sumutpos.jawapos.com – Kasus seekor gajah betina bernama Chanchal kembali menyita perhatian publik setelah foto-fotonya yang dicat warna merah muda viral di media sosial. Sorotan kian tajam ketika diketahui bahwa satwa tersebut telah mati pada Februari 2026, memicu gelombang kemarahan dan kritik terhadap praktik eksploitasi hewan untuk kepentingan visual.
Melansir Instagram @pandemictalks, Minggu (5/4/2026), foto tersebut pertama kali diunggah pada Desember 2025 oleh fotografer asal Rusia, Julia Buruleva. Pemotretan itu sendiri diketahui dilakukan sebulan sebelumnya di Jaipur, India. Dalam foto yang beredar, Chanchal tampak dilapisi warna merah muda mencolok yang disebut-sebut menyerupai bubuk Holi.
Pihak pemilik dan pengelola gajah menyatakan bahwa bahan yang digunakan hanyalah “gulal” atau pewarna tradisional yang aman dan mudah dibersihkan. Mereka juga menegaskan tidak ada bukti langsung yang mengaitkan sesi pemotretan tersebut dengan kematian Chanchal. Namun, penjelasan itu tak mampu meredam kritik publik.
Baca Juga: Usai Diprotes, Billboard Film “Aku Harus Mati” Ditertibkan Pemprov DKI, Tuai Ragam Reaksi Netizen
Kematian Chanchal justru memperkuat persepsi bahwa hewan kerap diperlakukan semena-mena demi kebutuhan estetika dan komersial. Banyak warganet menilai kasus ini bukan sekadar kontroversi foto artistik, melainkan simbol lemahnya perlindungan terhadap satwa, khususnya yang hidup dalam penangkaran.
Aktivis dari PETA India turut angkat bicara. Mereka menyebut insiden ini sebagai peringatan serius atas kondisi gajah-gajah penangkaran di India. Dalam pernyataannya, mereka menyoroti bagaimana hewan-hewan tersebut sering dipaksa bekerja sebagai tunggangan atau bagian dari atraksi wisata, yang berpotensi menyebabkan tekanan fisik dan mental berkepanjangan.
Di sisi lain, otoritas kehutanan setempat menyatakan belum ada penyelidikan resmi terkait hubungan antara pemotretan dan kematian Chanchal. Ketiadaan langkah konkret ini justru memperpanjang polemik, sekaligus menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas pengawasan terhadap penggunaan satwa dalam kegiatan komersial.
Baca Juga: Mengenal Vitamin U: Bukan Vitamin Sejati, namun Punya Fungsi Perlindungan Organ Tubuh
Di media sosial, reaksi warganet didominasi kemarahan dan keprihatinan. Banyak yang mengecam keras tindakan mengecat gajah demi kebutuhan fotografi.
“Kasihan sekali, hewan dijadikan objek demi konten. Ini bukan seni, ini eksploitasi,” tulis seorang netizen.
Komentar lain menyoroti lemahnya regulasi terhadap perlindungan satwa. “Kalau benar tidak berbahaya, tetap saja itu tidak etis. Hewan bukan properti foto,” ungkap pengguna lainnya.
Sebagian netizen juga mempertanyakan klaim keamanan bahan yang digunakan. “Dibilang aman, tapi siapa yang menjamin? Gajah bukan kanvas,” tulis warganet dengan nada skeptis.
Baca Juga: Langkah Strategis Epson: Hadirkan Solution Center di Surabaya, Dekatkan Inovasi ke Dunia Bisnis
Tak sedikit pula yang mendesak adanya tindakan tegas dari pemerintah setempat. “Harus ada aturan jelas dan sanksi. Jangan sampai kejadian seperti ini terulang,” komentar lainnya.
Namun, ada juga segelintir komentar yang mencoba melihat dari sisi berbeda. Mereka menyebut belum ada bukti langsung bahwa kematian gajah disebabkan oleh cat tersebut, meski tetap mengakui praktik tersebut tidak pantas dilakukan.
Kasus ini pun menjadi perdebatan luas di dunia maya, memperlihatkan meningkatnya kesadaran publik terhadap isu kesejahteraan hewan serta pentingnya etika dalam produksi konten visual.(lin)
Editor : Redaksi