sumutpos.jawapos.com - Banyak pelaku pencurian identitas memanfaatkan kebiasaan pelancong yang tergesa-gesa.
Bisa saja identitas kamu berpindah tangan saat sibuk memesan tiket, hotel, transportasi secara online, atau lainnya.
Intinya, celah untuk penipuan digital sangat terbuka jika pelancong atau wisatawan atau turis tidak waspada.
Baca Juga: Gen Z Diprediksi Jadi Generasi Terkaya di Dunia, Kekayaan Capai Rp1.215 Triliun
Melansir Travel + Leisure, Minggu (27/9/2026), pencurian identitas bisa terjadi hanya karena satu klik yang salah.
Artinya, supaya perjalanan tetap aman, penting untuk mengenali kebiasaan buruk yang sebaiknya segera dihindari.
Berikut beberapa hal yang bisa dikatakan bodoh saat traveling hingga terjadi pencurian identitas:
1. Langsung klik pesan tanpa verifikasi
Selama traveling, notifikasi email dan pesan dari platform pemesanan memang datang terus-menerus.
Karena merasa itu pesan penting, banyak orang langsung membuka tautan tanpa mengecek keasliannya.
Penipu sering membuat email phishing yang tampak meyakinkan. Jika ada pesan yang mencurigakan, jangan klik link apa pun.
Buka langsung situs resmi atau cek lewat aplikasi dan kontak yang tertera di bukti pemesanan.
Baca Juga: Dari Sopir Taksi Online Beralih Jadi Pengantar Anjing, Theo Raup Peluang Baru
Masalah ini sering muncul bukan karena serangan teknis yang canggih, tetapi karena kelengahan sesaat.
2. Percaya nomor customer service dari hasil pencarian
Saat butuh bantuan cepat, kita sering mencari nomor layanan pelanggan lewat Google.
Sayangnya, nomor yang muncul paling atas belum tentu nomor resmi. Penipu bisa memanipulasi hasil pencarian dan berpura-pura menjadi pihak maskapai atau hotel.
Solusi terbaik, yakni hubungi nomor yang ada di email konfirmasi, aplikasi resmi, atau situs terverifikasi.
Baca Juga: BMKG: Tiga Hari Kedepan Sumut Berpotensi Hujan Ringan-Sedang
Cara ini jauh lebih aman untuk mencegah pencurian identitas ataupun penipuan yang mengharuskanmu membayar biaya palsu.
3. Memakai password yang sama di banyak akun
Akun aplikasi maskapai, hotel, platform booking, hingga kartu kredit perjalanan biasanya menyimpan banyak data pribadi.
Kalau kamu memakai password yang sama di semua akun, peretas hanya perlu membobol satu akun untuk membuka akses ke yang lain.
Gunakan password unik untuk tiap akun, kalau perlu aktifkan verifikasi dua langkah (2FA).
Baca Juga: Pertamina SMEXPO 2026 Bergulir, UMKM Pekanbaru Didorong Naik Kelas
Anda juga bisa memakai password manager di Google misalnya, agar lebih mudah mengatur semuanya.
4. Mengirim data penting lewat Wi-Fi publik
Wi-Fi publik memang menggoda, terutama saat kuota internet terbatas saat bepergian.
Namun menurut laman Equifax, jaringan ini sering tidak aman dan mudah disusupi. Peretas bisa mengintip email, lampiran dokumen, atau data login kita.
Jika terpaksa menggunakan Wi-Fi publik, hindari transaksi keuangan dan pastikan hanya membuka situs terenkripsi.
Baca Juga: Kota Medan Dilanda Banjir Akibat Hujan Deras, BPBD Medan: Tidak Ada Evakuasi
Menggunakan VPN juga bisa menambah lapisan perlindungan.
5. Meninggalkan dokumen penting sembarangan di hotel
Banyak orang merasa kamar hotel aman asal terkunci dengan baik, padahal tidak selalu demikian.
Paspor, laptop, kartu identitas, dan dokumen penting sebaiknya tidak dibiarkan tergeletak begitu saja di kamar hotel.
Simpan semua barang penting di brankas hotel jika tersedia.
Baca Juga: Polsek Dolok Masihul Gerak Cepat Amankan Barong
Selain itu, jangan pernah memberikan data akun ke penelepon yang mengaku staf hotel tanpa verifikasi langsung.
Ini bisa menjadi salah satu pintu masuk pencurian identitas yang paling sering diabaikan.(lin)
Editor : Redaksi