Nasional Metropolis Kesehatan Sumatera Utara Wisata & Kuliner Society Internasional Ekonomi

Diabetes Tipe 2 Kini Mengintai Usia 14 Tahun, Gaya Hidup Jadi Pemicu Utama

Redaksi • Senin, 22 Juni 2026 | 17:18 WIB
Ilustrasi, kasus Diabetes tipe 2 ditemukan pada siswa tingkat SMP. (Instagram @pandemictalks)
Ilustrasi, kasus Diabetes tipe 2 ditemukan pada siswa tingkat SMP. (Instagram @pandemictalks)

 

sumutpos.jawapos.com - Kasus Diabetes tipe 2 yang dulu identik dengan usia lanjut kini menunjukkan pergeseran yang mengkhawatirkan ke kelompok usia lebih muda, termasuk remaja. 

Di Indonesia, bahkan mulai ditemukan kasus pada siswa tingkat SMP, menandakan bahwa pola penyakit tidak lagi sepenuhnya dipengaruhi faktor usia atau keturunan, tetapi juga sangat kuat dipicu oleh perubahan gaya hidup modern.

Melansir Instagram @pandemictalks, Senin (22/6/2026), Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menegaskan bahwa fenomena ini menjadi alarm serius bagi kesehatan masyarakat. Menurutnya, peningkatan kasus diabetes pada usia muda mencerminkan perubahan besar dalam pola hidup generasi saat ini yang cenderung kurang aktif secara fisik dan lebih banyak terpapar gaya hidup sedentari.

Baca Juga: Orang Tua Ikut Wawancara Kerja Gen Z: Dukungan atau Sinyal Ketergantungan?

Rendahnya aktivitas fisik, tingginya waktu layar (screen time), kurang tidur, serta konsumsi makanan dan minuman tinggi gula dan ultra-proses menjadi kombinasi utama yang mempercepat risiko gangguan metabolik. Kondisi ini membuat diabetes pada usia muda cenderung berkembang lebih cepat dan lebih agresif dibandingkan pada orang dewasa.

Para ahli kesehatan menilai, tanpa intervensi dini, dampak jangka panjangnya dapat meningkatkan beban penyakit kronis di masa depan. Karena itu, perubahan sederhana seperti memperbaiki pola makan, memperbanyak aktivitas fisik, serta membatasi penggunaan gawai menjadi langkah penting untuk menekan laju kasus diabetes di kalangan generasi muda.

Fenomena meningkatnya kasus Diabetes tipe 2 di kalangan usia muda turut memicu berbagai tanggapan dari warganet. Banyak di antaranya disampaikan dalam bentuk komentar yang menggambarkan keresahan terhadap perubahan gaya hidup generasi saat ini.

Baca Juga: Terima Suap Proyek Kereta Api, Hakim Perberat Vonis PPK BTP Medan 7,5 Tahun Penjara

Seorang pengguna media sosial menuliskan, “Anak sekarang itu lebih sering duduk main HP daripada bergerak. Jalan kaki sedikit saja sudah terasa capek,” yang menggambarkan kekhawatiran terhadap minimnya aktivitas fisik di kalangan remaja.

Komentar lain menyoroti kebiasaan konsumsi gula yang semakin tinggi. “Minuman manis itu sudah seperti kebutuhan harian. Padahal kita sering tidak sadar kalau gula berlebih itu dampaknya serius,” tulis seorang netizen dalam unggahannya.

Ada juga yang menilai bahwa perubahan ini tidak lepas dari lingkungan sekitar. “Bukan cuma anaknya, tapi pola makan di rumah juga ikut membentuk. Kalau dari kecil sudah terbiasa manis-manis, ya terbawa sampai besar,” ujar akun lainnya.

Baca Juga: AKDA Kirim Surat ke DPRD Sumut, Desak RDP Segera Digelar Demi Penyelesaian Polemik di UDA Medan

Sementara itu, sebagian warganet menekankan pentingnya edukasi sejak dini. “Sekolah harusnya lebih aktif mengajak siswa bergerak. Jangan hanya duduk belajar terus, tubuh juga butuh aktivitas,” komentar seorang pengguna.

Di sisi lain, ada pula yang melihat fenomena ini sebagai dampak gaya hidup modern secara keseluruhan. “Ini bukan sekadar soal malas gerak, tapi memang dunia sekarang membuat semua serba instan dan minim aktivitas,” tulis netizen lainnya.(lin)

Editor : Redaksi
#Kesehatan Remaja #Aktif Bergerak #Gaya Hidup Sehat #diabetes #kurangi gula