sumutpos.jawapos.com - Kembali ke alam, menikmati pemandangan serta segarnya udara, kini menjadi pilihan tepat di sela kehidupan yang padat. Istilah keren untuk hak itu adalah forest bathing.
Ya, forest bathing atau terapi hutan kini mulai dikenal sebagai cara untuk meredakan stres sekaligus menjaga kesehatan tubuh.
Melansir Stanford Lifestyle Medicine, Rabu (5/8/2026), forest bathing adalah aktivitas berjalan santai di area hijau sambil fokus pada pengalaman yang dirasakan.
Berbeda dengan hiking atau olahraga, tujuan utamanya bukan jarak atau kecepatan, melainkan kesadaran penuh (mindfulness).
Baca Juga: Bcrobes Dorong Riset Kesehatan Berbasis Mikrobioma, Ungkap Potensi Probiotik sebagai Terapi Pendampi
Konsep ini sejatinya berasal dari Jepang dengan istilah shinrin-yoku, yang secara harfiah berarti 'mandi hutan'.
Artinya, membenamkan diri dalam suasana hutan dengan melibatkan seluruh indera. Mulai dari melihat, mendengar, mencium, hingga merasakan lingkungan sekitar.
Kegiatan ini berakar dari filosofi Jepang seperti yugen (kesadaran akan keindahan), komorebi (cahaya matahari di sela daun), dan wabi-sabi (keindahan dalam ketidaksempurnaan).
Baca Juga: SMK NU Banat Kudus Tampil Memukau di Indonesia Fashion Week 2026 Lewat Koleksi Wastra Nias
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa terapi hutan berpotensi memberi dampak positif, terutama untuk kesehatan mental.
Meski efek terbaik didapat di hutan alami, bukan berarti forest bathing hanya bisa dilakukan di tempat terpencil.
Bagi masyarakat perkotaan, ada beberapa alternatif untuk melakukan aktivitas ini, seperti di taman kota, ruang terbuka hijau, kebun atau halaman rumah, hingga ruangan dengan tanaman.
Meski menjanjikan, para ahli menekankan bahwa forest bathing bukan pengganti pengobatan medis. Penelitian terkait manfaat fisiknya pun masih terus berkembang.
Baca Juga: LBH Medan Nilai Kematian WLG Janggal, Ini Temuannya
Berikut beberapa manfaat dari terapi hutan atau forest bathing:
1. Menurunkan stres dan kecemasan
Forest bathing diketahui dapat membantu menurunkan kadar kortisol atau hormon stres. Sensasi tenang dari alam membantu otak keluar dari pola overthinking dan kecemasan.
2. Meningkatkan suasana hati
Paparan lingkungan yang hijau dapat membantu meredakan gejala depresi ringan. Aktivitas ini memberi efek relaksasi yang membuat suasana hati lebih stabil.
3. Mendukung sistem imun
Sebuah penelitian tahun 2010 menemukan bahwa orang yang berjalan di hutan dua kali sehari selama dua jam memiliki kadar protein pembunuh kanker dan sel imun yang lebih tinggi.
4. Membantu fungsi otak
Udara yang lebih segar dan kaya oksigen di area hutan dapat membantu meningkatkan konsentrasi dan kejernihan berpikir.
5. Menurunkan tekanan darah
Penelitian tahun 2011 menemukan bahwa terapi hutan bermanfaat bagi tekanan darah dan adiponektin, protein yang membantu mengatur kadar gula darah.(lin)