Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Belajar Bukan Sekadar Mengejar Nilai, Ini 6 Strategi untuk Menguasai Ilmu Seumur Hidup

Johan Panjaitan • Rabu, 30 Juli 2025 | 11:00 WIB
ilustrasi.   Belajar adalah kemampuan bertahan hidup—kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mengingat informasi secara mendalam.
ilustrasi. Belajar adalah kemampuan bertahan hidup—kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mengingat informasi secara mendalam.

Sumutpos.jawapos.com-Dalam dunia pendidikan saat ini, belajar masih sering disalahartikan sebagai aktivitas mengejar nilai semata. Padahal, belajar sejatinya adalah kemampuan bertahan hidup—kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mengingat informasi secara mendalam, terutama ketika dihadapkan pada situasi penting seperti presentasi kerja, sidang skripsi, atau ujian masuk perguruan tinggi.

Dilansir dari Channel edukasi Edektif, ada enam pilar belajar berdasarkan hasil riset ilmiah selama puluhan tahun. Dalam riset ini membongkar mitos populer di dunia pendidikan dan menawarkan pendekatan baru yang lebih efektif, berdasarkan studi psikologi dan neurosains.

Enam Pilar Belajar Efektif
1. Retrieval Practice: Menguatkan Ingatan dengan Mengingat Ulang
Belajar bukan soal berapa banyak informasi yang kita masukkan ke otak, melainkan bagaimana kita melatih otak untuk mengeluarkan informasi tersebut kembali. Teknik retrieval practice melatih memori layaknya otot yang hanya berkembang ketika digunakan secara aktif.

2. Spaced Repetition: Belajar dengan Jeda untuk Daya Ingat Lebih Lama
Daripada belajar semalam suntuk (SKS), teknik spaced repetition mendorong pembelajaran bertahap dan berulang dengan jeda waktu tertentu. Ini membantu otak menyimpan informasi di memori jangka panjang.

3. Desirable Difficulties: Rasa Sulit Tanda Proses Belajar Berlangsung
Kesulitan saat belajar justru dibutuhkan karena menunjukkan bahwa otak sedang membentuk koneksi baru. Jika belajar terasa terlalu mudah, bisa jadi kita hanya mengulang hal yang sudah diketahui tanpa memperdalam pemahaman.

4. Multisensory Learning: Libatkan Semua Indra
Konsep gaya belajar (visual, auditory, kinestetik) terbukti hanya mitos. Pendekatan multisensori—melibatkan berbagai indra seperti penglihatan, pendengaran, sentuhan, dan gerakan—lebih efektif dalam memperkuat pemahaman dan ingatan.

5. Hindari Ilusi Pengetahuan: Pahami, Bukan Sekadar Familiar
Membaca berulang kali hanya menciptakan rasa "kenal", bukan "paham". Ilusi pengetahuan bisa membuat seseorang merasa tahu, padahal tidak bisa menjelaskan kembali informasi tersebut secara utuh.

6. Refleksi: Evaluasi Diri Setelah Belajar
Refleksi adalah bagian penting dari proses belajar. Menganalisis apa yang salah dan apa yang bisa diperbaiki setelah tryout atau ujian adalah langkah krusial untuk mempercepat kemajuan pembelajaran.

Penekanan utamanya dalah bahwa belajar bukan soal siapa yang paling lama atau paling keras belajarnya, melainkan siapa yang paling cerdas dalam memilih strategi yang tepat.

Enam strategi ini bukanlah urutan tangga yang harus diikuti, melainkan pilar-pilar yang bisa dibangun sesuai kebutuhan masing-masing individu.

Berdasarkan riset dari University of London, penggunaan mind map dapat meningkatkan kapasitas memori hingga 24 persen.

Melalui pendekatan berbasis sains dan teknologi, Edektif mengajak masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap belajar: dari sekadar rutinitas akademik menjadi investasi jangka panjang yang memengaruhi karier, kehidupan, dan masa depan.(han)

Editor : Johan Panjaitan
#informasi #belajar #Analisis