WASHINGTON, Sumutpos.jawapos.com- Klaim mengejutkan datang dari mantan anggota Kongres Amerika Serikat (AS) Marjorie Taylor Greene. Ia menyebut penggunaan senjata nuklir terhadap Iran telah dibahas dalam pertemuan strategi tingkat tinggi pemerintah AS di tengah perang Washington dan Teheran.
Greene menyampaikan klaim tersebut melalui akun X. Ia mengatakan informasi itu bukan spekulasi, namun tidak mengungkap siapa pejabat yang disebut terlibat maupun bukti yang menjadi dasar pernyataannya.
Baca Juga: Pemko Binjai Tawarkan Rusunawa untuk Korban Kebakaran
“Mereka sedang membahas penggunaan senjata nuklir terhadap Iran dalam pertemuan strategi,” tulis Greene.
Ia bahkan menegaskan, “Itu nyata. Aku tidak berspekulasi, aku tahu.”
Klaim tersebut belum terverifikasi secara independen. Hingga laporan ini dibuat, Gedung Putih juga belum mengonfirmasi adanya pembahasan resmi mengenai penggunaan senjata nuklir terhadap Iran. Laporan media lain mengenai pernyataan Greene juga menempatkannya sebagai sebuah klaim yang belum dibuktikan.
Peringatkan Risiko Eskalasi Nuklir
Greene tidak hanya menyoroti dugaan pembahasan tersebut, tetapi juga memperingatkan kemungkinan diturunkannya ambang penggunaan senjata nuklir dalam konflik dengan Iran.
Menurutnya, langkah semacam itu dapat membawa konsekuensi yang jauh lebih besar daripada perang yang sedang berlangsung. Ia mengingatkan kembali tragedi Hiroshima dan Nagasaki pada 1945 sebagai gambaran mengerikan mengenai dampak penggunaan senjata nuklir terhadap manusia.
Baca Juga: Mantan Jampidsus Febrie Adriansyah Minta Harta yang Disita Dikembalikan
Greene menilai pengalaman sejarah tersebut semestinya menjadi peringatan agar senjata nuklir tidak kembali digunakan dalam konflik berskala besar.
Ia bahkan memperingatkan bahwa penggunaan senjata nuklir terhadap Iran dapat menyeret dunia ke dalam konflik yang lebih luas, memicu guncangan ekonomi dan menimbulkan penderitaan manusia dalam skala yang sulit diperkirakan.
Persoalkan Dasar Perang AS-Iran
Kritik Greene juga menyentuh alasan strategis Washington dalam menghadapi Iran. Ia mengklaim Presiden Donald Trump dan pemerintahannya sebelumnya menerima penilaian intelijen AS bahwa Iran masih jauh dari kemampuan membuat senjata nuklir.
Di sisi lain, Greene menyebut Israel selama bertahun-tahun terus memperingatkan bahwa Iran hanya tinggal beberapa pekan dari kemampuan tersebut.
Baca Juga: Siantar Selatan Masuk Evaluasi Lomba IVA Test Tingkat Provinsi Sumut, Fokus Perkuat Deteksi Dini Kan
Atas dasar perbedaan penilaian itu, Greene mempertanyakan keputusan Washington untuk tetap melanjutkan serangan terhadap Iran.
Sikap tersebut sejalan dengan kritik Greene sebelumnya terhadap perang Iran. Dalam wawancara CNN pada Juni 2026, ia mengatakan perang tersebut seharusnya tidak terjadi dan mempertanyakan arah kebijakan Trump yang sebelumnya berjanji menghindari perang luar negeri.
Greene juga menilai klaim kemenangan pemerintah AS perlu dipertanyakan, terutama ketika perang belum menghasilkan penyelesaian yang dianggap menentukan sementara situasi di sekitar Selat Hormuz tetap menjadi salah satu titik paling sensitif dalam konflik.
Klaim Serius, Bukti Belum Terungkap
Pernyataan Greene menempatkan isu nuklir kembali di pusat perhatian, tetapi klaim tersebut perlu dibedakan dari keputusan resmi pemerintah AS.
Hingga kini, tidak ada konfirmasi publik dari Gedung Putih mengenai rencana menggunakan senjata nuklir terhadap Iran. Greene sendiri tidak membeberkan bukti atau sumber yang dapat diverifikasi secara independen untuk mendukung pernyataannya.
Karena itu, klaim tersebut masih berada pada ranah tuduhan politik yang belum terkonfirmasi, bukan bukti bahwa Washington telah memutuskan menggunakan senjata nuklir.
Namun, bagi Greene, kemungkinan tersebut sudah cukup untuk memicu peringatan keras.
“Jangan gunakan senjata nuklir dan hentikan perang ini sekarang,” serunya.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan