Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Trump dan Xi Jinping Sepakat Selat Hormuz Harus Dibuka, Dorong Penghentian Konflik

Johan Panjaitan • Minggu, 17 Mei 2026 | 13:30 WIB
SEPAKAT: Presiden Amerika Serikat dan Presiden Tiongkok Xi Jinping sepakat Selat Hormuz dibuka dan penghentian perang. (CNN)
SEPAKAT: Presiden Amerika Serikat dan Presiden Tiongkok Xi Jinping sepakat Selat Hormuz dibuka dan penghentian perang. (CNN)

 

BEIJING, Sumutpos.jawapos.com – Pertemuan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Beijing pada 14–15 Mei menjadi perhatian dunia internasional. Di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, kedua pemimpin membahas isu Iran hingga ancaman terhadap jalur energi global di Selat Hormuz.

Dalam pernyataannya usai pertemuan, Trump menegaskan pentingnya menjaga Selat Hormuz tetap terbuka bagi pelayaran internasional. Jalur strategis tersebut selama ini menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia karena dilalui sekitar seperlima distribusi minyak dan gas alam cair global.

“Kami tidak ingin mereka memiliki senjata nuklir. Kami ingin selat itu dibuka,” ujar Trump.

Pernyataan tersebut menegaskan kekhawatiran Washington terhadap potensi eskalasi konflik yang dapat mengganggu stabilitas energi dunia. Menurut Trump, Xi Jinping juga menolak langkah Iran yang berpotensi membatasi akses kapal internasional di Selat Hormuz.

Baca Juga: SPPG 5 Kotapinang Salurkan 943 Porsi Makanan Bergizi untuk Pelajar

Trump bahkan mengungkapkan bahwa pemimpin Tiongkok itu berjanji tidak akan mengirim peralatan militer ke Iran di tengah meningkatnya ketegangan antara Teheran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Meski demikian, pemerintah Tiongkok memilih merespons secara lebih hati-hati. Melalui kementerian luar negerinya, Beijing hanya menyampaikan bahwa konflik di kawasan tidak seharusnya terus berlanjut dan semua pihak perlu mengedepankan stabilitas.

Walau mengklaim adanya kesepahaman dengan Xi, Trump menegaskan bahwa Washington tidak secara khusus meminta bantuan Beijing dalam menghadapi Iran. Namun, ia membuka peluang untuk mencabut sanksi terhadap perusahaan minyak Tiongkok yang selama ini membeli minyak Iran.

Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyatakan negaranya masih membuka ruang diplomasi dengan Amerika Serikat. Ia berharap normalisasi keamanan di Selat Hormuz dapat segera tercapai, meski mengakui tingkat kepercayaan Teheran terhadap Washington masih rendah.

Baca Juga: Dua Pelajar Terbaik Padang Lawas Siap Berlaga di Seleksi Paskibraka Provinsi Sumut

Ketegangan Timur Tengah juga menjadi pembahasan dalam pertemuan bilateral Indonesia–Rusia di Moskow. Wakil Menteri Luar Negeri RI Anis Matta bertemu Deputi Menteri Luar Negeri Rusia Georgy Borisenko untuk membahas berbagai isu strategis, mulai dari Palestina, Selat Hormuz, hingga stabilitas kawasan.

Dalam pertemuan tersebut, kedua negara menekankan pentingnya kerja sama internasional guna menjaga keamanan dan mendorong perdamaian melalui forum-forum global seperti Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan BRICS.

“Indonesia dan Rusia memiliki kesamaan pandangan bahwa kawasan Timur Tengah mengalami perubahan cepat, sehingga diperlukan kolaborasi untuk menjaga stabilitas,” ujar Anis Matta.

Pertemuan di Beijing dan Moskow itu menunjukkan bahwa Selat Hormuz kini bukan lagi sekadar jalur pelayaran biasa, melainkan titik krusial yang menentukan stabilitas geopolitik dan keamanan energi dunia.

Keputusan politik yang diambil dalam beberapa hari ke depan diperkirakan akan sangat memengaruhi arah konflik di Timur Tengah sekaligus menentukan stabilitas pasokan energi global.(jpg/han)

Editor : Johan Panjaitan
#donald trum #xi jinping #energi dunia #selat hormuz