NEW YORK, Sumutpos.jawapos.com – Elon Musk kembali mencatatkan sejarah baru dalam dunia bisnis global. Pendiri Tesla dan SpaceX itu diproyeksikan menjadi manusia pertama yang memiliki kekayaan lebih dari USD 1 triliun setelah lonjakan valuasi SpaceX mendorong total asetnya menembus USD 1,1 triliun atau sekitar Rp17.800 triliun.
Pencapaian tersebut menandai babak baru dalam peta kekayaan dunia. Jika selama beberapa dekade status miliarder menjadi simbol puncak kesuksesan finansial, Musk kini berada di ambang level yang belum pernah dicapai siapa pun sebelumnya: triliuner dolar.
Katalis utama lonjakan kekayaan itu berasal dari keberhasilan penawaran saham perdana (IPO) SpaceX yang dilaporkan menghimpun dana sekitar USD 75 miliar. Langkah tersebut mendorong valuasi perusahaan antariksa milik Musk ke rekor tertinggi dan mengangkat nilai kepemilikannya secara signifikan.
Baca Juga: Spanyol vs Tanjung Verde: Duel Kandidat Juara dan Debutan Bersejarah
Berdasarkan perhitungan Forbes dan Reuters, nilai saham yang dimiliki Musk di SpaceX kini diperkirakan mencapai sekitar USD 866 miliar. Ketika digabungkan dengan kepemilikannya di Tesla serta sejumlah aset bisnis lainnya, total kekayaan Musk diproyeksikan melampaui USD 1,1 triliun saat saham SpaceX mulai diperdagangkan di pasar.
Angka tersebut semakin menegaskan dominasi Musk dalam daftar orang terkaya dunia. Bahkan sebelum IPO SpaceX, Forbes memperkirakan kekayaannya telah berada di kisaran USD 780 miliar, jauh meninggalkan para taipan teknologi lain yang sebagian besar memiliki kekayaan di bawah USD 400 miliar.
Analis Forbes Wealth Matt Durot menilai kesenjangan kekayaan antara Musk dan para pesaingnya kini semakin sulit dikejar.
"Orang terkaya kedua selama ini berada di kisaran sekitar USD 300 miliar, atau kurang dari sepertiga potensi kekayaan Musk jika kondisi saat ini berlanjut," ujar Durot.
Menurutnya, hanya beberapa tokoh teknologi yang pernah mendekati level tersebut, termasuk Larry Ellison yang sempat menyentuh kisaran USD 400 miliar. Namun, tidak ada yang mampu mendekati laju pertumbuhan kekayaan Musk dalam beberapa tahun terakhir.
Di balik lonjakan itu, SpaceX menjadi aset paling berharga dalam kerajaan bisnis Musk. Perusahaan yang bergerak di bidang peluncuran roket, layanan satelit, hingga pengembangan teknologi luar angkasa tersebut kini dipandang sebagai salah satu perusahaan teknologi paling strategis di dunia.
Baca Juga: Iran vs Selandia Baru: Adu Ketajaman Taremi dan Ketangguhan Chris Wood
Keberhasilan berbagai misi antariksa, ekspansi layanan internet satelit Starlink, serta dominasi SpaceX dalam industri peluncuran komersial telah meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek perusahaan dalam jangka panjang.
Sementara itu, Tesla tetap menjadi pilar utama lainnya. Meski menghadapi persaingan yang semakin ketat di industri kendaraan listrik global, Tesla masih menjadi salah satu perusahaan otomotif dengan valuasi terbesar di dunia dan terus memberikan kontribusi signifikan terhadap kekayaan Musk.
Analis Renaissance Capital Matt Kennedy menilai tingginya valuasi SpaceX tidak semata-mata didorong oleh kinerja bisnis perusahaan, tetapi juga oleh besarnya kepercayaan investor terhadap sosok Elon Musk.
"Nilai perusahaan tidak hanya ditentukan oleh kinerja bisnis, tetapi juga oleh kepercayaan investor terhadap visi dan kepemimpinan Elon Musk," katanya.
Selain SpaceX dan Tesla, Musk juga memiliki sejumlah perusahaan lain yang bergerak di sektor teknologi masa depan, mulai dari perusahaan terowongan transportasi The Boring Company, perusahaan teknologi antarmuka otak Neuralink, hingga platform media sosial X.
Namun demikian, SpaceX dan Tesla tetap menjadi dua mesin utama yang menggerakkan pertumbuhan kekayaannya. Kombinasi keduanya tidak hanya mengukuhkan Musk sebagai orang terkaya di dunia, tetapi juga menempatkannya di ambang tonggak sejarah baru sebagai triliuner dolar pertama dalam peradaban modern.
Jika tren valuasi perusahaan-perusahaannya terus berlanjut, dominasi Musk dalam daftar kekayaan global tampaknya masih akan berlangsung dalam waktu yang panjang.(jpc/han)
Editor : Johan Panjaitan