Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Bahaya Mengintai! Begini Cara Cek Ban Mobil Kedaluwarsa dan Risiko Jika Tetap Dipakai

Johan Panjaitan • Senin, 2 Februari 2026 | 17:00 WIB
ILUSTRASI: Cara mengecek usia ban mobil. (FREEPIK)
ILUSTRASI: Cara mengecek usia ban mobil. (FREEPIK)

Sumutpos.jawapos.com-Ban mobil bukan sekadar alas kendaraan. Ia memiliki masa pakai yang, jika diabaikan, bisa menimbulkan risiko serius bagi keselamatan. Bahkan ban yang jarang dipakai sekalipun tetap bisa menua karena faktor lingkungan.

Dilansir dari lama Suzuki Indonesia, berikut cara mengecek ban mobil Anda dan mengapa mengganti ban kedaluwarsa itu penting:

1. Mengetahui Usia Ban Mobil

Umumnya, ban mobil aman digunakan 5–6 tahun sejak tanggal produksi, tergantung kondisi penyimpanan dan cara pemakaian. Anda bisa mengetahui usia ban dengan beberapa cara:

a. Memeriksa Kode DOT

Semua ban memiliki kode DOT di dinding ban.

Empat digit terakhir kode ini penting: dua digit pertama = minggu produksi, dua digit terakhir = tahun produksi.

Contoh: DOT “2026” → diproduksi minggu ke-20, tahun 2026.

b. Mengecek Rekomendasi Pabrikan

Beberapa merek mencantumkan tanggal kadaluarsa langsung di ban, memudahkan Anda menentukan kapan harus diganti.

c. Pemeriksaan Visual

Periksa kondisi ban: retak, benjol, tapak tipis, atau permukaan keras.

Ban dengan kerusakan fisik harus diganti meski usianya belum mencapai 5 tahun.

d. Memperhatikan Kinerja Ban

Getaran berlebih pada kemudi, mobil kurang stabil saat menikung, suara dengungan, atau jarak pengereman yang bertambah → bisa menjadi tanda ban aus atau sudah tua.

e. Konsultasi ke Bengkel

Jika ragu, bawa ke bengkel resmi. Teknisi dapat menilai kondisi ban secara profesional.

2. Bahaya Menggunakan Ban Kedaluwarsa

- Ban mobil yang sudah melewati masa pakainya bisa menimbulkan risiko serius:

- Karet Keras & Tidak Nyaman – Ban kehilangan elastisitas, membuat perjalanan menjadi keras dan berisik.

- Daya Cengkeram Berkurang – Ban tua lebih sulit menempel di aspal, mengurangi kontrol kendaraan.

- Risiko Meletus – Tekanan tinggi atau beban berat dapat membuat ban pecah.

- Traksi Menurun – Ban aus sulit dikendalikan, terutama di jalan basah atau tikungan tajam.

- TWI Tidak Efektif – Indikator keausan (Tread Wear Indicator) tidak bekerja maksimal karena karet mengeras.

- Boros Bahan Bakar – Ban yang tidak elastis membuat mesin bekerja lebih keras.

- Aquaplaning – Ban tua tidak mampu membuang air secara optimal, meningkatkan risiko tergelincir.

- Benjol & Retak – Struktur ban rapuh akibat oksidasi, mudah pecah saat mendapat tekanan atau benturan keras.

3. Cara Merawat Ban Agar Lebih Awet

Setelah mengganti ban, lakukan perawatan untuk memperpanjang umur pakai:

- Balancing dan Spooring – Lakukan tiap 20.000 km (atau 10.000 km jika jalan rusak).

- Periksa Tekanan Angin – Pastikan sesuai rekomendasi pabrikan.

- Rotasi Ban – Setiap 10.000 km agar keausan merata.

- Hindari Beban Berlebih – Ban diformulasikan untuk berat tertentu, jangan dipaksakan.

- Hindari Jalan Rusak – Retak, berlubang, atau permukaan tidak rata mempercepat kerusakan ban.

Ban mobil memiliki usia pakai yang nyata, bukan sekadar angka. Mengabaikan tanda-tanda ban aus atau kadaluwarsa berpotensi mengurangi kenyamanan dan keselamatan Anda. Periksa secara rutin, ganti tepat waktu, dan rawat dengan bijak.(han)

Editor : Johan Panjaitan