Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Dari Cemas ke Nyeri, Jejak Emosi di Tubuh

Redaksi • Senin, 27 April 2026 | 19:36 WIB
 ilustrasi emosi memang berkaitan erat dengan respons fisik tubuh. (Freepik.com)
ilustrasi emosi memang berkaitan erat dengan respons fisik tubuh. (Freepik.com)

 

sumutpos.jawapos.com - Di tengah ritme hidup yang kian cepat, banyak orang mulai menyadari satu hal: emosi tidak hanya “terasa” di pikiran, tetapi juga di tubuh. Dada yang sesak saat cemas, tenggorokan yang tercekat ketika sedih, atau perut yang bergejolak ketika takut, semuanya menjadi pengalaman yang nyaris universal.

Fenomena ini bukan sekadar ungkapan metaforis. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa emosi memang berkaitan erat dengan respons fisik tubuh, meski konsep “emosi tersimpan di tubuh” masih menjadi perdebatan ilmiah.

Melansir Instagram @lambegosiip, Senin (27/4/2026), secara ilmiah, emosi berasal dari otak, khususnya sistem limbik yang mengatur respons emosional. Namun, dampaknya menjalar ke seluruh tubuh melalui sistem saraf. Somatic marker hypothesis menjelaskan bahwa tubuh menciptakan “penanda fisik” yang membantu seseorang mengenali emosi tertentu.

Baca Juga: Pemain Timnas Voli Putri Indonesia, Ada Megawati dan Shindy Sasqia

Artinya, ketika seseorang mengalami peristiwa emosional, tubuh ikut “mengingat” melalui sensasi tertentu, misalnya ketegangan otot atau perubahan detak jantung.

Studi lintas budaya bahkan menemukan pola yang relatif konsisten: marah sering terasa di kepala atau dada, cemas muncul di dada dan perut, sedih terasa di tenggorokan dan dada, sementara jijik berkaitan dengan mulut dan perut.

Istilah “emosi tersimpan di tubuh” kerap digunakan dalam praktik populer seperti yoga atau terapi tubuh. Namun, secara ilmiah, konsep ini tidak sepenuhnya akurat.

Para ahli menegaskan bahwa memori emosional tersimpan di otak, bukan di jaringan tubuh. Tubuh hanya menampilkan respons fisik ketika memori itu terpicu kembali.

Baca Juga: USU Bersama AIT dan Jepang Bahas Perencanaan Kota Dalam Menghadapi Risiko Banjir

Meski begitu, pengalaman subjektif banyak orang menunjukkan bahwa emosi yang tidak diproses dapat terasa seperti “mengendap”. Hal ini terjadi karena sistem saraf tetap berada dalam kondisi siaga, misalnya setelah trauma atau stres berkepanjangan.

Emosi yang ditekan atau diabaikan tidak benar-benar hilang. Ia dapat muncul dalam bentuk lain, seperti nyeri otot, gangguan pencernaan, sesak napas, hingga kelelahan kronis.

Respons ini berkaitan dengan mekanisme “fight, flight, or freeze”, reaksi alami tubuh saat menghadapi ancaman. Jika respons ini tidak selesai, tubuh bisa terus berada dalam kondisi tegang. Di sinilah muncul persepsi bahwa emosi “terperangkap” di tubuh.

Pendekatan modern dalam psikologi menyebut fenomena ini sebagai body mapping, yakni cara tubuh “memetakan” emosi melalui sensasi fisik. Ini menunjukkan bahwa pengalaman emosional bersifat menyeluruh, melibatkan otak, tubuh, dan persepsi individu secara bersamaan.

Baca Juga: Kejati Sumut Geledah Kantor Satker PKP Sumatera II, Usut Dugaan Korupsi Rusun Rp64 Miliar

Dengan kata lain, emosi bukan hanya sesuatu yang dipikirkan, tetapi juga dirasakan secara fisik.

Meski istilah “melepaskan emosi dari tubuh” lebih bersifat metaforis, ada beberapa cara yang terbukti membantu mengurangi dampak emosional, seperti memahami emosi, olahraga, teknik relaksasi, hingga terapi psikologis.

Sebagian orang bahkan mengaku mengalami pelepasan emosional saat melakukan yoga atau pijat, karena stimulasi tubuh dapat memicu kembali memori emosional.

Pembahasan soal emosi yang “tersimpan” di tubuh juga ramai diperbincangkan warganet. Di berbagai platform, banyak yang mengaitkan pengalaman pribadi mereka dengan penjelasan ilmiah ini.

Baca Juga: Dampak Galian C di Bahorok Langkat, Delapan Hektar Tanah Masyarakat Terkikis

“Pantes tiap stres pundak langsung kaku. Ternyata tubuh juga ‘nyimpen’ ya, bukan cuma pikiran.”

Komentar serupa datang dari pengguna lain,

“Kalau lagi cemas, perut langsung mules. Dulu kirain cuma sugesti, ternyata ada penjelasannya.”

Namun tidak sedikit pula yang menanggapinya dengan lebih kritis.

“Istilah ‘emosi tersimpan di tubuh’ kayaknya lebih ke bahasa populer ya. Secara medis kan tetap di otak,” tulis seorang warganet.

Sementara itu, ada juga yang mengaitkan dengan pengalaman trauma,

“Setelah kejadian buruk, badan rasanya tegang terus walau sudah lama. Mungkin ini yang dimaksud.”

Baca Juga: Zulkarnaen Gelar Rapat Lanjutan Terkait Penanganan Banjir di Jalan Letda Sudjono, Pertanyakan Kesiapan Pemko Medan

Percakapan ini menunjukkan satu hal: meski istilahnya masih diperdebatkan, banyak orang merasa terwakili oleh gagasan bahwa tubuh dan emosi tidak bisa dipisahkan.(lin)

Editor : Redaksi
#Mind Body #psikologi #Kesehatan Mental #stres #emosi