WASHINGTON, Sumutpos.jawapos.com – Isu nuklir Korea Utara kembali menjadi sorotan setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkap angka kepemilikan senjata nuklir Pyongyang. Trump menyebut Korea Utara kini memiliki sekitar 57 senjata nuklir dan menegaskan tidak akan membiarkan kondisi tersebut jika dirinya kembali menjabat sebagai presiden.
Pernyataan itu disampaikan Trump di Gedung Putih, Rabu (19/8), ketika ia mengungkap rencana untuk kembali bertemu dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong-un pada akhir tahun ini.
“Dia (Kim Jong-un) memiliki 57 senjata nuklir yang sangat kuat. Seharusnya itu tidak pernah dibiarkan terjadi. Jika saya menjadi presiden, saya tidak akan membiarkannya,” kata Trump.
Baca Juga: Arsenal vs Coventry City: Beban Juara Bertahan dan Ancaman Sang Penantang
Pernyataan tersebut kembali menempatkan isu denuklirisasi Korea Utara dalam pusaran diplomasi AS-Korut. Trump sebelumnya dikenal memiliki pendekatan langsung terhadap Kim Jong-un, termasuk melalui sejumlah pertemuan tingkat tinggi yang menjadi perhatian dunia.
Kim Yo-jong Klaim Tak Tahu Komunikasi Trump-Kim
Di tengah pernyataan Trump mengenai rencana pertemuan dengan Kim Jong-un, Pyongyang justru memberikan respons yang lebih dingin.
Kim Yo-jong, adik Kim Jong-un yang juga merupakan salah satu figur penting dalam pemerintahan Korea Utara, mengaku tidak mengetahui adanya komunikasi terbaru antara kakaknya dengan Trump.
“Saya sama sekali tidak mengetahui mengenai komunikasi yang dilaporkan terjadi antara kedua pemimpin,” ujar Kim Yo-jong.
Pernyataan tersebut menambah tanda tanya mengenai sejauh mana komunikasi antara Washington dan Pyongyang telah berlangsung serta apakah rencana pertemuan kembali kedua pemimpin benar-benar sudah memasuki tahap konkret.
Korsel Sebut Arsenal Nuklir Korut Lebih Besar
Angka yang disampaikan Trump juga berbeda dari perkiraan Korea Selatan. Menteri Pertahanan Korea Selatan Ahn Gyu-back memperkirakan Korea Utara memiliki sekitar 80 hingga 120 senjata nuklir.
Perbedaan estimasi tersebut menunjukkan sulitnya mendapatkan angka pasti mengenai kekuatan nuklir Pyongyang. Program nuklir Korea Utara selama bertahun-tahun berkembang secara tertutup, sementara akses terhadap informasi mengenai jumlah hulu ledak dan kemampuan operasionalnya sangat terbatas.
Seoul sendiri tetap menolak mengakui Korea Utara sebagai negara nuklir. Namun, perkembangan kemampuan nuklir Pyongyang terus menjadi salah satu ancaman keamanan terbesar di Semenanjung Korea.
Kini, rencana pertemuan Trump dan Kim Jong-un kembali membuka pertanyaan lama: apakah diplomasi personal kedua pemimpin mampu membawa terobosan baru, atau justru kembali berhadapan dengan kebuntuan mengenai senjata nuklir Korea Utara.(jpg/han)
Editor : Johan Panjaitan