SUMUT POS- Militer mengambil alih kendali negara Nepal menyusul mundurnya Presiden Ram Chandra Poudel dan Perdana Menteri Khadga Prasad Oli.
Keputusan ini diambil setelah gelombang demonstrasi besar-besaran, yang dipimpin anak muda, mengguncang ibu kota Kathmandu dan kota-kota lain dengan aksi pembakaran, penyerangan terhadap politisi, hingga kaburnya ratusan narapidana dari penjara.
Pada Rabu (10/9), ribuan tentara bersenjata dikerahkan ke jalanan utama Kathmandu. Mereka memberlakukan jam malam, memeriksa kendaraan, dan memaksa warga tetap berada di rumah demi mengembalikan ketertiban.
Kehadiran militer memberikan sedikit rasa aman setelah berhari-hari kota dilanda kerusuhan dan kekacauan. Belum lagi persekusi terhadap pejabat pemerintah dan aksi penjarahan.
Sebelumnya, protes yang dipicu oleh pemblokiran media sosial berkembang menjadi gerakan anti-pemerintah yang lebih luas. Demonstrasi itu mendapat dukungan besar dari generasi muda Nepal yang menuding elit politik hidup mewah sementara mereka menghadapi pengangguran tinggi.
Situasi makin memburuk ketika aparat kepolisian gagal mengendalikan massa, hingga bentrokan berdarah menewaskan sedikitnya 19 orang. Demikian mengutip APNews.
Militer Nepal, yang biasanya jarang turun langsung dalam urusan sipil, akhirnya mengambil alih setelah kepolisian kewalahan.
Dalam pernyataannya, tentara menegaskan komitmen menjaga hukum dan ketertiban, serta telah menangkap puluhan penjarah.
Helikopter militer juga digunakan untuk mengevakuasi menteri-menteri yang terjebak amarah massa.
Langkah pengunduran diri Presiden Poudel dan Perdana Menteri Oli ternyata tidak meredakan gejolak. Ribuan pengunjuk rasa tetap memenuhi jalan-jalan, menutup akses, serta menyerbu gedung-gedung pemerintah.
Kritik terhadap 'nepo kids', anak-anak pejabat yang disebut menikmati hidup mewah di tengah kesulitan rakyat, semakin memperlebar jurang ketidakpuasan.
Dengan militer kini memegang kendali penuh, masa depan politik Nepal berada di persimpangan. Belum jelas apakah langkah ini akan menenangkan situasi atau justru membuka babak baru dalam sejarah panjang ketidakstabilan negeri Himalaya tersebut. (jpc/ram)
Editor : Juli Rambe