sumutpos.jawapos.com - Selama ini asap karhutla atau kebakaran hutan dan lahan kerap dikaitkan dengan gangguan saluran pernapasan, terutama Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Namun, dampak asap karhutla terhadap kesehatan nyatanya tidak berhenti pada organ pernapasan saja.
Melansir LiveScience, Kamis (8/10/2026), sejumlah risiko kesehatan bisa muncu akibat paparan asap karhutla.
Berikut beberapa risiko penyakit yang dimaksud:
1. Iritasi dan sakit kepala
Risiko yang langsung terjadi akibat paparan asap adalah mata perih atau iritasi, hidung berair, sakit tenggorokan, meningkatnya produksi dahak, hingga iritasi kulit.
Baca Juga: Rocky Gerung Ungkap Alasan Masuk Lingkaran Istana
Sakit kepala juga dapat muncul sebagai salah satu gejala paparan asap karhutla.
2. Gangguan pernapasan
Partikel sangat kecil dalam asap dapat masuk jauh ke paru-paru dan memicu iritasi serta peradangan.
Kemenkes menyebut paparan asap dapat menyebabkan ISPA, batuk, sesak napas, radang tenggorokan, asma, hingga memperparah penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).
Baca Juga: Kemenko Infra Tinjau Huntap Aceh Tamiang, 169 Unit Dibangun di Lubuk Siduk
Selain itu, mengi atau napas berbunyi dan sesak sering kali disertai penderitanya.
3. Meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke
Dampak asap karhutla tak hanya memicu penyakit saluran pernapasan, tapi juga dapat mencapai sistem kardiovaskular.
Tinjauan yang dipublikasikan dalam laman NCBI menunjukkan paparan asap karhutla berkaitan dengan peningkatan berbagai masalah kardiovaskular.
Baca Juga: BPSDM Sumut Gelar Studi Lapangan PKA Angkatan III 2026 ke DKI Jakarta
Ini meliputi serangan jantung akut, henti jantung, gagal jantung, kunjungan gawat darurat, rawat inap, hingga kematian akibat penyakit kardiovaskular.
4. Meningkatkan risiko kelahiran prematur
Studi UC Irvine yang dipublikasikan dalam Environmental Protection Agency menganalisis lebih dari 627.000 kelahiran di California.
Ditemukan paparan polusi udara akibat karhutla selama kehamilan berkaitan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur (preterm birth) dan pecah ketuban dini sebelum persalinan (Preterm Premature Rupture of Membranes/PPROM).
Baca Juga: Aris Rinaldi Nasution Kembali Terpilih sebagai Ketua Forwakum Sumut Tiga Periode
5. Meningkatkan risiko demensia
Dampak paparan asap juga dapat memberikan efek kesehatan jangka panjang.
Paparan berulang dapat memengaruhi kesehatan otak dan telah dikaitkan dengan peningkatan risiko demensia.
Penelitian yang dipublikasikan di NCBI juga menyebut paparan jangka panjang terhadap PM2.5 sebagai faktor risiko demensia, kendati dampak spesifik PM2.5 yang berasal dari karhutla masih terus diteliti.(lin)
Editor : Redaksi