Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Trump Perpanjang Gencatan, Lautan Tetap Bergolak

Johan Panjaitan • Kamis, 23 April 2026 | 11:45 WIB
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump akan kenakan tarif 10 persen tergabung BRICS.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump akan kenakan tarif 10 persen tergabung BRICS.

 

TEHERAN, Sumutpos.jawapos.com-Keputusan Donald Trump memperpanjang gencatan senjata dengan Iran tak serta-merta meredakan ketegangan. Di atas kertas, ruang diplomasi masih terbuka. Namun di laut, tekanan justru mengeras—membuat jeda konflik terasa lebih sebagai penangguhan, bukan penyelesaian.

Gencatan dua pekan yang berakhir pada 22 April itu diperpanjang dengan syarat: Teheran diminta mengajukan “proposal terpadu” untuk mengakhiri konflik. Trump bahkan sempat melontarkan ancaman serangan besar bila Iran menolak kembali ke meja perundingan. Meski demikian, opsi militer untuk sementara ditahan, seiring dorongan dari sejumlah pemimpin regional agar jalur diplomasi tetap diutamakan.

Namun, realitas di lapangan berbicara lain. Blokade laut yang dilakukan Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran masih berlangsung. Bahkan, laporan mengenai penyerangan terhadap kapal kargo Iran mempertegas bahwa eskalasi belum benar-benar surut.

Baca Juga: Kurang dari 24 Jam, Polres Langkat Ungkap Curas Bersenpi Rakitan

Bagi Teheran, langkah tersebut bukan sekadar tekanan—melainkan pelanggaran. Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyebut blokade sebagai tindakan agresi yang mencederai semangat gencatan senjata.

“Memblokade pelabuhan Iran adalah tindakan perang. Menyerang kapal dagang dan menahan awaknya adalah pelanggaran yang lebih besar lagi,” ujarnya, menegaskan posisi negaranya.

Pernyataan itu sekaligus mencerminkan sikap Iran yang tidak ingin terlihat tunduk di bawah tekanan. Araghchi menegaskan, negaranya memiliki kapasitas untuk bertahan dan merespons setiap bentuk pembatasan yang dianggap melanggar kedaulatan.

Selat Hormuz Memanas

Di tengah ketegangan itu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengambil langkah yang semakin memperkeruh situasi. Dua kapal asing—MSC Francesca yang disebut terkait Israel dan Epaminodes—disita di Selat Hormuz.

Menurut IRGC, kedua kapal tersebut melintas tanpa izin dan dianggap membahayakan keselamatan maritim. Operasi penyitaan disebut sebagai bagian dari upaya menjaga kedaulatan dan keamanan wilayah perairan Iran.

Baca Juga: TMMD di Gebang Langkat, Wujud Akselerasi Pembangunan Desa

“Dengan kemampuan intelijen yang kami miliki, kedua kapal berhasil diidentifikasi dan dihentikan,” demikian pernyataan resmi yang dirilis melalui media pemerintah.

Langkah ini menegaskan bahwa Selat Hormuz—urat nadi perdagangan energi global—kembali menjadi titik rawan yang sarat risiko. Setiap pergerakan di kawasan ini kini bukan hanya soal navigasi, tetapi juga kalkulasi politik dan militer.

Dampak hingga Indonesia

Ketegangan tersebut turut berdampak hingga ke Indonesia. Menteri Luar Negeri Sugiono mengungkapkan bahwa dua kapal milik Pertamina masih tertahan dan belum dapat melintasi Selat Hormuz.

Pemerintah Indonesia kini terus bernegosiasi dengan pihak Iran untuk memastikan kelancaran pelayaran di tengah situasi yang semakin kompleks.

“Apa yang menjadi kebijakan di tingkat atas, tidak selalu mudah diimplementasikan di lapangan,” ujarnya, menggambarkan rumitnya dinamika yang dihadapi.

Antara Diplomasi dan Tekanan

Perpanjangan gencatan senjata sejatinya membuka peluang dialog. Namun, ketika tekanan ekonomi dan militer tetap berjalan, kepercayaan menjadi barang langka. Iran melihat inkonsistensi, sementara Amerika Serikat mempertahankan strategi tekanan sebagai alat tawar.

Baca Juga: Levante vs Sevilla: Bertaruh Nasib di Ujung Musim

Di antara dua pendekatan itu, laut menjadi panggung paling nyata—tempat di mana keputusan politik diuji oleh realitas.

Gencatan mungkin diperpanjang. Tetapi selama blokade tetap berlangsung dan kapal-kapal masih dicegat, ketegangan belum benar-benar menemukan jedanya.(jpg/han)

Editor : Johan Panjaitan
#donald trump #amerika serikat #selat hormuz #iran #gencatan senjata