SUMUT POS- Ada danau baru yang terbentuk akibat longsor di perbatasan Nepal-Tibet. Danau itu kini menjadi ancaman baru terjadinya bencana. Walaupun para ahli menilai airnya masih mungkin mengalir keluar secara alami.
Ancaman ini muncul beberapa hari setelah banjir bandang mematikan menerjang kawasan yang sama.
Bencana pada Rabu diduga dipicu runtuhnya bagian gletser dekat Langtang Lirung yang menghantam sungai dan mengirim gelombang air bercampur material ke wilayah hilir.
Baca Juga: Korban Banjir Nepal- China, 300 Orang Meninggal dan Ribuan Dinyatakan Hilang
Longsoran kemudian membendung aliran sungai dan membentuk danau penghalang (barrier lake) di bagian hulu, beberapa kilometer dari Gyirong Port, jalur utama yang menghubungkan Nepal dan Tiongkok.
Menurut laporan CCTV, sekitar 2,5 juta meter kubik air telah terkumpul di danau hingga Jumat. Sekitar 3 juta meter kubik air tambahan diperkirakan masih masuk hingga akhir pekan.
Otoritas Tiongkok pun memperingatkan risiko tinggi tanggul alami tersebut jebol.
Danau bahkan mulai meluap sejak Kamis lalu. Pada Jumat (28/8) pagi, drone militer Tiongkok merekam longsoran salju yang memasukkan sekitar 50.000 meter kubik material es ke dalam danau.
Hujan deras dan badai yang diperkirakan terjadi dalam beberapa hari ke depan juga dapat kembali meningkatkan volumenya.
Bukan hanyabanjiryang dikhawatirkan. Jika danau jebol, dampaknya kemungkinan tidak akan sebesarbanjirbandang pada Rabu karena danau masih baru terbentuk dan relatif dangkal.
Namun, air yang keluar dapat mengikis lereng lembah yang sudah rentan dan memicu longsor baru.
Jakob Steiner, geosaintis University of Graz, mengatakan material di lereng gunung masih mungkin bergerak.
"Tidak semua material di gunung bisa turun, masih belum stabil, jadi ada kemungkinan sesuatu akan jatuh," kata Steiner mengutip BBC.
Mohd Farooq Azam, glasio-hidrolog dari International Centre for Integrated Mountain Development, juga meminta tim penyelamat mewaspadai gelombang sekunder dan longsor susulan.
"Pihak berwenang harus sangat berhati-hati untuk penyelamatan dan bersiap menghadapi gelombang sekunder dan longsor pascabencana karena dinding lembah telah disiram dan jauh lebih rentan," kata Azam. (jpc/ram)
Editor : Juli Rambe