WASHINGTON, Sumutpos.jawapos.com- Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) resmi menetapkan Baoxia Liu alias Emily Liu, warga negara Tiongkok, sebagai salah satu buronan paling dicari. Liu diduga menjadi tokoh sentral dalam jaringan penyelundupan teknologi militer asal AS ke Iran, yang telah berlangsung hampir dua dekade.
Tak hanya sendiri, Liu diduga beroperasi bersama tiga rekan lainnya yakni Li Yongxin (Emma Lee), Yung Yiu Wa (Stephen Yung), dan Zhong Yanlai (Sydney Chung), yang kini juga masuk dalam daftar buron FBI.
Keempatnya disebut telah menyuplai ribuan komponen elektronik berteknologi tinggi yang digunakan dalam pembuatan drone, rudal balistik, hingga sistem persenjataan canggih untuk keperluan militer.
Menurut keterangan Departemen Luar Negeri AS, komponen-komponen tersebut dialirkan ke Iran melalui perusahaan cangkang yang berbasis di Tiongkok dan Hong Kong. Meski semula diklaim untuk penggunaan sipil di Asia Timur, barang-barang itu nyatanya didistribusikan secara terselubung ke entitas militer Iran, termasuk Shiraz Electronics Industries (SEI) dan Rayan Roshd Afzar, yang berafiliasi dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
”Liu dan kelompoknya memalsukan identitas pihak penerima agar tampak seolah-olah barang dikirim ke China, padahal tujuannya adalah Iran,” demikian bunyi pernyataan resmi Departemen Luar Negeri AS, dilansir Reuters, Sabtu(21/6).
AS menawarkan imbalan hingga USD 15 juta atau sekitar Rp 245 miliar bagi siapa pun yang dapat memberikan informasi akurat mengenai keberadaan Liu dan ketiga rekannya.
”Operasi ini bukan sekadar pelanggaran ekspor, melainkan bagian dari upaya sistematis dalam memasok teknologi sensitif ke negara yang dikenai sanksi internasional,” tegas Departemen Luar Negeri AS.
Markas Pusat Khatam Al-Anbia (KCHQ), pusat komando tertinggi Angkatan Bersenjata Iran memperingatkan siapapun atau negara mana pun yang memasok senjata, radar, atau perlengkapan militer ke Israel akan dianggap sebagai pihak yang turut berperang dan menjadi sasaran tembak bagi Iran. Pernyataan resmi itu dirilis pada Sabtu (21/6/2025) malam.
Iran mengklaim, bahwa Israel kini kewalahan menghadapi serangan mereka. “Meski Israel memiliki sistem pertahanan udara anti-rudal tercanggih dan mendapat dukungan penuh dari Amerika Serikat, mereka tetap mengalami kerugian besar dalam aspek pertahanan strategis,” ungkal KCHQ dalam keterangannya. (agf/gas/jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan