Helium-3 Bulan, Harta Karun Energi Masa Depan Bernilai Fantastis

Redaksi • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 18:00 WIB
Ilustrasi. Amerika Serikat mulai serius mengejar potensi tambang helium-3 di permukaan Bulan.(Instagram @pandemictalks)
Ilustrasi. Amerika Serikat mulai serius mengejar potensi tambang helium-3 di permukaan Bulan.(Instagram @pandemictalks)

 

sumutpos.jawapos.com – Bulan kembali menjadi pusat perhatian dunia. Bukan hanya sebagai satelit alami Bumi, tetapi juga sebagai sumber daya potensial yang disebut-sebut menyimpan “harta karun” bernilai luar biasa melalui kandungan helium-3.

Melansir Instagram @pandemictalks, Rabu (2/9/2026), Amerika Serikat mulai serius mengejar potensi tambang helium-3 di permukaan Bulan. Isotop langka ini diperkirakan memiliki nilai teoritis mencapai 20 kuadriliun dolar AS atau sekitar Rp355.120 kuadriliun jika dihitung berdasarkan estimasi harga pasar.

Perhitungan tersebut mengacu pada nilai helium-3 yang diperkirakan dapat ditambang dari permukaan Bulan. Perusahaan eksplorasi luar angkasa asal Seattle, Interlune, bahkan menargetkan dapat melakukan eksperimen penggalian paling cepat pada 2028.

Baca Juga: Kebakaran Hebat di KEK Sei Mangkei, Tiga Pekerja Tewas Terjatuh dari Ketinggian

Chief Technology Officer Interlune, Gary Lai, menyebut sekitar 1 miliar kilogram helium-3 berpotensi terdapat di lapisan tanah Bulan dengan kedalaman sekitar tiga meter. Dengan asumsi harga mencapai sekitar 20 juta dolar AS per kilogram, nilai ekonominya menjadi sangat besar.

Helium-3 merupakan isotop helium yang sangat langka di Bumi. Berbeda dengan planet kita yang memiliki atmosfer dan medan magnet sebagai pelindung dari partikel luar angkasa, permukaan Bulan terus terpapar angin Matahari selama miliaran tahun.

Paparan tersebut membuat partikel helium-3 dari angin Matahari terakumulasi di lapisan tanah Bulan. Kondisi inilah yang menjadikan Bulan dianggap sebagai lokasi potensial untuk memperoleh sumber helium-3 dalam jumlah besar.

Baca Juga: Boah Sartika Perankan ART yang Mudah Kerasukan, Pengalaman Pribadi Jadi Modal

Potensi terbesar helium-3 berada pada pemanfaatan teknologi masa depan. Isotop ini disebut dapat digunakan untuk sistem pendingin komputer kuantum, pengembangan energi fusi nuklir, hingga mendukung teknologi pencitraan medis seperti MRI.

Dalam bidang energi, helium-3 sering dikaitkan dengan konsep reaktor fusi yang lebih bersih karena berpotensi menghasilkan energi besar dengan tingkat limbah radioaktif lebih rendah dibandingkan teknologi nuklir konvensional.

Namun, perjalanan menuju eksploitasi helium-3 di Bulan masih menghadapi tantangan besar. Biaya transportasi luar angkasa, teknologi penggalian di lingkungan ekstrem, hingga proses membawa hasil tambang kembali ke Bumi menjadi hambatan yang belum sepenuhnya terpecahkan.

Baca Juga: Dua Pejabat Lapas Binjai Promosi ke Rutan di Langkat

Pada 2007, fisikawan Oxford Frank Close bahkan pernah menyebut gagasan penambangan helium-3 Bulan sebagai konsep yang terlalu sulit diwujudkan karena persoalan teknis dan keekonomian.

Kini, perkembangan industri luar angkasa komersial mulai mengubah pandangan tersebut. Kemajuan teknologi roket, investasi swasta, serta meningkatnya minat negara-negara besar terhadap ekonomi luar angkasa membuat proyek tambang Bulan kembali mendapat perhatian.

Interlune menjadi salah satu perusahaan yang mencoba membuka jalan baru. Selain memperoleh pendanaan, perusahaan tersebut juga telah mendapatkan kontrak dari NASA untuk mendukung pengembangan teknologi eksplorasi sumber daya luar angkasa.

Baca Juga: Antisipasi Erupsi Susulan Sinabung, Kodam Siagakan 1.279 Personel Gabungan

Meski masih berada pada tahap awal, helium-3 telah menjadi simbol perlombaan baru di luar angkasa. Jika teknologi dan biaya dapat diatasi, Bulan tidak hanya menjadi tempat penelitian ilmiah, tetapi juga berpotensi menjadi salah satu pusat sumber daya strategis bagi peradaban manusia.(lin)

Editor : Redaksi
Helium3 Teknologi Masa Depan Eksplorasi Luar Angkasa Energi Fusi bulan