Kalau dulu belanja dari luar negeri terasa ribet, sekarang situasinya sudah jauh berbeda. Tinggal buka aplikasi atau website, cari barang yang diinginkan, lalu checkout. Beberapa minggu kemudian paket sudah sampai di depan rumah.
Fenomena ini makin sering terjadi di kalangan Gen Z. Ada yang membeli sneakers edisi terbatas, keyboard mechanical yang belum masuk Indonesia, skincare Korea dan Jepang, action figure, merchandise K-pop, sampai gadget yang rilis lebih dulu di luar negeri. Bahkan, tidak sedikit yang sengaja menunggu diskon besar seperti Black Friday, 11.11, atau Prime Day untuk berburu harga terbaik.
Sayangnya, ada satu jebakan yang sering luput disadari. Karena harga ditampilkan dalam mata uang lain, nominalnya sering terlihat "kecil". Padahal setelah dikonversi ke rupiah, ditambah ongkos kirim, pajak, dan biaya lainnya, total yang harus dibayar bisa bikin kaget.
Makanya, belanja lintas negara memang semakin mudah, tapi tetap perlu strategi supaya hobi checkout tidak berubah menjadi sumber stres di akhir bulan.
Perhitungkan Biaya-Biaya lain
Misalnya kamu menemukan barang incaran seharga USD30. Sekilas mungkin terasa murah. Namun ketika dihitung dengan kurs saat itu, ditambah biaya pengiriman internasional, kemungkinan pajak impor, hingga biaya administrasi pembayaran, totalnya bisa bertambah cukup jauh.
Inilah alasan kenapa banyak orang merasa pengeluarannya "kok lebih besar dari perkiraan". Fokusnya hanya pada harga produk, padahal biaya lain ikut menentukan berapa uang yang benar-benar keluar dari rekening.
Baca Juga: MTsN 2 Labura Petakan Potensi Siswa Baru Lewat Psikotes, Bekal Pembelajaran yang Lebih Tepat Sasaran
Sebelum checkout, biasakan menghitung total biaya sampai barang tiba di tangan. Cara sederhana ini bisa membantu menghindari penyesalan setelah transaksi selesai.
Hindari FOMO
Media sosial juga punya peran besar dalam mendorong belanja impulsif. Baru buka TikTok atau Instagram, muncul video unboxing produk viral. Belum selesai menonton, algoritma sudah menyodorkan iklan barang yang sama.
Belum lagi kalau muncul tulisan seperti limited edition, flash sale, atau only a few items left. Rasanya ingin buru-buru checkout karena takut kehabisan.
Baca Juga: MTsN 2 Labura Petakan Potensi Siswa Baru Lewat Psikotes, Bekal Pembelajaran yang Lebih Tepat Sasaran
Padahal, tidak semua barang yang sedang ramai benar-benar perlu dimiliki. Coba beri jeda satu atau dua hari sebelum membeli. Kalau setelah itu barang tersebut masih terasa penting dan memang masuk anggaran, baru lanjutkan transaksi. Kalau rasa ingin membelinya ternyata hilang, berarti kemungkinan besar itu hanya efek FOMO (Fear of Missing Out) sesaat.
Punya Budget Khusus
Kalau memang sering membeli barang dari merchant global, tidak ada salahnya membuat anggaran khusus. Anggap saja seperti pos hiburan atau hobi.
Untuk membantu mengatur anggaran, kamu bisa memanfaatkan aplikasi perbankan digital seperti blu by BCA Digital. Dana belanja dapat dipisahkan melalui bluSpending agar tidak bercampur dengan kebutuhan harian, sementara bluValas bisa dimanfaatkan untuk menyiapkan dana dalam mata uang asing jika memang sering bertransaksi di merchant global.
Dengan cara ini, kamu tetap bisa menikmati belanja tanpa mengganggu uang untuk kebutuhan bulanan, tabungan, maupun dana darurat. Ketika anggaran bulan itu sudah habis, tinggal menunggu periode berikutnya daripada memaksakan diri memakai uang dari pos lain.
Kebiasaan sederhana seperti ini mungkin terdengar sepele, tetapi justru menjadi pembeda antara belanja yang terencana dan belanja yang berujung penyesalan.
Belanja dari merchant luar negeri memang menawarkan lebih banyak pilihan dan kadang harga yang lebih menarik. Namun, pengalaman belanja akan terasa jauh lebih menyenangkan kalau kondisi keuangan tetap terkendali setelah paket datang. (rel)
Editor : Redaksi