Tren Hidup Sehat Makin Kuat, Industri Alkohol Mulai Kehilangan Peminum Muda

Redaksi • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 20:02 WIB
Ilustrasi. Perubahan gaya hidup ikut mengubah peta industri minuman beralkohol dunia.(Instagram @pandemictalks)
Ilustrasi. Perubahan gaya hidup ikut mengubah peta industri minuman beralkohol dunia.(Instagram @pandemictalks)

sumutpos.jawapos.com - Dulu, akhir pekan identik dengan pesta, nongkrong hingga larut malam, atau menikmati minuman beralkohol bersama teman. Kini, sebagian generasi muda justru memilih menghabiskan waktu dengan berlari, pergi ke gym, mengikuti kelas pilates, bermain padel, atau sekadar menjaga pola tidur dan asupan makanan.

Perubahan gaya hidup itu perlahan ikut mengubah peta industri minuman beralkohol dunia.

Kesadaran terhadap kesehatan membuat konsep wellness semakin melekat dalam kehidupan generasi muda. Alkohol yang sebelumnya dianggap sebagai bagian dari kehidupan sosial mulai dipertimbangkan kembali karena kandungan kalori, dampaknya terhadap tidur, kebugaran, hingga kondisi tubuh setelah mengonsumsinya.

Namun, menyebut Gen Z sebagai satu-satunya penyebab industri alkohol mengalami tekanan juga terlalu sederhana. Melsnsir Instagram @pandemictalks, Kamis (3/9/2026), data terbaru IWSR menunjukkan hubungan generasi muda dengan alkohol sebenarnya cukup kompleks. Pada Maret 2025, sebanyak 73 persen konsumen Gen Z usia legal minum di 15 pasar yang disurvei mengaku mengonsumsi alkohol dalam enam bulan terakhir. Angka itu meningkat dari 66 persen pada Maret 2023. 

Artinya, Gen Z bukan berarti sepenuhnya meninggalkan alkohol. Yang berubah adalah cara mereka mengonsumsinya.

IWSR mencatat tren moderasi tetap menjadi faktor penting. Konsumen semakin sering mengurangi jumlah atau frekuensi minum, sementara sebagian lainnya memilih periode tertentu untuk tidak mengonsumsi alkohol sama sekali. Pada kelompok konsumen Gen Z yang membeli produk tanpa atau rendah alkohol, 75 persen mengaku melakukan moderasi konsumsi alkohol dalam enam bulan terakhir.

Perubahan tersebut terlihat semakin jelas pada pertumbuhan minuman no-alcohol dan low-alcohol. IWSR mencatat volume kategori no/low alcohol di 10 pasar utama dunia tumbuh 13 persen sepanjang 2024. Bahkan, produk tanpa alkohol diproyeksikan kembali tumbuh 9 persen pada 2025, sementara volumenya diperkirakan meningkat 36 persen hingga 2029.

Fenomena ini memberikan gambaran menarik: konsumen tidak selalu ingin kehilangan pengalaman sosial dari minum bersama, tetapi mereka semakin selektif terhadap apa yang masuk ke tubuh.

Di sisi lain, perusahaan-perusahaan besar industri alkohol memang menghadapi tekanan. Terbaru, produsen Jack Daniel's, Brown-Forman, melaporkan penjualan kuartalannya turun 1 persen menjadi US$911 juta. Perusahaan menyebut permintaan alkohol masih lemah di sejumlah pasar maju, dengan perubahan perilaku konsumen, perhatian terhadap asupan kalori, dan meningkatnya penggunaan obat penurun berat badan menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi permintaan. 

Raksasa minuman seperti Diageo juga tengah melakukan restrukturisasi besar-besaran. Perusahaan tersebut menyiapkan program penghematan biaya hingga US$1 miliar di tengah tekanan pertumbuhan, terutama di pasar Amerika Utara. 

Namun, industri alkohol tidak tinggal diam. Alih-alih mempertahankan pola konsumsi lama, produsen mulai mencari jalan untuk mengikuti perubahan selera. Minuman siap minum atau ready-to-drink (RTD), termasuk koktail dalam kemasan kaleng, menjadi salah satu kategori yang mendapatkan perhatian.

Produk semacam ini menawarkan pengalaman sosial yang lebih praktis, rasa yang beragam, dan porsi yang lebih mudah dikendalikan. Di Amerika Serikat, penjualan RTD bahkan berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. 

Bagi industri alkohol, tantangannya kini bukan sekadar bagaimana menjual lebih banyak minuman. Pertanyaannya berubah menjadi bagaimana tetap relevan ketika konsumen semakin memperhatikan kesehatan.

Di media sosial, perubahan tersebut juga kerap memunculkan percakapan yang kontras. Ada netizen yang menganggap mengurangi alkohol sebagai bagian dari investasi kesehatan jangka panjang. Mereka lebih bangga membagikan pencapaian lari, jumlah langkah harian, latihan di gym, atau keberhasilan menjaga pola tidur dibandingkan pesta semalam suntuk.

Sebaliknya, ada pula yang menilai tren hidup sehat tidak harus berarti berhenti menikmati alkohol. Bagi kelompok ini, kuncinya adalah keseimbangan dan kemampuan mengontrol konsumsi.

Perdebatan tersebut justru menunjukkan bahwa masa depan industri alkohol kemungkinan bukan tentang dunia yang sepenuhnya berhenti minum. Konsumen masih minum, tetapi semakin banyak yang ingin memiliki kendali atas kapan, berapa banyak, dan jenis minuman yang mereka konsumsi.

Karena itu, perubahan terbesar mungkin bukan hilangnya alkohol dari meja makan, melainkan bergesernya posisi alkohol dalam gaya hidup.

Dari sesuatu yang dahulu dianggap sebagai bagian hampir otomatis dari pergaulan, alkohol kini harus bersaing dengan tidur berkualitas, olahraga, nutrisi, kesehatan mental, hingga target kebugaran.

Dan bagi industri minuman, perubahan kecil dalam kebiasaan sehari-hari itu bisa menjadi perubahan besar dalam nilai bisnis.(lin)

Editor : Redaksi
wellness hidup sehat Gaya Hidup Sehat Gen Z alkohol