Oleh: Dr. Siti Zahara Nasution, S.Kp., MNS & Renia Loysa Sinurat, S.Kep., Ns
(Program Studi Magister Ilmu Keperawatan, USU)
Tahukah Anda ada penyakit mata yang secara diam–diam dapat mencuri penglihatan? Disebut silent thief of sight, penyakit ini berkembang tanpa gejala awal, membuat banyak penderitanya tak sadar bahwa penglihatannya mulai menyempit hingga akhirnya berujung pada kebutaan permanen. Penyakit itu adalah glaukoma.
Apa Itu Glaukoma?
Glaukoma adalah kondisi meningkatnya tekanan bola mata yang menyebabkan kerusakan saraf optik. Tekanan normal bola mata adalah ≤20 mmHg. Bila tekanan terus berada di atas 21 mmHg, risiko glaukoma meningkat tajam.
Masalahnya, glaukoma sering tidak menimbulkan keluhan pada tahap awal. Banyak pasien baru tersadar setelah terjadi gangguan penglihatan permanen. Glaukoma dapat terjadi pada siapa saja, tetapi risikonya meningkat seiring bertambahnya usia. Jika tidak ditangani, kerusakan saraf optik dapat menyebabkan kebutaan yang bersifat irreversibel, bahkan tidak dapat diperbaiki melalui tindakan operasi.
Gejala yang Harus Diwaspadai
Meski sering tanpa tanda, beberapa gejala berikut perlu diwaspadai:
- Penyempitan lapang pandang (kehilangan penglihatan tepi/perifer)
- Mata terasa nyeri
- Sakit kepala disertai gangguan visual
- Melihat lingkaran cahaya (halo) di sekitar lampu
- Mual dan muntah, terutama pada glaukoma akut
- Jika gejala tersebut muncul, jangan menunda — segera periksakan diri ke dokter mata.
Siapa Saja yang Berisiko?
Risiko glaukoma meningkat pada kondisi berikut:
- Usia di atas 40 tahun
- Riwayat keluarga dengan glaukoma
- Tekanan bola mata tinggi
- Diabetes, hipertensi, atau migrain
- Penggunaan obat steroid jangka panjang
- Riwayat operasi atau trauma mata
- Penderita katarak
Mengapa Glaukoma Terjadi?
Glaukoma terjadi ketika cairan di dalam mata tidak mengalir dengan baik sehingga menumpuk dan meningkatkan tekanan bola mata. Pada banyak kasus, sudut antara kornea dan iris tetap terbuka, tetapi saluran cairannya tersumbat.
Sebanyak 80% kasus glaukoma tidak menunjukkan gejala, sehingga deteksi dini sangat penting. Menurut Kemenkes RI (2023), dari 39 juta kasus kebutaan di dunia, 3,2 juta di antaranya disebabkan oleh glaukoma. Prevalensinya di Indonesia mencapai 0,46%, atau sekitar 4–5 orang per 1.000 penduduk.
Bisakah Glaukoma Dicegah atau Diobati?
Glaukoma tidak dapat disembuhkan, tetapi perkembangannya dapat diperlambat dengan pengobatan seumur hidup, seperti:
- Obat tetes mata penurun tekanan
- Terapi laser
- Tindakan bedah jika diperlukan
- Kuncinya adalah konsistensi. Pengobatan yang terputus membuat kerusakan saraf optik kian cepat.
Pencegahan dan Deteksi Dini
Untuk mengurangi risiko kebutaan akibat glaukoma:
- Periksa mata minimal setahun sekali bagi usia ≥40 tahun
- Hindari penggunaan obat tetes mata steroid tanpa resep
- Kendalikan penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi
- Gunakan pelindung mata saat beraktivitas berisiko
Deteksi dini terbukti mampu menyelamatkan penglihatan dan mempertahankan kualitas hidup pasien.
Glaukoma bukanlah akhir dari segalanya.
Dengan edukasi, pemeriksaan rutin, dan pengobatan yang tepat, penderita glaukoma tetap dapat hidup aktif, produktif, dan mandiri. Kesadaran untuk memeriksa mata secara teratur adalah langkah penting untuk mencegah sang “pencuri penglihatan” merenggut jendela kehidupan kita.
Jagalah mata sebelum terlambat — karena penglihatan adalah anugerah yang tak tergantikan.(*)
Editor : Johan Panjaitan