Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Cegah Resistensi, Gunakan Antibiotik dengan Bijak

Admin SP • Senin, 21 Oktober 2024 | 17:29 WIB
Photo
Photo

SUMUTPOS.CO - Penyakit infeksi merupakan permasalahan yang sering terjadi di masyarakat Indonesia. Tingginya penyakit infeksi mengakibatkan semakin meningkatnya penggunaan antibiotik.

Masyarakat pun perlu memahami, bahwa antibiotik hanya efektif melawan bakteri, bukan virus atau jamur. Jadi, hanya gunakan antibiotik saat diperlukan dan dengan resep dokter tentunya.

Namun, penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan resistensi antibiotik. Resistensi antibiotik atau kebal terhadap efek antibiotik terjadi saat bakteri tidak lagi merespon efektif terhadap antibiotik yang seharusnya menghentikan pertumbuhan atau membunuh bakteri.

Masalah ini semakin memburuk karena banyak orang yang mendapatkan antibiotik tanpa resep dokter dan kurang pemahaman tentang cara penggunaannya.

Penggunaan antibiotik yang benar dan bijak dapat mengurangi beban penyakit khususnya penyakit infeksi. Sebaliknya, penggunaan yang salah dan tidak sesuai indikasi dapat menyebabkan terjadinya resistensi antibiotik.

Melalui pemahaman mendalam terhadap penyebab ini, kita dapat mengambil langkah-langkah preventif yang lebih efektif dalam mengatasi resistensi antibiotik.

Cara Penggunaan Antibiotik yang Tepat:

1. Konsultasi dengan Dokter
Hindari membeli antibiotik tanpa resep dokter.

2. Diagnosa yang Akurat
Pastikan antibiotik digunakan untuk infeksi bakteri, bukan virus atau jamur.

3. Habiskan Sesuai Aturan
Jangan berhenti minum antibiotik sebelum habis, meskipun gejala telah mereda.

4. Jangan Menyimpan Sisa Obat
Hindari menyimpan antibiotik yang tidak terpakai di rumah.

5. Jangan Memberikan kepada Orang Lain
Antibiotik yang diresepkan untuk seseorang tidak boleh diberikan kepada orang lain.

Untuk diketahaui, penggunaan antibiotik harus selektif. Artinya harus pada kasus-kasus yang memang telah dijustifikasi oleh dokter sebagai infeksi kuman. Antibiotik bukan obat demam, antibiotik juga bukan obat sakit kepala.

Jangan sampai antibiotik digunakan atau diasumsikan sebagai obat penurun demam, karena tidak semua demam disebabkan oleh infeksi bakteri. Demam dapat disebabkan oleh infeksi virus, parasit atau bahkan hal-hal lain seperti penyakit autoimun, kadang juga dapat terjadi pada orang stroke, dehidrasi, atau pada pasien-pasien dengan keganasan.

Sekali lagi, antibiotik tidak boleh diberikan pada kasus-kasus demam yang bukan dijustifikasi secara klinis disebabkan oleh infeksi kuman, karena justru hal ini akan memicu perluasan risiko terjadinya tekanan seleksi dan resistensi antibiotik akan semakin meluas.

Mengapa Antibiotik Harus Dihabiskan Sesuai Resep?

Pentingnya menyelesaikan seluruh resep antibiotik menjadi faktor kunci dalam eradicating bakteri penyebab infeksi secara tuntas. Dengan menyelesaikan resep antibiotik secara penuh, kita dapat meminimalkan peluang bakteri untuk mengalami mutasi atau mengembangkan resistensi, sehingga pengobatan pada kunjungan berikutnya tetap efektif.

Selain itu, resistensi antibiotik merupakan ancaman serius bagi kesehatan global, di mana penghentian prematur pengobatan dapat meningkatkan risiko bakteri yang selamat mengembangkan mekanisme pertahanan, merugikan efektivitas antibiotik pada masa mendatang.

Mencegah resistensi antibiotik juga melibatkan upaya untuk mencegah bakteri menjadi lebih kuat. Bakteri yang selamat dari pengobatan antibiotik cenderung mengalami perkembangan yang membuatnya lebih tangguh.

Oleh karena itu, pemahaman masyarakat tentang antibiotik dan penggunaannya yang bijak menjadi kunci dalam mengatasi resistensi antibiotik. Disiplin dalam mengikuti aturan penggunaan obat sesuai anjuran dokter menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan dan mencegah dampak buruk dari resistensi antibiotik.(bbs/han)

Editor : Redaksi
#antibiotik