Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Israel Serang Pusat Petrokimia Iran

Juli Rambe • Selasa, 7 April 2026 | 05:00 WIB
Eskalasi saling serang antara Iran dan Israel meningkatkan kekhawatiran pecahnya perang besar di Timur Tengah. (Reuters)
Eskalasi saling serang antara Iran dan Israel meningkatkan kekhawatiran pecahnya perang besar di Timur Tengah. (Reuters)

 

SUMUT POS- Israel menggempur kompleks Petrokimia Iran di Assaluyeh di pantai Teluk Iran, Senin (6/4/2026).

Serangan ini terjadi usai Iran menentang ancaman dari Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang bakal menghancurkan infrastruktur sipil jika Iran tak buka Selat Hormuz.

Perusahaan Petrokimia Nasional Iran mengatakan sedang menilai kerusakan yang terjadi. Media Iran melaporkan "kerusakan kecil" usai kompleks kedua di dekat Shiraz di Iran tengah juga terkena serangan Israel.

Baca Juga: Viral di X, Trump Sakit dan Sedang Dirawat, Ini Jawaban Gedung Putih

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz mengatakan kompleks tersebut menyumbang sekitar 50 persen dari produksi petrokimia Iran yang bernilai "puluhan miliar dolar".

Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi mewanti-wanti terhadap serangan lebih lanjut di dekat pembangkit nuklir Bushehr Iran.

Trump telah memberi Iran waktu hingga pukul 00.00 waktu setempat pada hari Rabu (8/4) untuk membuka Selat Hormuz, jalur air yang sangat penting bagi aliran minyak dan gas global. Jika tidak, Iran akan menghadapi serangan dari Amerika Serikat (AS) terhadap jembatan dan pembangkit listrik.

Dalam unggahan media sosial yang keras dan penuh umpatan pada hari Minggu (5/4), Trump menuntut "Buka Selat sialan itu, kalian bajingan gila, atau kalian akan hidup di Neraka".

Iran menentang Trump. Juru bicara militer Iran mengatakan Iran akan terus berperang "selama para pemimpin politik menganggapnya tepat".

Diketahui, serangan Israel menewaskan komandan senior Garda Revolusi Iran. Sementara Iran membalas di seluruh wilayah dengan drone dan rudal, memperingatkan akan serangan yang "jauh lebih dahsyat" jika Trump menindaklanjuti ancamannya.

Blokade Iran terhadap Selat Hormuz telah menyebabkan harga minyak dan gas melonjak. Penutupan Selat Hormuz mendorong negara-negara di seluruh dunia untuk memberlakukan langkah-langkah untuk mengatasi dampaknya.

Namun, Garda Revolusi mengatakan bahwa Selat Hormuz "tidak akan pernah kembali ke statusnya semula, terutama bagi AS dan Israel".

Serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran dimulai sejak 28 Februari yang lalu. Iran membalas dengan menyerang Israel dan berbagai pangkalan militer Amerika. (bbs/ram)

Editor : Juli Rambe
#petrokimia iran #timur tengah #Perang iran