dr Gia Pratama: Kesehatan dan Tubuh adalah Aset Masa Depan

Juli Rambe • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 06:00 WIB
Dokter sekaligus Penulis terkenal, dr Gia Pratama. (Dok: Dewi Syahruni Lubis/Sumut Pos)
Dokter sekaligus Penulis terkenal, dr Gia Pratama. (Dok: Dewi Syahruni Lubis/Sumut Pos)

 

MEDAN, SUMUT POS- Seorang dokter dan penulis terkenal, dr Gia Pratama mengisahkan pamdangannya tentang kehidupan. Karena, profesinya membuat dia harus berhadapan dengan darah dan air mata.

dr Gia dikenal sebagai edukator kesehatan, dan public speaker yang dikenal melalui gaya story tellingnya yang hangat dan mudah dipahami. Biasanya, dia menceritakan berbagai pengalaman dan pengetahuan medisnya kepada masyarakat melalui media sosial, buku, dan berbagai platform publik.

dr Gia Pratama yang merupakan lulusan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas YARSI ini, di sela-sela kesibukannya sebagai dokter IGD, juga telah menerbitkan berbagai buku berjudul BerhentiDiKamu, Perikardia, Tentang Tubuhmu, dan Cinta 31.000 Kaki.

Baca Juga: Siswi SD Ash-Sholihah Borong Tiga Emas di Kejuaraan Isori Fun Swimming

Dalam karyanya itu, melalui perpaduan antara pengalaman medis dan kemampuan bercerita, dr Gia menghadirkan perspektif yang humanis tentang kesehatan, kehidupan, dan kemanusiaan.

"Nama Gia itu diberikan ayah saya sebagai pilot Garuda Indonesia. Ayah saya itu pecinta kerja, sehingga nggak punya ide memberi nama saya, sehingga diberikanlah GIA (Garuda Indonesia Airways)," tuturnya sambil tertawa.

Terkaif makna hidup yang kaya. Menurut dr Gia, hidup kaya itu jika sudah punya cukup KWK, yaitu kesehatan, waktu dan ketenangan untuk menikmati apapun yang diusahakan. 

"Itu kaya buatku, kekayaan uang itu penting untuk memiliki apapun yang kita inginkan, tetapi kesehatan juga penting untuk menikmati semua itu. Lalu hubungan dengan orang-orang yang kita cintai, itupun harus diinvestasikan juga," bebernya.

dr Gia menegaskan, bahwa kehidupan ini sudah penuh dengan tuntutan, sehingga badan ini sering memberikan peringatan (warning). 

"Jadi kita perlu mendengarkannya serta istirahat yang cukup, minimal 7 jam sehari, nutrisi yang cukup dan olah raga rutin," tegasnya.

Disinggung mengenai suka dan duka selama menjalani profesi dokter, dr Gia mengungkapkan, dirinya yang selalu berhadapan dengan darah dan air mata, maka kerap berpacu dengan waktu dan Malaikat Izrail.

"Di saat menangani pasien yang baru meninggal, kita harus berhadapan lagi dengan pasien berikutnya. Di situ beban mental pasti ada, tetapi harus dijalani secara profesional. Bahkan saya pernah menghadapi delapan pasien meninggal dalam sehari, pada masa Covid-19. Di sini kita dituntup tetap tenang dan adem, agar dapat memberikan pengertian yang baik kepada keluarga pasien. Kita harus menjadi sumber ketenangan bagi pasien dan keluarganya," pungkasnya. (dwi/ram)

Editor : Juli Rambe
gia pratama dokter dan penulis kesehatan adalah aset makna kaya