Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Trump Ultimatum Iran: Letakkan Senjata atau Hadapi Kematian

Johan Panjaitan • Senin, 2 Maret 2026 | 11:50 WIB

Presiden AS, Donald Trump. (demorgen)
Presiden AS, Donald Trump. (demorgen)

WASHINGTON, Sumutpos.jawapos.com-Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ultimatum keras kepada pasukan Iran di tengah meningkatnya konflik militer antara Washington, Tel Aviv, dan Teheran.

Dalam pidato video yang diunggah melalui kanal resmi Gedung Putih, Trump mendesak pasukan Iran untuk menyerahkan diri atau menghadapi konsekuensi fatal.

Dikutip dari rbc.ukraine, Trump dalam pidatonya secara langsung meminta anggota Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), militer reguler, serta aparat kepolisian Iran untuk meletakkan senjata mereka.

“Sekali lagi saya mendesak Garda Revolusi dan polisi militer Iran untuk meletakkan senjata dan menerima kekebalan penuh—atau menghadapi kematian yang pasti,” tegas Trump dalam pidatonya.

Pidato itu menjadi pernyataan publik kedua Trump sejak dimulainya operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran. Ia menegaskan bahwa operasi tempur akan terus berlanjut hingga seluruh target strategis yang ditetapkan Washington tercapai.

Trump juga mengklaim bahwa struktur komando militer Iran telah hancur akibat serangan udara yang dilancarkan Amerika Serikat. Menurutnya, sejumlah pejabat militer Iran bahkan disebut-sebut mulai mencari perlindungan dan berupaya menyerah.

Ia menyebut pasukan AS telah menghantam ratusan target di wilayah Iran, termasuk fasilitas milik IRGC dan sistem pertahanan udara negara tersebut. Selain itu, sembilan kapal militer dan sebuah fasilitas pembuatan kapal juga dilaporkan hancur dalam operasi tersebut.

Meski demikian, operasi militer itu juga menelan korban di pihak Amerika Serikat. Trump mengonfirmasi bahwa tiga tentara AS telah gugur dalam pertempuran dan memperingatkan bahwa Washington akan membalas setiap korban yang jatuh.

Dalam pidatonya, Trump juga menyerukan kepada rakyat Iran yang menginginkan kebebasan untuk memanfaatkan momentum konflik saat ini guna merebut kembali masa depan negara mereka. Ia bahkan melontarkan kritik tajam kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang ia sebut sebagai sosok yang bertanggung jawab atas kematian banyak warga Amerika dan berbagai aksi kekerasan di sejumlah negara.

Awal Konflik

Ketegangan militer meningkat sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke berbagai target strategis di Iran.

Menurut sejumlah pejabat Partai Republik, operasi tersebut bertujuan menghentikan upaya Teheran dalam mengembangkan senjata nuklir serta menghancurkan persenjataan rudal yang dimiliki Iran.

Trump sebelumnya menyatakan bahwa keputusan melakukan serangan diambil setelah negosiasi mengenai kesepakatan nuklir baru gagal mencapai hasil. Ia juga menilai kebijakan Teheran selama beberapa dekade terakhir telah memperburuk stabilitas kawasan.

Dalam wawancara dengan Fox News, Trump bahkan menyebut bahwa tanpa operasi militer tersebut, situasi keamanan di Timur Tengah bisa berkembang jauh lebih berbahaya.

Dalam perkembangan terbaru, sejumlah laporan menyebutkan bahwa Ali Khamenei bersama beberapa pejabat tinggi Iran kemungkinan tewas dalam gelombang serangan awal. Trump mengklaim total 48 pejabat Iran menjadi korban dalam operasi tersebut, meskipun informasi tersebut belum sepenuhnya diverifikasi secara independen.

Hingga kini, pertempuran masih berlangsung. Trump menyatakan bahwa kepemimpinan baru Iran disebut tertarik untuk membuka kembali jalur negosiasi dengan Washington. Namun, jadwal pembicaraan resmi antara kedua pihak masih belum ditentukan.

Presiden AS itu juga memperkirakan operasi militer terhadap Iran dapat berlangsung hingga empat minggu, tergantung pada perkembangan situasi di lapangan.(han)

Editor : Johan Panjaitan
#donald trump #irgc #Ultimatum #israel #amerika serikat #iran