereka kembali tinggal di apartemen pribadi mereka di Jalan Gaza di Yerusalem.
Vila tersebut terletak di lingkungan Talpiot di Yerusalem. Itu adalah properti yang sering digunakan oleh pasangan Netanyahu selama beberapa tahun terakhir, dan memiliki tempat perlindungan rudal yang canggih.
Sumber yang dekat dengan Netanyahu membenarkan bahwa pasangan tersebut bersembunyi di bunker tersebut pada akhir pekan lalu. Namun, belum ada tanggapan dari kantor Netanyahu.
Rusia Tuding Barat Standar Ganda
Terpisah, Wakil Tetap Rusia untuk PBB Vasily Nebenzya menyebut pertemuan darurat Dewan Keamanan (DK) PBB mengenai serangan balasan Iran terhadap Israel sebagai parade kemunafikan dan standar ganda Barat.
Dilansir dari kantor berita TASS, Nebenzya menyebut bahwa serangan Israel kepada kedutaan Iran di Damaskus tentu menyalahi hukum internasional. ’’Dan jika misi Barat diserang, Anda tidak akan ragu untuk membalas dan membuktikan kasus Anda di ruangan ini. Karena bagi Anda, segala sesuatu yang menyangkut misi Barat dan warga negara Barat adalah suci dan harus dilindungi. Saat ini, Dewan Keamanan menyaksikan parade kemunafikan Barat dan standar ganda yang bahkan agak tidak nyaman untuk disaksikan,’’ tegasnya.
Rusia juga menyatakan keprihatinannya atas ketegangan yang terjadi di Timur Tengah. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov meminta semua pihak menahan diri.
Rusia berharap konflik bisa diselesaikan dengan diplomatis. ’’Eskalasi lebih lanjut bukanlah kepentingan siapa pun. Oleh karena itu, tentu saja kami menganjurkan agar semua perselisihan diselesaikan secara eksklusif melalui metode politik dan diplomatis,’’ ujarnya dilansir Agence France-Presse (AFP).
Pada rapat darurat DK PBB, Dubes Israel untuk PBB Gilad Erdan menuding Iran sebagai sponsor teror yang mengganggu stabilitas kawasan dan dunia. Dia meminta DK PBB menunjuk Garda Revolusi Iran sebagai organisasi teroris dan memberikan semua sanksi kepada Iran sebelum terlambat.
Sementara itu, Dubes Iran untuk PBB Amir Saeid Iravani menegaskan bahwa apa yang dilakukan Iran adalah balasan dari kekejaman Israel. Iran juga menggunakan haknya untuk membela diri.
Dia juga mengecam Israel. Dia meminta DK PBB memikul tanggung jawabnya. ’’Sudah waktunya bagi Dewan Keamanan untuk memikul tanggung jawabnya dan mengatasi ancaman nyata terhadap perdamaian dan keamanan internasional,’’ kata Iravani. (dee/jpg)
Editor : Redaksi