sumutpos.jawapos.com - Di banyak dapur Indonesia, ikan asin bukan sekadar lauk pelengkap. Ia hadir sebagai simbol kesederhanaan, dipadukan dengan nasi hangat dan sambal, menghadirkan cita rasa khas yang sulit tergantikan. Namun di balik popularitasnya, muncul kekhawatiran: benarkah ikan asin dapat memicu kanker, bahkan disebut setara dengan rokok dan daging olahan?
Isu ini mencuat di ruang digital dan memantik diskusi luas. Sejumlah klaim menyebut konsumsi ikan asin berkaitan dengan kanker, khususnya kanker nasofaring, jenis kanker yang menyerang area di belakang hidung dan atas tenggorokan.
Melansir Instagram @lambegosiip, Minggu (19/4/2026), sejumlah penelitian memang menemukan kaitan antara konsumsi ikan asin dan peningkatan risiko kanker nasofaring. Salah satu faktor utama yang disorot adalah kandungan nitrosamin, senyawa kimia yang terbentuk selama proses pengasinan dan penjemuran ikan. Senyawa ini dikenal bersifat karsinogenik atau dapat memicu kanker karena mampu merusak DNA sel.
Baca Juga: PLN UP3 Lubuk Pakam Sukses Lakukan Penyalaan 13,8 MVA untuk PT Agro Deliserdang
Dalam praktiknya, nitrosamin terbentuk ketika senyawa nitrat bereaksi selama proses pengolahan ikan, terutama saat terkena panas matahari. Kondisi ini membuat ikan asin berpotensi mengandung zat yang berbahaya jika dikonsumsi berlebihan.
Penelitian yang dirangkum dalam tinjauan sistematik dan meta-analisis menunjukkan bahwa konsumsi ikan asin lebih dari tiga kali dalam sebulan dapat meningkatkan risiko kanker nasofaring hingga sekitar 1,65 kali dibandingkan mereka yang jarang atau tidak mengonsumsinya. Bahkan, beberapa studi epidemiologis menyebut risiko tersebut bisa meningkat lebih tinggi, dengan rentang 1,7 hingga 7,5 kali pada kelompok konsumsi tertentu.
Meski demikian, para ahli menegaskan bahwa ikan asin bukan satu-satunya penyebab kanker. Penyakit ini bersifat multifaktor, dipengaruhi oleh banyak hal, mulai dari faktor genetik, lingkungan, hingga gaya hidup.
Baca Juga: Disorot Lagi Soal Kopi Sianida, Jessica Wongso Akhiri Aktivitas di Threads
Rokok dan alkohol tetap menjadi faktor risiko utama yang lebih kuat dalam berbagai jenis kanker, termasuk kanker kepala dan leher. Dengan kata lain, menyamakan ikan asin secara langsung dengan rokok atau daging olahan dalam hal risiko kanker perlu dilihat secara lebih hati-hati dan tidak disederhanakan.
Di tengah kekhawatiran tersebut, para dokter tidak serta-merta melarang konsumsi ikan asin. Yang ditekankan adalah soal frekuensi dan jumlah.
Mengonsumsi ikan asin sesekali masih dianggap aman, selama tidak berlebihan. Beberapa ahli menyarankan konsumsi dibatasi, misalnya hanya satu hingga dua kali dalam sebulan, sebagai langkah pencegahan.
Baca Juga: Rob Rendam Jalan di Bagan Kuala, Aktivitas Warga Tetap Normal
Selain itu, pola makan seimbang dengan memperbanyak buah dan sayur, terutama yang kaya vitamin C dan E dapat membantu menurunkan risiko kanker secara umum.
Narasi yang menyebut ikan asin “setara rokok” dalam menyebabkan kanker pada dasarnya merupakan penyederhanaan dari fakta ilmiah yang lebih kompleks. Memang ada hubungan antara konsumsi ikan asin dan peningkatan risiko kanker nasofaring, tetapi konteksnya sangat bergantung pada frekuensi konsumsi, metode pengolahan, dan faktor risiko lain yang menyertai.
Di titik ini, penting bagi publik untuk tidak terjebak pada sensasi, melainkan memahami informasi secara utuh. Ikan asin tetap bisa menjadi bagian dari pola makan, selama ditempatkan dalam porsi yang wajar dan seimbang.
Di media sosial, isu ini langsung memicu beragam reaksi. Sebagian netizen mengaku terkejut, bahkan khawatir karena ikan asin sudah menjadi bagian dari menu harian.
Baca Juga: Empat Rumah di Starban Medan Ludes Terbakar, Api Diduga dari Dapur Warga
“Baru tahu, padahal hampir tiap minggu makan ikan asin. Jadi agak was-was sekarang,” tulis seorang pengguna.
Namun tak sedikit pula yang menanggapi dengan santai, bahkan skeptis terhadap klaim yang beredar.
“Semua juga kalau berlebihan pasti nggak baik. Jangan ikan asin saja yang disalahkan,” komentar netizen lain.
Ada pula yang menyoroti cara penyampaian informasi yang dinilai terlalu sensasional.
“Judulnya bikin panik, padahal faktanya tidak sesederhana itu,” tulis pengguna lainnya.
Sebagian netizen mencoba mengambil jalan tengah dengan menekankan pentingnya pola hidup sehat secara keseluruhan.
Baca Juga: Kericuhan Warnai Pelantikan KA KAMMI Sumut di Kantor Gubernur, Dua Orang Terluka
“Intinya seimbang saja. Makan boleh, tapi jangan tiap hari. Sama seperti makanan lain,” ujar komentar yang cukup banyak disukai.
Perdebatan ini menunjukkan satu hal: di tengah arus informasi yang cepat, publik semakin kritis, namun juga rentan terpengaruh oleh judul yang provokatif. Pada akhirnya, kembali pada pemahaman yang utuh menjadi kunci agar tidak terjebak antara rasa takut dan kebiasaan.(lin)
Editor : Redaksi