sumutpos.jawapos.com - Bak makanan kurang garam, kalimat ini jamak terdengar. Lalu, kenapa si asin ini disebut penyebab penyakit?
Melansir Hindustan Times, Senin (12/1/2026) garam sejatinya tidak selalu berbahaya, tetapi dapat berbahaya bagi orang-orang dengan penyakit atau kondisi medis tertentu.
"Pada tubuh tertentu, garam bukanlah bumbu. Garam adalah bahan bakar bagi penyakit,” kata ahli jantung dan spesialis transplantasi jantung Dr Dmitry Yaranov.
Dengan kata lain sang dokter mengatakan garam bahaya bagi pasien gagal jantung. Karena, kelebihan natrium dapat memicu retensi cairan pada penderita gagal jantung.
Pun, memperburuk penumpukan cairan dalam tubuh dan hal ini sering menyebabkan rawat inap yang lebih sering dan, seiring waktu, dikaitkan dengan angka harapan hidup yang lebih rendah.
Garam juga bahaya pada pasien hipertensi resisten yang membutuhkan tiga hingga empat obat untuk menjaga tekanan darah tetap terkontrol, garam dapat sangat berbahaya.
“Jika tekanan darah Anda membutuhkan tiga hingga empat obat, garam bukanlah 'netral'. Ini adalah sabotase,” katanya.
Pasien penyakit ginjal kronis pin biasanya disarankan untuk mengurangi asupan garam karena dapat memperburuk kondisi mereka.
Ini karena natrium mempercepat penurunan fungsi ginjal dan membuat pengendalian volume cairan hampir tidak mungkin dilakukan.
Menurut Dr Yaranov, kelebihan garam juga dapat memperburuk pasien dengan hipertensi portal.
Yaitu, tekanan darah tinggi pada sistem vena portal yang disebabkan oleh sirosis hati, serta memperparah asites, dengan memicu retensi cairan dan meningkatkan tekanan di dalam rongga perut.
Terakhir, garam juga memperburuk keadaan lansia dengan kekakuan pembuluh darah.
Ini karena arteri yang menua kehilangan kemampuannya untuk menangani natrium secara efisien, sehingga lebih mungkin meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. (lin)
Editor : Redaksi