sumutpos.jawapos.com – Kebiasaan tidur hanya empat hingga lima jam setiap malam perlu diwaspadai. Selain membuat tubuh mudah lelah, kurang tidur dapat mengganggu konsentrasi, daya ingat, dan suasana hati. Jika berlangsung terus-menerus, kebiasaan ini juga berpotensi berdampak terhadap kesehatan dalam jangka panjang.
Melansir Instagram @ pandemictalks, Minggu (11/10/2026), dr. Yohana S Merrynda, MARS, AlFO-K, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap orang-orang yang terbiasa membatasi waktu tidur malam. Menurutnya, tidur yang cukup merupakan bagian penting dalam menjaga fungsi tubuh dan kemampuan seseorang menjalani aktivitas sehari-hari.
Kurang tidur tidak hanya berdampak pada kondisi fisik, tetapi juga dapat memengaruhi kemampuan berpikir dan mengelola emosi. Akibatnya, seseorang bisa mengalami kesulitan berkonsentrasi, lebih mudah lupa, serta mengalami perubahan suasana hati.
Baca Juga: Studi Ungkap, Pria Tak Hanya Cari Pasangan Berpenampilan Menarik
Selain itu, kurang tidur juga berkaitan dengan perubahan pola makan. Kondisi ini dapat meningkatkan rasa lapar, keinginan untuk makan, jumlah asupan energi, hingga ukuran porsi makanan yang dikonsumsi.
Dampaknya, seseorang berpotensi lebih sulit mengendalikan pola makan. Keinginan untuk mengonsumsi makanan dalam jumlah lebih banyak dapat menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi mereka yang memiliki kebiasaan tidur tidak teratur.
Karena itu, menjaga durasi tidur menjadi salah satu langkah penting untuk mendukung kesehatan secara menyeluruh. Kebiasaan mengurangi waktu tidur demi pekerjaan atau aktivitas lain sebaiknya tidak dianggap sebagai sesuatu yang wajar jika dilakukan terus-menerus.
Perhatian khusus juga perlu diberikan kepada pekerja yang menjalani sistem shift malam. Perubahan jadwal kerja dapat membuat waktu tidur menjadi tidak teratur karena mereka harus beristirahat ketika sebagian besar orang beraktivitas.
Baca Juga: Tren Pocketless, Gaya Minimalis Anak Muda yang Mengubah Kebiasaan Membawa Dompet
Melalui akun Threads yang terhubung dengan Instagram @dr.yohanaonimerrynda, Yohana menyarankan agar pekerja shift tetap memprioritaskan tidur dan memastikan total waktu istirahatnya mencukupi.
Jika diperlukan, pekerja dapat memanfaatkan tidur singkat atau planned nap yang direncanakan untuk membantu mengurangi rasa kantuk. Namun, tidur singkat tersebut sebaiknya menjadi pelengkap, bukan pengganti kebutuhan tidur yang cukup.
Lingkungan tempat beristirahat juga perlu diperhatikan. Pekerja shift malam disarankan menciptakan suasana tidur yang gelap, sejuk, dan tenang agar lebih mudah beristirahat meskipun harus tidur pada siang hari.
Penggunaan kafein juga perlu dikendalikan. Meski dapat membantu meningkatkan kewaspadaan untuk sementara waktu, kafein tidak dapat menggantikan manfaat tidur yang cukup bagi tubuh.
Konsumsi kafein terlalu dekat dengan waktu tidur bahkan dapat membuat seseorang lebih sulit terlelap sehingga waktu istirahat semakin berkurang.
Pada akhirnya, tidur bukan sekadar jeda setelah menjalani aktivitas, melainkan kebutuhan dasar yang berperan dalam menjaga konsentrasi, kestabilan emosi, dan kesehatan tubuh.
Masyarakat, terutama mereka yang memiliki jam kerja tidak menentu, perlu lebih memperhatikan kualitas dan durasi tidur. Membiasakan pola tidur yang teratur serta menyediakan waktu istirahat yang memadai menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan dalam jangka panjang.(lin)Teksfoto:
Editor : Redaksi