LONDON, Sumutpos.jawapos.jawapos.com – Di tengah gejolak energi global, OPEC+ kembali memainkan kartunya. Aliansi produsen minyak itu sepakat menaikkan target produksi sebesar 188 ribu barel per hari mulai Juni. Ini menjadi kenaikan bulanan ketiga berturut-turut—sebuah sinyal bahwa pasokan akan ditambah, meski dampaknya belum tentu langsung terasa.
Keputusan tersebut lahir dari konsensus tujuh negara kunci: Arab Saudi, Irak, Kuwait, Aljazair, Kazakhstan, Rusia, dan Oman. Namun, di balik angka yang terlihat progresif, realitas di lapangan jauh lebih kompleks.
Akar persoalannya terletak di Selat Hormuz—jalur vital yang selama ini menjadi nadi bagi hampir 20 persen distribusi minyak dan gas alam cair (LNG) dunia. Konflik yang masih membayangi kawasan tersebut membuat tambahan produksi berpotensi hanya menjadi angka di atas kertas.
“Peningkatan ini belum sepenuhnya riil sampai distribusi dari Teluk kembali normal,” ujar sumber internal, seperti dikutip Reuters.
Baca Juga: Polisi “Sisir” Objek Wisata di Sosa, Pastikan Akhir Pekan Aman dan Nyaman
Dengan kata lain, pasar belum akan merasakan banjir pasokan dalam waktu dekat. Bahkan jika jalur distribusi dibuka kembali, pemulihan logistik energi diperkirakan memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan.
Sementara itu, tekanan di pasar justru kian terasa. Harga minyak dunia melonjak hingga menembus USD 125 per barel—level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Lonjakan ini bukan sekadar angka, melainkan refleksi dari kecemasan yang lebih luas: potensi krisis energi, ancaman kelangkaan bahan bakar, hingga tekanan inflasi global.
Baca Juga: Januari-April, Polres Langkat Ungkap 127 Kasus Narkotika
Langkah OPEC+ pun terbaca sebagai strategi antisipatif—menyiapkan suplai tambahan untuk saat kondisi mereda. Bukan solusi instan, melainkan posisi siaga.
Data terbaru memperlihatkan produksi minyak mentah OPEC+ berada di angka 35,06 juta barel per hari pada Maret. Angka ini justru turun signifikan dibanding Februari, terutama akibat terbatasnya ekspor dari Irak dan Arab Saudi. Di sisi lain, Rusia juga menghadapi tekanan produksi setelah infrastruktur energinya terdampak serangan drone dalam konflik regional.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan